“Ramadan sebagai Jalan Sunyi Kepemimpinan Pancasilais dalam Bingkai NKRI”

  • Bagikan
Raden Ganjar Tirta Pramahyana, M.H. (Foto: Istimewa)

Indramayu ,  – tanganrakyat.id – Ramadan kerap dimaknai sebagai bulan ibadah yang riuh oleh ritual, padat oleh agenda, dan penuh simbol religius.

Namun di balik keramaian itu, Ramadan sejatinya menawarkan sesuatu yang lebih sunyi ruang kontemplasi. Ia bukan hanya tentang apa yang ditahan oleh tubuh, melainkan apa yang ditertibkan dalam batin.

Al-Qur’an menegaskan tujuan puasa bukan sekadar ritual, melainkan pembentukan karakter: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 183).

Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, ketakwaan ini bukan konsep privat semata, melainkan fondasi etika publik. Ketakwaan melahirkan kehati-hatian, rasa tanggung jawab, dan kesadaran batas nilai-nilai yang sangat dibutuhkan dalam kepemimpinan Pancasilais di dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Rangkaian Rajab dan Sya’ban sebelum Ramadan seolah menyiapkan jalan menuju kesadaran tersebut. Rajab mengingatkan manusia pada batas dan penghormatan terhadap nilai, sementara Sya’ban melatih kesiapan dan kepekaan sebelum memasuki ujian pengendalian diri.

Dari proses inilah Ramadan hadir bukan sebagai klimaks seremonial, melainkan sebagai ujian integritas, terutama bagi mereka yang memegang amanah kekuasaan.

1. Rajab Kesadaran Etis atas Kekuasaan

Rajab dimaknai sebagai bulan penghormatan. Ia mengajarkan bahwa ada nilai yang tidak boleh dilanggar, sekalipun oleh mereka yang memiliki kekuasaan.

Al-Qur’an mengingatkan bahwa amanah tidak boleh dikhianati: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya” (QS. An-Nisa: 58).

Ayat ini menegaskan bahwa kekuasaan bukan hak absolut, melainkan titipan.

Dalam kepemimpinan publik, kesadaran ini menjadi fondasi etika. Kekuasaan yang dilepaskan dari nilai akan mudah tergelincir menjadi alat pembenaran, bukan sarana pelayanan.

Prinsip ini sejalan dengan sila Ketuhanan Yang Maha Esa, yang menempatkan kekuasaan dalam bingkai tanggung jawab moral dan transendental.

Pemimpin yang memiliki kesadaran Rajabiyah akan berhati-hati dalam menggunakan kewenangannya.

Ia memahami bahwa setiap keputusan tidak hanya dipertanggungjawabkan kepada publik, tetapi juga kepada nilai yang lebih tinggi dari sekadar legitimasi politik.

2. Sya’ban Kepekaan Sosial dan Kematangan Keputusan

Sya’ban merupakan fase persiapan dan evaluasi. Dalam kepemimpinan, fase ini mencerminkan pentingnya kepekaan sosial sebelum mengambil keputusan strategis.

Nabi Muhammad SAW mengingatkan bahwa kepemimpinan selalu terkait dengan tanggung jawab sosial: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menegaskan bahwa kepemimpinan tidak berhenti pada kewenangan formal, melainkan menyangkut dampak nyata bagi kehidupan orang lain.

Banyak kebijakan publik gagal bukan karena kekurangan aturan, tetapi karena minimnya empati terhadap realitas sosial.

Nilai ini sejalan dengan sila Kemanusiaan yang adil dan beradab. Kepemimpinan Pancasilais menuntut keberpihakan yang lahir dari pemahaman mendalam, bukan dari jarak kekuasaan.

Pemimpin yang melewati fase Sya’ban secara reflektif akan lebih matang, tidak reaktif, dan tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan.

3. Ramadan Disiplin Diri sebagai Inti Kepemimpinan

Ramadan adalah puncak pendidikan karakter. Puasa melatih disiplin diri, pengendalian emosi, dan kemampuan menahan hasrat. Al-Qur’an menegaskan pentingnya pengendalian diri sebagai ciri kematangan moral: “Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS. Ali Imran: 134).

Dalam kepemimpinan, pengendalian diri adalah kunci. Kekuasaan tanpa kendali akan melahirkan kesewenang-wenangan. Ramadan mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan pada kerasnya keputusan, tetapi pada kejernihan sikap.

Nilai ini selaras dengan sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan. Hikmat tidak lahir dari kegaduhan, melainkan dari ketenangan berpikir dan kematangan batin.

4. Keadilan Sosial Ujian Nyata Kepemimpinan Pancasilais

Baca juga:

Raden Ganjar Tirta Pramahyana, S.H., M.H.: IWO Indramayu Optimis Tingkatkan Literasi Masyarakat

Puncak dari seluruh rangkaian nilai tersebut bermuara pada keadilan sosial.

Ramadan menegaskan prinsip distribusi dan keberpihakan melalui zakat, infak, dan sedekah. Al-Qur’an mengingatkan bahwa kekayaan tidak boleh beredar di kalangan tertentu saja: “Agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu” (QS. Al-Hasyr: 7).

Ayat ini mengandung pesan sosial yang sangat kuat. Dalam konteks negara, keadilan sosial bukan sekadar slogan, melainkan ukuran legitimasi kepemimpinan.

Nabi Muhammad SAW bahkan mengingatkan bahaya ketidakadilan kekuasaan: “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa karena jika orang terpandang mencuri, mereka membiarkannya, tetapi jika orang lemah mencuri, mereka menegakkan hukum atasnya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia menuntut keberanian moral untuk memastikan bahwa kebijakan publik berpihak pada kemaslahatan bersama, bukan pada akumulasi kepentingan segelintir kelompok.

Penutup

Rangkaian Rajab, Sya’ban, dan Ramadan sejatinya adalah satu proses etis yang utuh. Ia mengajarkan bahwa kepemimpinan bukan hanya soal efektivitas dan stabilitas, tetapi tentang arah nilai. Dalam bingkai NKRI, Pancasila dan nilai-nilai spiritual tidak saling meniadakan, melainkan saling menguatkan.

Ramadan mengingatkan bahwa jabatan akan berakhir, tetapi pertanggungjawaban moral akan tetap ada. Bangsa yang besar tidak hanya membutuhkan pemimpin yang kuat secara struktural, tetapi pemimpin yang mampu menahan diri, mendengar rakyat, dan menegakkan keadilan dengan nurani.

Indramayu, Rabu Legi, 18 Februari 2026.
@ Ganjar Tirta, Pemerhati Sosial dan Kebangsaan

Penulis: Ganjar Tirta
  • Bagikan

Comment