Atlit Bulutangkis Berprestasi Kurang Perhatian Dari Pemda. Indramayu

  • Bagikan
Bupati Anna Sophanah saat melepas atlit Porda Bogor

 

Tanganrakyat.id – Indramayu – Ditengah meriahnya perhelatan Pekan Olahraga Nasioanal (PON), Persoalan nasib atlit di Indramayu nyatanya tidak begitu diperhatikan oleh Pemerintah Daerah Indramayu, meskipun atlit tersebut sarat akan banyak prestasi yang ditorehkanya, baik itu regional, nasional maupun Internasinal,

Perihal tersebut disampaikan oleh Salah satu atlit cabang olahraga bulutangkis, Ivan Adiatama,

“Prestasi dari tingkat Kabupaten sampai Internasional,” bebernya,

Lanjut dia menuturkan, sudah banyak even yang diikuti olehnya, sehingga ia harus keliling daerah di Indonesia,

“Bali, Banjarmasin, Surabaya, Jakarta, Bandung,” ucapnya,

Diungkapkan juga olehnya, banyak dari Daerah Indramayu yang berprestasi, namun sangat disayangkan jika asli orang Indramayu menjadi atlit dan berprestasi, kebanyakan pada pergi keluar kota atau daerah lain semua,

“Kemarin, ada Orang asli Indramayu diambil sama orang Banten, temen saya sendiri atlit Voly, atlit angkat Besi di ambil Serang,”

Imbuhnya menuturkan, banyaknya atlit yang berprestasi namun tidak menetap di Indramayu di karenakan kurangnya Fasilitas dan perhatian dari pemerintah Indramayu,

Dikatakan olehnya, perhatian pemerintah Indramayu terhadap nasib para atlit sangat kurang sekali, bahkan belum ada sama sekali. Banyak para atlit berasalan bahwa kalau punya prestasi dan menetap di Indramayu itu tidak bakalan maju. Sehingga, tak aneh dalam setiap mengikuti turnamen ia selalu menggunakan uang pribadi,

“Uang pembinaan bagi atlit berprestasi belum ada,” ucapnya,

Dia juga mengharapkan, pemerintah Indramayu diharapkan mampu memperhatikan nasib para atlit berprestasi di Indramayu, sehingga keringat yang dikeluarkan oleh para atlit tidak sia-sia,

Sementara itu, Sutiono ketua Klub Garuda Tangkas Indramayu, pihaknya sangat terpukul melihat kondisi para atlit yang berprestasi di Indramayu, namun nasibnya tidak diperhatikan betul oleh pemerintah daerah. Termasuk anak didiknya tersebut (Ivan,red),

“Lulusan GTI banyak ke pusdilkat Candrawijaya, eksis, dll,” paparnya

Imbuhnya juga, Usia emas untuk melatih Atlit ialah pada usia 7-8 Tahun atau setara kelas dua Sekolah Dasar (SD),

Di tuturkan olehnya, setiap ada perhelatan turnamen, ia mendapatkan infonya melalui sesama klub bulutangkis yang ada di Indramayu, sehingga melihat kondisi seperti ini, baginya kehadiran PBSI Indramayu tidak bisa diandalkan,

Sementara itu anggota Fraksi PKB DPRD Indramayu, Moh. Solihin secara spontan menyambangi kediaman atlit (Ivan,red), ia tidak habis pikir, kenapa pemerintah daerah begitu saja mensia-siakan atlit berprestasi. Sementara anggaran dalam APBD Indramayu, tercatat Sebesar 4 milyar untuk koni Indramayu,

“Persolan olahraga adalah sub kecil dari persoalan yang ada di Indramayu,”

Lanjutnya menuturkan, ia juga mempertanyakan mengenai tidak adanya tunjangan pembinaan bagi atlit berprestasi, hal itu akan menjadi catatan serius baginya untuk membongkar siapa dalang dibalik persoalan tersebut,

“Persoalan atlit adalah persoalan nama dan kualitas daerah,” ujarnya (KkP/KSpd)

  • Bagikan

Comment