Tanganrakyat.id – Cibodas – Banyak cara yang bisa dilakukan orang untuk berpartisipasi menyelamatkan bumi dari polusi dan kehancuran. Salah satunya, seperti yang dilakukan oleh Raya Kultura dengan menggelar Lomba Cipta Cerpen Cinta Bumi (LCCCB) ICLaw Green Pen Award 2019.
Animo masyarakat dan sastrawan Indonesia untuk ikut serta dalam lomba cerpen memperingati Hari Bumi tersebut tinggi sekali. Hanya dalam waktu kurang dari 3 bulan (Januari-Maret 2019) jumlah naskah yang masuk sekitar 1600 buah yang dibagi ke dalam dua kategori, yatitu pelajar dan umum.
Pengumuman pemenang lomba yang terbagi menjadi dua kategori A dan B tersebut berlangsung di Villa Yeni Fatmawati Fahmi Idris, Desa Cimacan-Jalan Raya Cibodas, Kampung Rarahan Cibodas Kawa Barat, Senin, 22 April 2019, yang bertepatan dengan peringatan hari bumi.
Keluar sebagai juara pertama untuk kategori A (pelajar) diraih oleh Elviani Anggratama dari SMA Dharmawangsa Jakarta Barat dengan cerpen berjudul Aku dan Bumiku. Juara kedua oleh Febby Imannuela dari SMA Don Bosco 2 Pulo Mas Jakarta Timur dengan cerpennya yang berjudul Selamat Ulang Tahun. Sedangkan juara ketiga cerpen berjudul Botol Kuning karya Ega Putera Siregar dari SMA 6 Jakarta.
Para juara berhak atas hadiah dan piagam dari ICLaw Green Pen Award masing-masing 2 juta rupiah, 1,5 juta rupiah dan 1 juta rupiah.
Selain itu juri juga memberikan hadiah sebesar Rp. 750.000,- kepada 3 karya unggulan terpilih.
Sementara untuk kategori B (umum) adalah cerpen dengan judul “Daun Tebu Keemasan” karya Pipiek Istianti dari Kudus, Jawa Tengah. Sementara juara kedua diraih oleh Abdul Warits dari Sumenep, Madura dengan judul Belajar Mencintai Bumi kepada Nenek, dan juara ketiga cerpen berjudul Lanai karya Nabila Shasa dari Pakanbaru, Riau.
Masing-masing pemenang berhak atas hadiah uang dan piagam dari ICLaw Green Pen Award senilai 5 juta rupiah juara pertama, 3,5 juta rupiah untuk juara kedua dan 1,5 juta rupiah untuk juara 3.
Juri juga memberikan hadiah sebesar Rp.750.000 kepada 11 karya unggulan terpilih.
Ketua Dewan Juri Naning Pranoto didampingi Ketua Dewan Kehormatan Maman S. Mahayana dan tuan rumah ICLaw Yeni Fatmawati Fahmi Idris menjelaskan, pemilihan pemenang berlangsung independen, fair dan bisa dipertanggungjawabkan secara akademis, sesuai dengan kriteria yang dibuat.
“Kami independen dan sangat menjaga integritas. Bahkan dalam menentukan para kami juga ‘berantem’ mempertahankan keyakinan masing-masing, ” tutur Naning, penulis wanita, yang sudah menulis puluhan buku ini.
Yang menarik, lanjut Naning peserta tersebar dari Aceh sampai Papua, bahkan juga ada naskah dari luar negeri seperti Taiwan dan Hongkong, yang dikirim oleh para pekerja Indonesia di sana.
Cerpen Daun Tebu Keemasan dipilih, tambah Naning, karena ceritanya sangat menyentuh, penulis paham sekali mengenai seluk-beluk perkebunan tebu, kisahnya kekinian dan memenuhi unsur-unsur yang ditetapkan panitia.
Cerpen karya Pipiek Istianti itu berkisah tentang seorang bapak yang tadinya memiliki perkebunan tebu yang luas. Ia dirayu oleh salah seorang keluarga yang mempunyai suami di Arab, untuk menunaikan ibadah haji dengan menjual lahan perkebunannya. Ironisnya setelah lahannya dijual, ia kena tipu. Uangnya raib. Si Bapak stress dan akhirnya setiap hari pekerjaannya hanya mengolah lahan tebu imajinernya. (Asep)













Comment