Tanganrakyat.id – Kebanggaan Presiden Prabowo Subianto memamerkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di hadapan Vladimir Putin di Rusia mendadak berubah menjadi lelucon pahit yang memalukan.
Alih-alih menuai sanjungan global sebagai inovasi revolusioner pencetak generasi emas, program andalan triliunan rupiah ini justru babak belur di halaman depan media internasional.
Publik dunia kini menatap Indonesia bukan dengan decak kagum, melainkan dengan kernyitan dahi akibat rentetan kasus keracunan massal yang meracuni ratusan anak sekolah di negeri sendiri.
Media-media Rusia seperti Moskovskij Komsomolets dan News AM, yang mengekor laporan Daily Mail Inggris, dengan telanjang membeberkan jeritan para siswa dan guru yang terkapar mual serta muntah-muntah.
Alangkah ironisnya ketika sang kepala negara sibuk menebar citra dermawan di forum ekonomi internasional, di saat bersamaan anak-anak di akar rumput justru menjerit kesakitan karena menyantap makanan bantuan negara.
Panggung megah Vladivostok seketika runtuh seketika, memperlihatkan jurang menganga antara retorika politik tingkat tinggi dan bobroknya eksekusi di lapangan.
Selama ini, pemerintah terlalu mabuk kepayang dengan angka-angka statistik bombastis dan besarnya anggaran yang digelontorkan tanpa mau melihat realitas kotor di dapur-dapur distribusi.
Kasus keracunan ini membuktikan bahwa MBG dijalankan secara serampangan, mengabaikan standar higienitas paling mendasar, demi mengejar target pencitraan politik jangka pendek. Ketika nyawa dan kesehatan generasi penerus bangsa dipertaruhkan hanya demi ambisi pamer prestasi, negara telah melakukan pengkhianatan terselubung terhadap rakyat kecil yang mempercayai janji manis penguasa.
Selama ini pula, respons penguasa terhadap krisis kerap kali berlindung di balik dalih “gangguan kecil” atau menuding kritik sebagai upaya menjatuhkan pemerintah.
Padahal, bau busuk kelalaian pengadaan bahan pangan dan buruknya pengawasan rantai pasok tidak bisa ditutupi hanya dengan pidato pembelaan diri yang kosong. Jika pemerintah terus bersikap arogan dan menutup mata, jangan heran jika program mercusuar ini berubah total menjadi kuburan massal kredibilitas rezim yang berkuasa.
Transparansi yang dijanjikan pemerintah seringkali hanya sebatas jargon basa-basi tanpa ada audit independen yang membuka kebenaran secara terang-benderang kepada publik.
Rakyat berhak tahu siapa para vendor nakal yang meraup untung di atas penderitaan anak-anak sekolah, dan sanksi apa yang benar-benar dijatuhkan kepada para pemangku kepentingan yang lalai.
Tanpa pertanggungjawaban hukum yang keras dan tanpa pandang bulu, investigasi ala kadarnya hanya akan menjadi sandiwara busuk untuk meredam kemarahan massa sesaat.
Kritik pedas terhadap MBG bukan berarti publik berniat menghancurkan masa depan anak bangsa, melainkan bentuk kemarahan atas ketidakbecusan birokrasi dalam mengurus urusan perut rakyatnya sendiri.
Bagaimana mungkin kita bercita-cita membangun manusia unggul 2045 jika untuk urusan sepiring nasi dan lauk sederhana saja negara gagal menjaminnya bebas dari racun?
Setiap butir nasi beracun yang masuk ke mulut siswa adalah monumen kegagalan negara dalam melindungi warga paling rentan dari keserakahan proyek mercusuar.
Kini, ujian sesungguhnya bagi Prabowo bukan lagi seberapa lihai ia merayu pemimpin dunia di panggung diplomasi, melainkan keberanian membersihkan kotoran di halaman belakang istananya sendiri.
Jangan biarkan gengsi politik internasional mengalahkan akal sehat, hingga akhirnya anak-anak Indonesia terus menjadi korban tumbal dari ambisi program yang cacat pengawasan sejak dalam pikiran.
Baca juga:
Kang Supardi, Wartawan Muda Penuh Berkah
Jika pemerintah gagal total membenahi kekacauan ini sekarang juga, maka sejarah akan mencatat MBG bukan sebagai warisan keemasan, melainkan skandal keracunan terbesar yang meruntuhkan martabat bangsa.












Komentar