Dunia, tanganrakyat.id – Tuduhan yang dilayangkan oleh Presiden Iran Masoud Pezeshkian bahwa Amerika Serikat berupaya memecah belah negara-negara Muslim kembali memanaskan diskursus geopolitik global. Namun, membaca dinamika Timur Tengah melalui kacamata hitam-putih justru akan menyesatkan pemahaman kita terhadap akar konflik yang jauh lebih rumit di kawasan tersebut.
Di satu sisi, menyalahkan Washington sepenuhnya atas setiap instabilitas yang terjadi adalah bentuk reduksi realitas yang mengabaikan dinamika lokal. Di sisi lain, menimpakan seluruh beban kesalahan kepada Teheran juga berarti mengabaikan sejarah panjang intervensi kekuatan besar dan aliansi strategis yang membentuk lanskap politik kawasan selama berpuluh-puluh tahun.
Sebagai aktor geopolitik yang rasional, Iran tentu memiliki kepentingan nasional dan regional yang jelas. Teheran tidak sekadar bertindak untuk bertahan hidup, tetapi juga berambisi mempertahankan posisinya sebagai salah satu pusat kekuatan utama di Timur Tengah demi menjaga pengaruh politiknya.
Jaringan hubungan yang dibangun Iran dengan berbagai kelompok bersenjata di kawasan sering kali dibaca sebagai instrumen pertahanan preventif guna menghindari serangan langsung. Kendati demikian, bagi negara-negara tetangga dan kekuatan internasional, strategi proyeksi pengaruh ini kerap dipersepsikan sebagai bentuk ekspansi hegemonik yang mengancam.
Kompleksitas ini menunjukkan bahwa kebenaran geopolitik hampir selalu berada di ruang abu-abu, jauh melampaui narasi propaganda masing-masing pihak yang bertikai. Oleh karena itu, pernyataan Pezeshkian harus diposisikan secara proporsional sebagai penilaian resmi pemerintah Iran, alih-alih diterima sebagai fakta mutlak yang teruji secara independen.
Meski demikian, di balik retorika politik tersebut, tersimpan sebuah pertanyaan substansial yang jauh lebih mendesak bagi masa depan dunia Islam. Pertanyaan utamanya adalah apakah negara-negara Muslim mampu secara mandiri membangun arsitektur keamanan kawasan tanpa harus bergantung pada kekuatan eksternal?
Baca juga:
Menimbang Empat Kepentingan Strategis Washington di Timur Tengah
Jika jawabannya adalah ketidakmampuan, maka ketergantungan menahun pada kekuatan asing akan terus menjadi takdir geopolitik Timur Tengah. Tanpa kemandirian kolektif, kawasan ini selamanya akan terjebak dalam lingkaran setan intervensi dan perebutan pengaruh global.







Komentar