Tanganrakyat.id – Selat Hormuz kini bukan lagi sekadar jalur air internasional, melainkan sumbu mesiu paling mematikan di muka bumi. Ketika Amerika Serikat dan Iran saling unjuk gigi dengan armada perang dan sanksi ekonomi, kawasan Teluk dipaksa bersiap menghadapi malapetaka. Di tengah ketegangan yang kian mendidih, Qatar melontarkan peringatan keras yang telak: menghentikan perang tanpa menyentuh akar masalah sama saja memelihara bom waktu.
Sikap tegas ini disuarakan langsung oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al-Ansari. Doha dengan blak-blakan menolak solusi instan yang kerap dibanggakan Barat—jeda tembakan semu yang hanya menjadi biang kerok eskalasi baru dalam hitungan bulan. Bagi Qatar, pendekatan otot ala Washington dan Teheran adalah ilusi berbahaya. Rudal boleh saja meluncur dan kapal induk boleh dikerahkan, namun sejarah membuktikan bahwa kekuatan militer mentah tidak pernah mampu meredakan ego politik.
Ironisnya, AS dan Iran masih terjebak dalam jurang paranoia akut. Washington ngotot mempertahankan hegemoninya, sementara Teheran melawan dengan menyandera jalur logistik global. Selat Hormuz dijadikan alat tawar paling mematikan, mengancam urat nadi energi dunia dan stabilitas ekonomi jutaan manusia di luar Timur Tengah. Jika satu salah langkah di perairan ini memicu efek domino balasan, kawasan Teluk dipastikan rata dengan tanah.
Baca juga:
Sudah saatnya dunia berhenti berpura-pura bahwa sanksi ekonomi dan gertakan militer adalah jalan keluar. Jika AS dan Iran tetap buta dan tuli pada diplomasi bertahap yang ditawarkan Doha, konfrontasi terbuka ini tidak akan melahirkan pemenang—hanya menyisakan reruntuhan ekonomi global dan lautan api di Timur Tengah.













Komentar