Mengapa Narasi “2029 Ganti Presiden” Harus Berubah Menjadi “Ganti Standar Kekuasaan”

  • Bagikan
Bahrudin El-Shiraaz (Foto: Istimewa)

Jakarta, tanganrakyat.id – ​Wacana pergantian kepemimpinan nasional pada tahun mendatang tidak boleh sekadar dimaknai sebagai pergantian figur di Istana Negara. Gerakan ini harus dibaca secara substansial sebagai momentum kolektif bagi seluruh rakyat Indonesia untuk menagih arah baru pembangunan bangsa yang lebih berpihak pada kesejahteraan sosial.

​Siapa pun figur yang kelak memegang tampuk kekuasaan, publik menuntut agar mandat utama tetap berada di tangan rakyat, bukan sekadar instrumen legitimasi politik lima tahunan. Pemerintahan bersih, transparan, dan komitmen tegas dalam pemberantasan korupsi menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar lagi oleh para kandidat pemimpin.

​Aspek ekonomi kerakyatan menjadi sorotan utama di tengah himpitan beban hidup yang dirasakan masyarakat bawah. Rakyat mendesak adanya ketersediaan harga kebutuhan pokok yang terjangkau, penciptaan lapangan kerja layak, upah manusiawi, serta penguatan sektor UMKM agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya terlihat indah di atas kertas statistik.

​Negara juga wajib hadir secara nyata dalam sektor pelayanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan yang berkualitas tanpa diskriminasi. Anak-anak dari keluarga kurang mampu harus memiliki akses kesempatan belajar yang setara, sementara layanan kesehatan harus dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.

​Pemerataan pembangunan infrastruktur dan pengelolaan kekayaan alam yang transparan mutlak diperlukan demi kemakmuran sebesar-besarnya untuk rakyat. Meskipun investasi asing maupun domestik tetap dibutuhkan, kepentingan nasional, kelestarian lingkungan, perlindungan tenaga kerja lokal, dan nasib generasi masa depan tidak boleh dikorbankan demi dalih pertumbuhan semata.

​Demokrasi Indonesia pun harus diselamatkan dari cengkeraman transaksi elite dan oligarki yang kerap mengabaikan suara publik. Partai politik di parlemen dituntut untuk mengembalikan fungsi representasinya secara optimal, di mana kebebasan sipil dijaga, kritik dihormati, dan setiap kebijakan terbuka terhadap pengawasan ketat masyarakat.

​Transformasi politik ini menegaskan bahwa agenda besar pemilu mendatang harus bergeser dari sekadar pertarungan popularitas, pencitraan, uang, dan politik identitas menuju kompetisi gagasan yang substantif. Setiap kandidat pemimpin wajib memaparkan program konkret, target terukur, serta mekanisme pertanggungjawaban yang transparan kepada konstituennya.

​Pesta demokrasi lima tahunan ini pada akhirnya harus menjadi titik balik penentu masa depan bangsa tentang bagaimana kekuasaan dijalankan dan untuk kepentingan siapa negara ini diarahkan. Bagaimana strategi konkret para calon pemimpin dalam menjawab persoalan mendasar rakyat kecil ini akan menjadi penentu utama arah perjalanan Indonesia ke depan?

  • Bagikan

Comment