Teror Kemanusiaan di Papua: Sembilan Anak Perempuan Disandera, DPR Desak Operasi Kilat!

  • Bagikan
Anggota Komisi XIII DPR RI Fraksi PKB, Mafirion, (Foto: Red)

Timika, tanganrakyat.id  – Suasana mencekam menyelimuti Distrik Jila, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, menyusul aksi biadab penyanderaan terhadap sembilan warga sipil perempuan yang masih berusia di bawah umur, yakni antara 13 hingga 18 tahun. Tragedi kemanusiaan ini langsung memicu kecaman keras dari Senayan setelah diketahui terjadi di tengah kecamuk kontak tembak antara aparat TNI dan kelompok bersenjata di wilayah tersebut.

Anggota Komisi XIII DPR RI Fraksi PKB, Mafirion, dengan tegas mendesak pemerintah dan aparat penegak hukum untuk segera mengambil langkah taktis, terukur, dan kilat demi membebaskan para korban. Ia menekankan bahwa keselamatan nyawa anak-anak yang sama sekali tidak tahu apa-apa tentang konflik harus diletakkan pada prioritas mutlak tanpa ada kompromi.

​”Tindakan penyanderaan terhadap warga sipil merupakan pelanggaran HAM berat, terlebih korban adalah anak-anak dan remaja yang tidak berdosa,” seru Mafirion di Jakarta, Kamis Wage, (20/8/2026). Menurutnya, waktu adalah nyawa karena para korban kini tengah menghadapi ancaman nyata terhadap fisik sekaligus bayang-bayang trauma psikologis mendalam akibat terisolasi dari keluarga.

​Krisis kemanusiaan ini kembali membuka luka lama mengenai betapa rentannya posisi perempuan dan anak di zona merah konflik bersenjata Papua. Mafirion mengingatkan agar seluruh tim gabungan yang terjun ke lapangan memperhitungkan setiap langkah secara matang agar operasi penyelamatan sukses tanpa memicu risiko fatal bagi keselamatan para sandera.

Baca juga:

Pertamina Drilling Sabet Penghargaan Media Relations Awards 2026 Lewat Kisah Inspiratif Air Bersih di Papua

​Lebih jauh, kasus memilukan ini menjadi tamparan keras sekaligus pengingat bahwa siklus kekerasan di Papua harus segera diputus secara permanen. Pemerintah dituntut menunjukkan ketegasan nyata agar masa depan generasi muda di bumi Cenderawasih tidak terus-menerus menjadi korban salah sasaran dari pertikaian bersenjata yang berkepanjangan.

 

Penulis: Red
  • Bagikan

Comment