oleh

O’ushj Dialambaqa Direktur PKSPD: Himbauan Plt. Bupati Yang Keblinger

-Daerah, Opini-332 views

Tanganrakyat.id, Indramayu-Direktur PKSPD (Pusat Kajian Strategis Pembangunan Daerah) O’ushj Dialambaqa  terkait Himbauan Plt. Bupati Indramayu Taufik Hidayat yang juga sebagai Ketua Gugus Percepatan Covid-19 Kabupaten Indramayu, mengatakan “ya itu cuma himbauan. Saya sepakat untuk menghimbau taubatan nasuha sehingga korupsi di Indramayu tidak merajalela lagi.

Himbauan kebaikan itu bagus tapi ada tetapinya, agar himbauan itu bisa berwibawa atau diikuti oleh umat, maka para pemimpin atau Plt. Bupati jangan hanya bisa menghimbau saja, nanti ditelanjangi sejarah karena waktu yang akan bicara. Jadi ucapan dan prilaku dan perbuatannya yang kata orang Indramayu akan dilihat dari laku lampahnya. Jika bagaikan langit dengan bumi, maka himbauan kebaikan pun akan berumah di atas angin,” ujar O’ushj Dialambaqa,  Jum’at (10/4/2020).

Direktur PKSPD (Pusat Kajian Strategis Pembangunan Daerah) Kabupaten Indramayu, O’ushj Dialambaqa / Pak Oo (Foto.Red)

Masih menurut O’ushj Dialambaqa, Plt. Bupati menerbitkan himbauan seperti itu, seolah-olah amat peduli dengan wabah covid-19, seolah-olah punya empati luar biasa, padahal menjadi paradoksal dengan realitas sebagai fakta konkret. Plt. Bupati lebih sibuk dan lebih mementingkan kepentingan politiknya sendiri untuk mendapatkan rekom menjadi calon bupati 2020 sehingga sibuk memikirkan dirinya untuk menaikkan popularitas dan elektabilitas dengan wajah terpampang dengan kata-kata: “Maju Membangun Bersama Rakyat”. Kang Taufik – H. TAUFIK HIDAYAT, SH dengan logo Golkar 46.

Tak bisa terbantahkan itu semua kampanye terselubung petahana di tengah masyarakat bangsa dan negara sedang dalam bencana nasional, darurat nasional kesehatan masyarakat, yang sangat pedih dan perih, yang kata Menkeu Sri Mulyani jika keadaan ini berlarut-larut tanpa kepastian maka pertumbuhan ekonomi kita bisa jatuh ke minus 4.

Dalam La Paste novel Albert Camus itu bisa dikategorikan sebagai orang yang tak bermoral atau tak beradab atau kematian nurani. Ending novel Albert Camus itu adalah berkisah negeri yang cantik kemudian hancur binasa oleh wabah penyakit yang tak bisa disembuhkan, penduduknya habis binasa kecuali yang masih hidup adalah beberapa orang saja yang masih punya moral yang kemudian kembali membangun negeri itu dari keruntuhan moral dan prilaku dengan beberapa orang yang bermoral yang tersisa masih hidup setelah bencana negeri berakhir. Kisah dalam novel itu semoga menjadi pelajaran dan ingatan kita semua, sekalipun itu hanya sebuah novel sastra.

Hadist yang dinukil oleh Plt. Bupati tentang malam Nisfu Sya’ban sepanjang sejarahnya penuh debatible termasuk nama-nama bulan yang diklaim Islami padahal nama-nama bulan itu sudah ada sejak sebelum Islam yang waktu itu belum menganut tahun, sehingga penangalannya ada dan bulannya ada tetapi pencantuman tahun tidak tetap, ada yang pakai tahun gajah dan lainnya yang umumnya menggunakan prestiwa besar yang terjadi saat itu dikultur Arab. Tahun Hijriyah (peristiwa hijrah Rosul) ditentukan belakangan setelah wafatnya Rosulullah dengan menghitung mundur dari tahun Masehi. Untuk salah satu referensi debatible soal Malam Nisfu Sya’ban ada baiknya kita bisa punya waktu luang untuk membaca bukunya ‘Aqil bin Muhammad bin Zaid Al Maqthiri al Yamani dalam Studi Kritis Terhadap Peringatan Malam Nishfu Sya’ban.

Tapi okelah itu kita anggap saja benar dan shohek. Problemanya adalah para pemimpin kita tanpa kecuali adalah Plt. Bupati, agama kemudian dibuat candu. Ini yang memilukan, sehingga agama kehilangan ruh dan magnetiknya yang semula luar biasa kemudian menjadi biasa-biasa saja, hambar dan tawar karena sering menjadi dagangan politik dan pencitraan. Padahal benahi saja kinerja birokrasinya yang bagus dan berbasis data sehingga tidak gagap seperti sekarang dalam mengambil kebijakan dalam pencegahan covid-19, itu baru salah satu contoh yang kita berikan. Semoga saja bisa taubatan nasuha dan apa yang dikisahkan Albert Camus jauh tidak terjadi atau tidak menjadi senjata makan tuannya sendiri.

Sampai hari ini sistematika pembuatan anggaran untuk pencegahan covid-19 itu tidak terumuskan dengan benar karena baik eksekutif maupun legislatif hanya menggunakan asumsi imajier, tidak berbasis data. Ini problemnya. Misalnya mau mengambil kebijakan bantuan ekonomi yang terkena dampak seperti yang dikatakan Ketua FPDIP sebesar 30 milyar, terukuranya apa? Kebijakan lockdown tidak ada. Aktivitas buruh harian, serabutan, dagang, petani tetap seperti biasa, tak juga melakukan karantina mandiri. Jika kemudian ada kelesuan daya beli dan lainya ya itu konsekuensi implikasi nasional dan global bukan karena persoalan lokal. Jika kebijakan itu diambil maka akan mengajari masyarakat merampok dengan memakai baju bencana covid-19.

Jadi jauh akan lebih baik dan bermanfaat jika anggaran 50 milyar tersebut dipakai untuk menyelamatkan nyawa atas serangan wabah tetapi bukan berarti harus poya-poya dengan kesediaan anggaran tersebut. Ya dipakai sesuai kebutuhan seperti ADP dan pelindung diri lainnya untuk tenaga medis sebagai garda depan penyelamatan nyawa.

Bantuan ekonomi yang kena dampak sudah ada dari Pusat dan Propinsi. Propinsi memberi bantuan untuk penerima sebanyak 17.000 penerima (jika kebijakan tidak berubah). Ini menjadi problem, kepada siapa saja mau diberikan karena eksekutif maupun legislatif tidak mempunyai data yang akurat, valid. Ini mencerminkan bahwa kita untuk semua data dan masalah hanya menggunakan asumsi imaji saja.

Begitu juga untuk mendraf sistematika pengalokasian kebutuhan juga problemnya data yang amburadul, asumsi imaji juga seperti penetapan keputusan zona kuning, itu tidak berbasis data medik. Jadi ngawur dan akan menjadi anggaran poya-poya. Juga menjatahan rumah sakit untuk pasien covid-19 yang disebar keberbagai rumah sakit. Ini juga menjadi problem anggaran poya-poya. Tidak hanya itu, kita tidak bisa membayangkan atau merasionalisaskan karena tenaga medis yang terbatas, misalnya tenaga medis harus ke rumah sakit yang di Haurgelis lantas harus ke RSUD Krangkeng lantas ke RS Bayangkara lantas ke Mitra Plumbon Indramayu dan ke RSUD Sentot. Ada tenaga medisnya berapa, katanya terbatas. Untung Indramayu sakti, zero covid-19, wah jika benar-benar mewabah bagaimana?

Dari sisi anggaran juga tidak efektif dan tidak efisien bahkan bisa menjadi bencana anggaran. Coba bandingkan jika RSUD Krangkeng difokuskan khusus untuk penangan covid-19 akan jauh lebih hemat dan terkendali. Jadi pengalokasian anggaran saja tidak becus dan belum klir karena pakainya asumsi imaji yang keluar dari teoritik kebutuhan anggaran lantas beralibi dan berapologi ada aturan baru dari Mendagri bahwa BTT tidak boleh dipakai. BTTnya saja cuma ada 1 milyar dan sudah dipakai wara wiri tengok banjir kemarin 500 juta jadi hanya tinggal 500 juta padahal umpamanya harus 20 milyar bahkan 50 milyar. Inipun aneh dari 14 milyar dalam tempo singkat menjadi 50 milyar.

Jadi argumentasi terkendala adanya aturan baru itu sangat konyol dan ngawur. Itu sekedar cantolan ketersediaan anggaran, yang jelas kata Menkeu Sri Mulyani boleh pakai DAK atau dana transfer, menghentikan dulu pengadaan barang dan jasa atau barang modal. Jadi jika sistematika draf anggarannya sudah dibuat dengan benar berbasis data, mau aturan pusat itu dirubah ya gampang karena itu cuma cantolan saja secara prosedural dan yuridis tapi item pengalokasian anggarannya tak berubah jika ada perubahan volume besaran anggaran itu bisa diselesaikan dengan sekejap mata.

Jangan dikira publik tidak paham soal itu dan atau dianggap dungu semua. Kita malu melihat faktanya jika kita tahu kegagapannya.

Ada statemen Al Imam al Habib Tohir itu kayak Tuhan saja, kok bahkan melebihi Tuhan yang punya qudrot dan irodat. Berdoa pasti diijabah Tuhan, memangnya Tuhan ngomong sama Habib. Sombong amat. Yang namanya doa atau permohonan tidak serta merta sekarang berdoa sekarang Tuhan kabulkan. Zaman Rosul saja dan Rosul sendiri berdoa kadang tidak dikabulkan dalam sekejap mata bahkan ada yang tidak dikabulkan apalagi model kita sekarang ini, tetapi doa tetap harus dan sudah harus menjadi kebutuhan hidup kita. Terlampau takabur. Itu yg merusak pemahaman. Seperti beli pasta gigi di jogja ya pasti ada duit ada barang.

Tuhan itu tidak seperti itu dan doa itu tidak seperti itu, semuanya hanya permohonan untuk dikabulkan juga syaratnya susah tapi kita tetap harus berdoa.

Rosulullah itu manusia yang tak ada tandinganya sejak dari manusia pertama hingga manusia terakhir soal kedekatanya dengan Allah dan kekhusuanya berdoa tapi tetap saja ada doa Rosulullah yang tidak dikabulkan atau tidak dituruti Allah SWT yaitu mohon keturanan dari istri2nya yaitu Aisah, Hapsah dan Zaenab setelah dengan Khodijah tapi apa Allah kabulkan doanya, tidak. Allah baru kabulkan ketika Rosulullah mengawani Maria keturunan Budak dan diberi keturunan sekalipun anak-anak dengan Maria itu usianya pendek, tidak sampai dewasa.

Masa Allah mau diatur-atur seenaknya oleh kehendak Al Imam Al Habib Tohir, Somad, Aa. Gim, Zurkarnaen, Basalamah, Felik Saw dkk. Itu sombong amat memastikan setiap doa pasti dikabulkan Allah apalagi soal corona.

Apa kita tak pernah membayangkan Rosul saja ada doanya yang tidak dikabulkan. Itu Rosul lho. Jadi saya geli saja kadang kayak matematika ekssak, metematika sosial saja ada, tidak semua eksak.

Mudah-mudahan saya tidak ngawur dan tidak salah baca. Ada beberapa ayat (tapi saya lupa surahnya karena saya bukan ustadz, bukan kiai dan bukan ulama) yg secara gamblang Tuhan katakan : Berdoalah padaku. Mintalah padaku, niscaya AKAN Aku/Kami kabulkan. Tuhan pakai kata AKAN, menurut sy mengandung makna KETIDAKPASTIAN YANG PASTI. Dalam ilmu logika ketidakpastian itu tetap pasti tapi karena ada kata “akan” sehingga kepastian yang pastinya menjadi ketidakpastian dlm hal pasti dlm soal ruang dan waktunya.

Dalam disiplin akunting dalam cost acounting, anggaran dan ilmu manajemen itu disebut kondisi ketidakpastian (uncertainty) tetapi ketidakpastian yang akan pasti itu bisa diidentifisir kapan akan menjadi pastinya dalam perlakuan cost atau akan menjadi biayanya (expenses).
“AKAN” dalam konteks Tuhan kita tidak bisa mengabsolutkannya dengan kehendak atau keinginan kita yang dilinearkan dengan kehendak Tuhan. Menurut saya semua agama harus yakin akan doa, tidak saja umat Islam karna Tuhan (Allah SWT) dalam konteks duniawi adalah bagi semua keyakinan. Jadi di luar Islampun doanya AKAN dikabulkan jika sesuai mengikuti kehendak Tuhan tapi mungkin juga Tuhan tidak di kehendaki tapi permintaan atau doanya tetap dikabulkan. Di sinilah kita meski hati-hati, perdebatan teologinya panjang dan berabad-abab. Nah di situlah menurut saya (yang bukan ustadz, kiai atau ulama) makna dari Maha Pemurah dan Maha Pengasih dalam mempertegas wujud maupun maujud Tuhan dalam tekstual maupun substansial konteksnya atas Qudrot dan Irodat dalam ruang dan waktu yang kemudian menjadi perdebatan soal pemahaman takdir, kematian dan bencana.

Menurut saya aneh, pembacaan takdir bisa didepan seperti bertanya sama Tuhan lantas langsung dijawab Tuhan. Geli dan lucu saja.
Saya tak mampu membayangkan doa Rosulpun ada yang tidak dikabulkan, betapa pedih dan perihnya Rosul padahal dikatakan kekasih Allah hanya cuma minta keturunan dr istrinya Aisah, Hapsah, Zaenab. Rosul tidak minta harta, tidak minta jadi Presiden atau Raja Arab atau minta menjadi penguasa dunia, tidak minta gunung atau samudra bahkan Rosul pernah ditawarkan matahari di tangan kanan dan rembulan di tangan kiri tidak mau, cuma minta anak, tapi itu semua agar kita mampu membaca makna, tapi kok nyatanya kita menjadi sombong dengan mengatakan doa kita PASTI DIIJABAH Allah SWT.

Minta ampun hebatnya Tuhan diatur-atur sekehendak selera kita. Kita tetap harus berdoa dan semoga doa akan menjadi kebutuhan dalam hidup kita. (Red)

Komentar

News Feed