Indramayu, tanganrakyat.id – Suasana mencekam menyelimuti pusat keramaian Jalan DI Panjaitan, tepat di depan Mie Gacoan, saat seorang pengendara Yamaha Aerox menjadi korban keberingasan geng motor pada Sabtu dini hari (21/2/2026) pukul 01.40 WIB.
Tanpa belas kasihan, gerombolan pelaku menebas korban hingga terkapar bersimbah darah di tengah jalan, mengubah keheningan malam menjadi mimpi buruk yang menghancurkan rasa aman warga.
Insiden tragis ini bukan sekadar kriminalitas biasa, melainkan tamparan keras bagi nurani kita bahwa nyawa manusia seakan tidak lagi berharga di tangan para pemangsa jalanan.
Tangis dan amarah pecah dari warga sekitar yang menyaksikan betapa murahnya harga nyawa di mata para pelaku yang langsung melarikan diri ke kegelapan malam.
Rudi (34) dan Siti (41), mewakili jeritan hati masyarakat Indramayu, mendesak aparat penegak hukum untuk tidak hanya hadir saat darah telah tumpah, namun bertindak nyata memberantas akar kekerasan ini.
“Kami takut keluar malam,” ungkap mereka dengan nada getir, menggambarkan betapa teror ini telah merampas kemerdekaan warga untuk sekadar melintas di tanah kelahiran mereka sendiri tanpa rasa cemas akan senjata tajam yang mengintai.
Kini, korban masih berjuang antara hidup dan mati di ruang perawatan rumah sakit, sementara polisi terus memburu para pelaku yang diduga merasa kebal hukum.
Baca juga:
Peristiwa ini menjadi alarm yang memekakkan telinga bagi seluruh elemen masyarakat dan pihak berwenang: sampai kapan kita akan membiarkan jalanan Indramayu dikuasai oleh mereka yang haus darah?
Ketegasan hukum bukan lagi pilihan, melainkan keharusan mutlak sebelum ada lagi ibu yang kehilangan anak atau istri yang kehilangan suami akibat kebrutalan yang tak kunjung usai ini.













Comment