Jakarta, tanganrakyat.id – PT Pertamina Hulu Energi (PHE) secara resmi mensosialisasikan konsep Kerja Sama Operasi dan/atau Teknologi (KSOT) dalam pengelolaan struktur serta area migas di Jakarta pada Jumat (24/4/2026).
Langkah strategis ini diambil sebagai upaya nyata untuk menggenjot produksi migas nasional sekaligus memperkuat ketahanan energi Indonesia dengan memanfaatkan potensi idle wells dan undeveloped discovery. Kegiatan ini sekaligus menjadi implementasi konkret dari regulasi Permen ESDM No. 14 Tahun 2025 dan PTK SKK Migas No. 23 Tahun 2025, yang membuka ruang kolaborasi lebih luas antara PHE dengan mitra penyedia teknologi.
Dalam pelaksanaannya, PHE akan menawarkan pengelolaan terhadap 31 struktur migas yang tersebar di Regional 1 hingga Regional 4, yang dibagi dalam dua tahap penawaran.
Direktur Utama PHE, Awang Lazuardi, menegaskan bahwa seluruh proses kolaborasi ini wajib memegang teguh prinsip Good Corporate Governance (GCG) dan menempatkan aspek Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) sebagai prioritas mutlak yang tidak bisa dikompromikan. Komitmen ini selaras dengan arahan jajaran manajemen Pertamina dan SKK Migas yang menekankan bahwa peningkatan produksi harus berjalan beriringan dengan standar keselamatan kerja yang ketat serta manajemen risiko operasional yang mumpuni.
Selain mengejar target produksi, PHE menegaskan dedikasinya terhadap praktik bisnis yang bersih dengan mengedepankan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) serta penerapan Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) sesuai standar ISO 37001:2016.
Baca juga:
Umat Kristiani Pertamina Patra Niaga Kilang Balongan Gelar Ibadah Paskah dengan Khidmat
Melalui inisiatif KSOT yang juga ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama Idle Wells Batch 1 tersebut, PHE optimistis mampu mengoptimalkan aset-aset yang belum termanfaatkan secara maksimal untuk mendukung kemandirian energi nasional di tengah tantangan geopolitik global saat ini.













Comment