oleh

Selembar Amplop Untuk Kariman

-Daerah, Opini-270 views

Tanganrakyat.id, Indramayu-Dia tinggal disekitar kompleks perumahan rumah sangat sederhana yang lazim disebut dengan nama rss, terletak dipinggiran kota. Umurnya sekitar 39 tahunan, pekerjaannya serabutan, badannya gempal bahkan cenderung
obesitas.

Tetangga dan orang-orang dewasa bahkan anak-anak di sekitar kompleks perumahan itu dengan akrab memanggilnya mang ndut alias mang
gendut. Dia sendiri tidak pernah marah dengan sapaan akrab tersebut. Justru dia merasa tidak ada jarak antara dia yang tinggal diluar perumahan dengan warga perumahan tersebut. Menurut pengakuannya sekolahnya sampai kelas tiga sekolah dasar, kemiskinanlah yang harus membuatnya putus sekolah.

Anaknya tiga, dua anakanya bawaan istrinya dan satu anak buah perkawinannya. Sebagai seorang ayah dia tahu kewajibannya makanya dia
tidak membedakan kasih sayang terhadap ketiga anak-anaknya. Warga
perumahan banyak dan sering memakai jasanya, dari membersihkan rumput halaman sampai dengan membagikan undangan kenduri.

Wajahnya yang bulat mengesankan Kariman seseorang yang lugu, polos dan jujur. Hobbynya
menonton sepakbola liga nasional, emoh dengan liga eropa walaupun di pos jaga sering ada nonton bareng. Fanatisme dan nasionalisme yang tejaga berlebihan. Kariman tidak menyadari kalau sepakbola adalah gabungan antara sportifitas, industri dan entertainment. Kegemaran lainnya adalah nonton sinetron lokal, alasanya cukup sederhana yang penting bisa melihat pemeran wanitanya yang cantik. Kariman tidak pernah paham alur cerita dan mutu serta
kualitas sinetron itu. Kariman sadar bahwa dirinya tidak ada kesempatan
mengunjungi mall, cafe untuk dapat melihat keaslian kecentilan dan kecantikan wanita sekarang.

Dia membatasi diri dengan cukup melihat kecantikan dari layar kaca. Ini cukup membuatnya mengawang dan berbahagia. Di gardu jaga perumahan itu seolah menjadi tempat interaksi sosial oleh sebagian wraganya. Dari tempat itulah share dan diskusi semua permasalahan terjadi. Topik hangat politik, sosial, ekonomi menjadi diskursus pembahasan.

Bahkan sering meledak-ledak dan menuncak bak anggota parlemen
sungguhan. Kariman dengan polos dan lugu mengamati dan
mendengarkan semuanya dengan khidmat. Banyak hal yang tidak pernah ia pahami baik bahasa dan substansi permasalahannya, dia merasa terasing dan sendiri padahal yang dibicarakannnya tentang hak dan kewajiban dirinya. Dia
merasa ragu bahwa dirinya secara konstitusi adalah menjadi tanggungjawab negara dan bangsa. Selama ini dia berpikir keberadaan atas dirinya tidak lebih karena kekuatan sang nasib yang harus diterimanya.

Persoalan kenapa orang tuanya tak mampu menyekolahkannya seolah-olah itu juga bukan kesalahan
dan kelalaian atas ketidakhadiran negara, dia hanya tahu itu nasib yang harus diterimanya sebagai takdir. Dia juga baru ngeh dan tahu bahwa tugas anggota parlemen yang dipilih melalui pemilu yang sering dia datang ke tempat suara seharusnya memikirkan hak-hak dia sebagai warga negara. Diapun hanya tahu di musim pileg, pilpres, pilgub dan pilbub maka berarti dia akan menerima selembar amplop dari calon tertentu. Amplop itulah juga yang memotivasi kedatangannya ke tempat pemungutan suara. Kariman tidak pernah paham bahwa politik transaksional akan menghancurkan roh dan jiwa demokrasi. Yang
Kariman pahami “amplop itu menyelamtkan isteri dan anaknya dari kelaparan satu hari”.

Kariman tidak peduli bahkan tidak mengerti untuk peduli bahwa
dirinya sedang dieksploitasi oleh gurita nafsu atas kekuasaan yang kelak akan menelan diri dan keluarganya menjadi korban. Kariman tidak pernah tahu
bahwa amplop itu yang meminggirkan diri dan keluarganya. Menggerusnya
dalam ketidakberdayaan yang berkepanjangan.

Sehabis maghrib Kariman selalu asyik didepan telivisi yang terpasang di
gardu jaga perumahan. Itu satu-satunya hiburan atas hari-hari kelelahan dan keletihan yang menyergapnya. Kadang Kariman terkantuk-kantuk di depan
televisi karena tak tahan terhadap kepenatan. Tepat sehabis isya penghuni perumahan satu persatu mulai berkumpul di gardu itu. Kariman terbangun dan orang-orang mengganggu dan meledeknya agar terbangun, dia tidak marah
dan ciri khasnya adalah selalu dengan senyum simpul sambil menggosok
mulutnya dengan tangan. Sebuah stasiun televisi sedang memberitakan kasus mega korupsi e-ktp. Kariman menyimaknya dengan penuh perhatian begitu juga orang-orangpun tertarik untuk mendengarkan dan mengamati.

Kariman melenguh dan berdecak matanya sayu dan lirih mendesah. Terbayang dalam
benaknya bagaimana tumpukan uang sebanyak 2,3 trilyun yang dikorupsi kalau itu ada di depan matanya dan menjadi miliknya. Sampai dengan umurnya yang mau masuk 40 tahunan, dia baru bisa melihat uang dengan jumlah 1 juta rupiah, di atas itu Kariman tak pernah melihatnya apalagi memilikinya. Uang 1 juta yang pernah dimilikinya itupun hasil menabung dengan susah payah selama satu tahun setengah.

Mendengar itu kepala Kariman berdenyut keras dan matanya nanar berkunang-kunang. Kariman ngungun dan tak berdaya, nalarnya buntu dan hatinya beku tak paham dan ada pertanyaan yang tersisa menggantung di pusat nuraninya yang polos. Kenapa kita begitu serakah dan kemana dogma-dogma tentang salah dan benar, tentang dosa dan neraka itu
bersemayam?, Pikiran Kariman meloncat-loncat sampai pada pertanyaan yang paling mendasar apa yang salah dari bangsa ini?

Kariman tidak pernah paham apa itu politiknya demokrasi, ekonominya
demokrasi, sosialnya demokrasi, budayanya demokrasi, dan sama tidak pahamnya Kariman tentang demokrasinya politik, demokrasinya sosial, demokrasinya budaya. Yang Kariman tahu dan selalu menjadi kecemasan dan kekhawatirannya adalah apakah hari ini dan besok hari masih ada orang yang
mau menggunakan jasanya, bagi Kariman ketiadaan orang memakai jasanya itu pertanda beras, tahu, tempe dan ikan asin tidak akan dapat disuguhkan sebagai hidangan rutin untuk anak dan istrinya. Inilah Kariman akan tersedu dan meneteskan air mata pilu. Dalam kondisi seperti ini Kariman sering menggugat terhadap nasib dan takdirnya. Satu hal yang tidak pernah paham dan dimengerti olehnya adalah bahwa dia sebagai warga negara republik Indonesia secara konstitusi merupakan tanggung jawab negara. Kariman tidak pernah tahu dan ada sesuatu yang tidak terpahami tentang pendegredasian tata nilai, moral dan etika, pengabaian, pertarungan nafsu kekuasaan, ovunturirsme serta pragmatisme. Kariman dengan takzim, tulus, ikhlas mengemban keterpinggiran dan ketermarginalan sebagai akibat perilaku koruptif yang melanda bangsa ini.

Mungkin Kariman tidak sendirian, di luar sana munkin ada puluhan,
ratusan, ribuan bahkan jutaan orang seperti Kariman di republik ini. Menjadi
keberadaannya hanya sampai ada di meja-meja seminar, simposium. Puluhan, ratusan, ribuan dan jutaan Kariman hanya di atas namakan dan obyek dalam konstelasi pemilu. Selebihnya Kariman-Kariman tetap tersengal-sengal di belantara dan hiruk pikuknya keganasan kehidupan. Satu hal yang tetap dinikmati dan setia dilakoni serta dibanggakan adalah seringai gigi kuningnya yang mencerminkan keluguan dan kepolosannya serta kepasrahan atas proses marginalisasi, pengabaian dan keterpinggiran oleh pentas berbangsa dan bernegara. Mungkin Kariman karena kepolosannya tidak memiliki bakat untuk berhipokrit-hipokrit ria atau sedikitnya memiliki kemampuan untuk bersikap ambivalen terhadap satu situasi. Karena nalar dan keberadaannya pula Kariman
tidak pernah paham untuk menggugat siapa dan Kariman hanya memiliki
kesadaran penuh bahwa keberadaannya tidak terlepas atas sekenario sang Ilahi sebagai Pencipta Langit dan Bumi seisinya. Totalitas kepasrahan, yang justeru sering dieksploitasi untuk kepentingan tertentu.

Kalaupun Kariman sedikit tahu tentang hak dan kewajiban warga negara
dari stasiun televisi dan hasil dia mendengarkan obrolan di gardu jaga tidak cukup jelas bagi dirinya untuk dapat bersikap atas semua keruwetan fenomena yang mengemuka di papan realitas kehidupan ini. Tidak ngeh dan
membingungkan. Sama bingung dan tidak ngehnya Kariman ketika mendengar bahwa pemberian amplop atau politik transaksional akan mereduksi dan menghancurkan sendi-sendi dan nilai-nilai demokrasi. Juga ketidak ngeh-an dan bingungnya Kariman ketika nalarnya menarik garis antara proses pemilu terhadap keberadaan masa depan diri dan keluarganya. Pengertian negara dan
pemerintah tidak pernah hadir dalam kehidupan dirinya. Kariman hanya tahu sebagai rakyat harus hormat dan melayani. Tragedi pemahaman yang terbalik !

Karena Kariman hanya tahu ketika membuat KTP yang katanya gratis tapi harus tetap membayar dengan dalih biaya adminstrasi. Ketika kenduri tahlilan kakaknya yang meninggal Kariman harus menyiapkan sesuatu yang berlebih untuk sang modin. Kariman tidak pernah berpikir tentang nilai tapi dia hanya memahami bagaimana untuk dapat terus survival dengan tidak berbenturan dengan nilai itu. Kariman tidak cukup bisa untuk memahami apakah nilai yang
diberlakukan itu benar atau salah. Menyimpang atau tidak?

Kariman dengan segala kepolosannya tidak cukup cerdas dan bijak untuk dapat merunut segalanya. Mungkin yang menjadi catatan orang-orang yang suka nongkrong di gardu jaga perumahan itu adalah kalimatnya yang terucap lugas “kok orang
bisa begitu ya” ketika Kariman mendengarkan dan melihat berita telivisi tentang tertangkapnya oknum eksekutif, legislatif dan yudikatif karena kasus korupsi. Kalimat itu keluar secara spontan dan mimiknya yang lugas bahkan sangat innocent.

Mungkin pesan yang terkirim dari keberadaan Kariman adalah
masih cukupkah kekuatan moral kita untuk mengingkari, menghianati,
mengatas namakan keberadaannya. Masihkah kita punya nyali dan tega secara masif dan terstruktur menempatkan Kariman dalam kungkungan marginalisasi dan keterpinggiran dan masihkah kita sanggup urat nadi moral dan etika kita untuk menafikan eksistensinya dan menjadikan puluhan, ratusan, ribuan dan jutaan Kariman menjadi orang-orang terbuang tapi dibutuhkan dalam penyajian data kebijakan yang berbasis anggaran atau Kariman hanya dibutuhkan dalam eksploitasi politik yang sarat nafsu bekuasa.

Baca juga:Kambing Hitam Dan Hitamnya Kambing

Semoga ini hanya ada dicatatan kecil kesejarahan dan alam menuntun
nurani kita dalam kesadaran kontekstual, dimana manipulatif dan hipokrisasi tidak dijadikan model atau trade mark kemanusiaan kita. Kita mungkin tidak harus menunggu langit menjadi jingga dan matahari menjadi merah saga dan kita juga tidak harus menunggu ratusan, puluhan, ribuan dan jutaan Kariman-kariman menggugat, menyeringai dan mencakar wajah bopeng kita untuk terjadinya pembelokan pengembalian kebeningan manusia kemanusiaan kita.

Indramayu, 13 Januari 2021
Musyadad
Alumni FE Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta . Angkatan
1984.
Jl. Raya Singaraja no 4/c-112 km 4 Timur Indramayu Jawa Barat

Komentar

News Feed