oleh

Obyek Wisata Area Bojongsari Dipertanyakan Publik

Tanganrakyat.id, Indramayu-Obyek wisata di area Waduk Bojongsari seperti Gedung Mutiara Bangsa yang diresmikan pada Senin 9 Oktober 2017 bertepatan dengan hari jadi Kabupaten Indramayu ke-490, kini sangat mengenaskan bagai Rumah Hantu ditengah kota dan juga Air Terjun Buatan, yang diresmikan tanggal 29 Desember 2020 lalu kini dipertanyakan publik.

Pemerhati masalah sosial dan juga Direktur PKSPD (Pusat Kajian Strategis Pembangunan Daerah) 0’ushj.dialambaqa saat ditemuin di kediamannya menuturkan PKSPD sudah lihat dan ambil gambarnya. Air terjun itu bagaikan air menggenang atau genangan air, entah konsep dan filosofinya bagaimana. Jika pendekatanya air terjun natural ya berarti tidak mampu melihat bagaimana air terjun yang eksotik. Jadi lebih tepat air menggenang dalam rawa jika dilihat secara estetika.

“Hal yang sama juga dengan kereta listrik monorel ibarat sirkuit tamiya anak-anak. Padahal jika paham dengan konsep wisata harusnya dipadukan dengan yang sudah ada yaitu dayung sehingga kereta monorel tersebut bisa didesain mengitari dayung hingga ke Pendopo atau depan Kantor Pos melintasi Panggung Apung yang mangkrak, dari ujung dayung hingga memutar ke kawasan kuliner Cimanuk dari ketinggian tertentu sehingga bisa melihat kehidupan di sekitarnya untuk bisa memahami kehidupan sosial terutama bagi anak-anak sambil naik kereta listrik melihat air dan kehidupan sosial dan lingkungannya. Jadi sudah proyeknya puluhan milyar bahkan 50 milyaran bermasalah karena indikasinya korup dan beberapa kali pejabatnya diperiksa Polda dan sebagai obyek wisata juga telah diperiksa oleh Kejari sekalipun kasusnya berjalan di tempat. Kualitas pembangunanya juga buruk dan desain, estetika dan filosofinya juga tidak jelas arah dan orientasinya sekalipun menyebut model wisata di Singapura,” ujar 0’ushj.dialambaqa. Rabu, (20/1/2011) yang biasa dipanggil Pak Oo.

Obyek Wisata Air Terjun Indramayu yang banyak dipertanyakan publik (Foto.Red)

Lebih lanjut indikasinya pasti hanya merongrong APBD saja untuk beban pemeliharaanya karena mau memasang tarip tiket berapa, termasuk gedung Mutiara Bangsa yang tak terurus, ditumbuhi rumputan bagai rumah Hantu dan menjadi beban APBD, artinya tetap merugi. Ya mendingan untuk kawasan Membangun Peradaban dan Kota Budaya, proyek nirlaba tapi signifikan untuk pertumbuhan emonomi dan budaya dalam kiterasi intelektual.

Jadi harus didesain ulang dengan konsep Membangun Peradaban dan Kota Budaya, yang pernah saya tulis dalam artikel dimuat dibeberapa media massa sebagai proyek investasi intelektual yang pada akhirnya bisa menumbuhkan pertumbuhan ekonomi sebagai pesona investasi yang sekaligus menjadi destinasi wisata dalam pelataran budaya dan literasi dalam arena dan kawasan tersebut.

Kawasan dayung masih sangat representatif untuk konsep tadi, daripada kondisi sekarang tak jelas juntrungnya dan tetap menjadi proyek rugi dan menjadi beban APBD tapi jika untuk investasi intelektual, litetasi dan budaya sudah jelas itu membangun peradaban dan budaya yang implikasinya pasti menggeliatnya pertumbukan ekonomi mikro hingga menengah bahkan atas, jika desainnya perpaduan nuansa Malioboro Yogya dan pasar Seni Ancol dengan panggung teater terbuka dan tertutup tempat pertukaran kiterasi, pemikiran dan intelektualitas.

Baca juga:Mantan Bupati Anna Sophanah Diperiksa Di Kejari Indramayu

Yang jadi heran saya/PKSPD kok dalam gedung “Rumah Bertuah Air Terjun” yang mungkin lebih tepat kita katakan gedung Rumah Hantu adanya ruang karoke kok bangga padahal namanya karoke fakta sosialnya tidak bisa dihindari untuk hal-hal yang mesum, minuman dan bahkan transaksi obat dan seksual memungkinkan potensinya di ruangan karoke tersebut.

Fakta sosial lainya mana laku karoke jika tidak menampilkan yang namanya PL seronok atau lebih dekat ke hal-hal porno. Jadi Kadisbudpar atau Pemkab tidak perlu ambil bagian dalam bisnis usaha karokean, cukup mereka-mereka di luar pemerintah atau SKPD saja.

Sedangkan Gedung Mutiara Bangsa yang menelan anggaran Rp.126 milyar lebih (yang senilai 6 milyar adalah untuk peralatan dan perlengkapan auditorium yang ditangani oleh Disdik dengan nomenklatur penyediaan sarana dan prasarana Rumah Pintar) mulai tahap I tahun 2008 Rp.1.936.937.000.00., tahap II tahun 2009 Rp.4.217.026.000.00., tahap III tahun 2010 Rp.1.735.757.000.00., tahap IV tahun 2012 Rp.4.221.433.000,00., tahap V tahun 2013 Rp.2.251.745.000.00., tahap VI tahun 2014 Rp. 12924.075.000,00., tahap VII tahun 2015 Rp.2.044.000.000.00., tahap VIII tahun 2016 Rp.7500.000.000.00., dan peralatan/perlengkapan Auditarium senilai 6 milyar selanjutnya tahap VIII tahun 2017 sebesar 3 milyar untuk penataan halaman gedung dengan membuat Replika Dinasaurus, Akuaarium dan lainnya.Ini semua uang rakyat dan harus dipetanggungjawabkan baik kepada rakyat maupun kepada Tuhan nantinya.

Baca juga:Kadis Disbudpar Turun Langsung Tinjau Pelaksanaan Uji Coba Air Terjun Buatan Bojongsari-Indramayu

Kita berharap banyak dengan pemerintahan yang baru kedua gedung itu bisa dialihkan fungsinya menjadi ruang pameran seni dan budaya, teater tertutup dan pemutaran film-film dokumenter, tentu jika Bupati Nina Lucky serius membangun Indramayu dalam konsep Membangun Peradaban dan Kota Budaya sebagai investasi intelektual yang bermartabat. (C.tisna)

Komentar

News Feed