Balongan, Indramayu, tanganrakyat.id – Suhu panas mendadak merayap dari kawasan Kilang RU VI Balongan, Indramayu, ketika Serikat Pekerja Pertamina Bersatu Balongan (SP-PBB) secara resmi mendeklarasikan perang terbuka terhadap segala bentuk skema streamlining korporasi hulu yang berpotensi melumpuhkan keadilan serta kedaulatan energi nasional.
Pada Sabtu Wage, 19 September 2026, Sekretaris Jenderal SP-PBB, Dendy Haryadi, dengan lantang menegaskan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam melihat masa depan PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) dipertaruhkan dalam meja pembahasan tertutup yang minim transparansi.
Aksi solidaritas masif ini dipicu oleh kekhawatiran mendalam atas wacana penggabungan atau restrukturisasi bisnis jasa hulu Pertamina yang santer dikaitkan dengan PT Elnusa Tbk, tanpa adanya kejelasan kajian, valuasi objektif, maupun jaminan perlindungan terhadap aset strategis negara.
Bersama jajaran pengurus seperti Jaenal Bidang Aksi dan Bidang Media SP-PBB Ade R. yang siap siaga berada di barisan terdepan, SP-PBB memastikan bahwa seluruh kader Pekerja Kilang Balongan siap bergerak total demi mengawal marwah perusahaan pelat merah tersebut.

Bagi ribuan pekerja di Balongan, PDSI bukanlah sekadar entitas bisnis penyedia Rig atau tumpukan Besi Tua di Ladang Minyak, melainkan jantung ketahanan hulu yang memegang kendali atas ribuan tenaga ahli, teknologi pengeboran tingkat tinggi, hingga rekam jejak keselamatan operasional (HSSE) bertaraf internasional.
Mengingat pada Juli 2026 lalu PDSI mengoperasikan puluhan Rig serta mengandalkan pusat pelatihan mandiri di Mundu, Indramayu, mereduksi peran strategis mereka sama saja dengan memotong urat nadi pasokan energi nusantara dari akarnya.
Oleh karena itu, melalui konsolidasi ketat di Sekretariat Jalan Arun Nomor 1 Komplek GOR Bumi Patra, SP-PBB merumuskan lima tuntutan mutlak yang wajib dipenuhi oleh para petinggi korporasi, mulai dari transparansi tata kelola transaksi, garansi penguasaan penuh oleh Pertamina Grup, pelibatan serikat pekerja secara bermakna, perlindungan hak normatif pekerja, hingga desakan menjadikan PDSI sebagai National Drilling Champion sejati.
Menanggapi dinamika panas ini, koordinator lapangan aksi, Jaenal, didampingi Ade R., menegaskan komitmen tanpa batas mereka untuk mengamankan instruksi organisasi. “Apapun keputusan dan instruksi dari SP-PBB ke depan, kami siap mengawal penuh dan berdiri di barisan paling depan demi menjaga kehormatan organisasi serta masa depan energi rakyat Indonesia!” seru mereka dengan penuh semangat berapi-api.
Bidang Media Ade R. Menambahkan, “kami khawatir penggabungan PDSI ke Elnusa berpotensi mencederai cita-cita mulia Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto dalam mewujudkan kedaulatan energi terkait penguasaan negara atas sumber daya energi”
Publik kini menuntut agar manajemen puncak Pertamina dan PHE segera membuka ruang dialog jujur, membeberkan valuasi secara transparan, serta menghentikan segala manuver senyap yang berisiko merugikan negara.
Baca juga:
Melalui pekikan sakral dari bumi Balongan yang membahana luas, pesan tegas disebarkan ke seluruh penjuru negeri: “PDSI Kuat, Pertamina Hebat, Energi Berdaulat!”







Komentar