oleh

Tanisem, Nenek Tua Renta Hidup Sebatang Kara di Indramayu Butuh Bantuan Dermawan

-Sosial-1.008 views

Tanganrakyat.id – Indramayu – Nenek tua renta Tanisem (60) begitu warga memanggilnya, nenek tua ini tinggal seorang diri di sebuah gubuk yang sangat tidak layak dan hampir roboh, tinggal di Desa Langut Blok Brak RT/RW 015/003 Kecamatan Lohbener Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Gubuk berukuran kurang lebih 2,5 m persegi, dengan tempat tidur, dapur yang menyatu, tempat tinggal nenek Tanisem jauh dari kata layak huni dan akan miris setiap orang melihat ini juga merupakan bukti bahwa sikap sosial dan kemanusiaan sudah memudar di lingkungan kita.

Tanisem bercerita kepada tanganrakyat.id bahwa jika hujan tiba maka atap rumahnya bocor, dan jika cuaca panas maka terik matahari masuk ke dalam ruanga. Ia juga memperlihatkan peralatan dapurnya yang sudah tua dan tak layak pakai.

Tanisem berharap kepada pemerintah desa, kabupaten, provinsi maupun pusat agar rumahnya bisa di benahi, karena selama ini baik dari pemdes dan pemkab belum ada satupun yang datang dan melihat, “Pernah juga ada yang foto rumah nya oleh RT setempat namun sampai sekarang belum juga terealisasi, “Pintanya

Untuk kebutuhan hidup, nenek Tanisem biasa menjual hasil rongsokan yang dikumpulkan dari sekitar kebun milik warga elanjutnya dijual dengan hasil Rp. 3/5 ribu, kalau untuk makan, nenek akan masak jika masih ada beras dari hasil penjualan barang Rongsokan yang dikumpulkannya”, ujar nenek Tanisem.

Beruntung tempat tinggalnya berdekatan dengan rumah keponakan yang bernama Darmo, sehingga meskipun sedikit, Darmo kerap membantu kehidupan Tanisem.

Menurut Darmo, Bibinya itu tinggal disana sejak tahun 2010. Tanisem membangun gubuk itu ketika suaminya masih hidup.” Kata Darmo Jumat, (14/09/2018).

Darmo juga mengatakan, meski sudah 8 tahun hidup di rumah tidak layak huni, Nenek Tanisem sampai kini belum mendapat bantuan rumah tidak layak huni (RUTILAHU).

“Dari dulu belum pernah sekalipun mendapat bantuan RUTILAHU, saya sendiri tidak tahu apa alasannya.”ujar Darmo.

Di temui di tempat terpisah, Agus ketua RT 015 mengaku tidak tahu menahu soal program RUTILAHU pada tahun sebelumnya karena ia baru saja menjabat.

“Kalo untuk program RUTILAHU sebelumnya saya tidak tahu apa-apa. Tapi untuk kedepannya, jika ada program RUTILAHU lagi, saya pasti akan mengajukam nenek Tanisem.” Tandasnya.

Sedangkan mantan ketua RT 015, Sarja menjelaskan bahwa ketika dirinya menjabat sebagai ketua RT sudah 2 kali mengajukan Tanisem agar mendapat bantuan RUTILAHU, namun hingga kini belum terealisasi.

“Dulu saya pernah mengajukan Ibu Tanisem agar mendapat bantuan Rutilahu, akan tetapi tidak kunjung terealisasi sampai program rutilahu diadakan lagi, saya kembali mengajukan nama Tanisem namun ditolak pihak desa dengan alasan nama Tanisem sudah pernah diajukan, takutnya jika diajukan lagi, Tanisem mendapat double bantuan.” Jelasnya.

Sementara itu saat ditemui dikediamannya Jumat,(14/09/2018) H. Juju kuwu desa Langut justru menyalahkan keluarga Tanisem yang ia anggap tega membiarkan Tanisem hidup dalam kondisi seperti itu. Bahkan menurutnya hal tersebut bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja tapi masyarakat luas.

“Tiap hari saya kasih belanja, kenapa saudaranya tega melihat Tanisem seperti itu. Sebenarnya ini hal biasa dan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi kenapa selalu pihak desa yang disalahkan. Kalau mau, mari bersama-sama bantu ibu Tani.”Tuturnya.

H. Juju juga berjanji akan segera membangun rumah Tanisem. “Rencananya saya akan bangun rumahnya dari dana desa serta dana pribadi saya.” Janji Juju.

Namun sangat disayangkan, salah seorang kerabat H. Juju yang tidak diketahui namanya ketika itu ada di tempat wawancara mengatakan “Jika rumahnya dibangun, Tanisem harus janji untuk berhenti mengemis.” Ucapnya.

Rencana nanti akan saya bangun rumahnya dari rutilahu dari desa (APBD) dan dari dana saya pribadi.

Sebenarnya ini hal biasa, ini bukan tanggung jawab pemerintah, selalu yang di salahkan desa, saudara lainnya kenapa tega lihat kondisi ibu tani seperti itu, kalau mau mari bareng2 bantu ibu tani

Saat team tanganrakyat.id – mengunjungi rumah Tanisem dipersilahkan masuk kedalam gubuk itu maka guratan kepedihan dan keikhlasan hidup tergambar jelas dalam setiap pekakas rumah yang apa adanya. Tempat tidur dan dapur menyatu dengan seluruh isi rumah yang jauh dikatakan layak huni untuk nenek tua renta ini, tapi mungkin inilah harta benda satu satunya peninggalan suami tercinta nenek Tanisem.

“Nenek “Tanisem bercerita, jika hujan terkadang atap ada yang bocor dan jika panas terik menerpa harus duduk di luar sendirian. Si nenek juga memperlihatkan perlatan dapurnya yang sudah tua dan rusak yang harus tetap dipergunakannya.

“Joni tetangga Tanisem membenarkan kondisi nenek usia (60) tahun itu yang tinggal di gubuk reot di desanya,” Nenek tanisem hidup seorang diri setelah ditinggal suaminya mereka memang dari kalangan kurang mampu yang ada didesa ini bahkan saya sudah coba menyampaikam kepada ketua RT bahwa rumah milik Tanisem tidak layak huni, namun ketua RT hanya menjawab Insya Allah. Dan hingga kini Tanisem tetap belum mendapat bantuan dari pemerintah,”ujarnya.

Kondisi nenek ini memang cukup memprihatinkan dan sangat butuh bantuan dari para dermawan, ” kami berharap pemerintah daerah juga dapat membantu kondisi nenek tanisem dengan membedah rumah nenek tersebut hingga layak huni”, pungkasnya. (Niken Rimala)

Komentar

News Feed