Meneladani Jejak Syiar Islam, Keluarga Besar MTsN 2 Indramayu  Dan Kepala Desa Singajaya Ziarah ke Makam Sunan Gunung Jati

  • Bagikan
Meneladani Jejak Syiar Islam, Keluarga Besar MTsN 2 Indramayu  Dan Kepala Desa Singajaya Ziarah ke Makam Sunan Gunung Jati (Foto: Istimewa)

Cirebon, tanganrakyat.id – Suasana khidmat menyelimuti kompleks pemakaman Sunan Gunung Jati, Cirebon, pada Minggu Wage,  (26/7/2026) pagi.

Rombongan yang terdiri dari Kepala Desa / Kuwu Singajaya, Khairul Anam, bersama Kepala Sekolah, guru-guru MTs Negeri 2 Indramayu, serta Ketua Ikatan Wartawan Online (IWO) Kang Supardi, tiba di lokasi tersebut tepat pukul 11:10 WIB. untuk melaksanakan ziarah religi.

​Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan mendalam kepada Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, salah satu tokoh Wali Songo yang lahir pada 1448 dan wafat pada 1568. Selain dikenal sebagai ulama besar penyebar agama Islam di tanah Jawa, Sunan Gunung Jati juga merupakan pemimpin Kesultanan Cirebon yang membawa peradaban wilayah tersebut mencapai puncak kejayaannya.

​Dalam momen tersebut, Kepala Sekolah MTs Negeri 2 Indramayu  Mohammad Kholid, S.Pd.I., M.Pd.I., berdoa bersama rombongan. Selain mendoakan agar Sunan Gunung Jati mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya, ia juga memanjatkan doa untuk keselamatan serta kemajuan pendidikan di MTs Negeri 2 Indramayu, serta kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Indramayu.

Kompleks pemakaman Sunan Gunung Jati yang berlokasi di Jalan Alun-alun No. 53, Desa Astana, Kecamatan, Gunung Jati, Kabupaten, Cirebon (Foto: Istimewa)

Kepala Desa Singajaya, Khairul Anam, menyampaikan bahwa ziarah ini menjadi sarana spiritual penting untuk mengenang perjuangan dakwah para leluhur. Ia menekankan bahwa kegiatan ini tidak hanya sekadar berkunjung, melainkan pengingat akan kematian sekaligus praktik ngalap berkah dari kesalehan dan dedikasi perjuangan Walisongo bagi syiar Islam.

Baca juga:

Mengungkap Sejarah Masjid Kyai Syakir Indramayu: Pusat Zikir yang Selalu Ramai Peziarah dari Berbagai Daerah

​Senada dengan hal tersebut, Ketua IWO (Ikatan Wartawan Oline), Kang Supardi, menjelaskan ada tiga hikmah utama di balik tradisi ziarah kubur. Menurutnya, ziarah berfungsi untuk mendoakan ampunan bagi jenazah, menjadi pengingat bagi peziarah akan kehidupan akhirat, serta sebagai media untuk melembutkan hati agar lebih giat dalam beribadah sebagai bekal kehidupan kekal.

​Kompleks pemakaman yang berlokasi di Jalan Alun-alun No. 53, Desa Astana, Kecamatan, Gunung Jati, Kabupaten, Cirebon  ini, tidak hanya menjadi peristirahatan terakhir sang Wali, tetapi juga para kerabat beliau. Area yang disebut Gunung Jati ini menyimpan deretan makam kuno yang penuh dengan nilai sejarah tinggi bagi perkembangan agama Islam di Indonesia.

​Keunikan arsitektur makam pun menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung. Saat memasuki ruangan makam, peziarah akan disambut dengan dinding bernuansa putih yang dihiasi piring-piring keramik cantik serta tiang penyangga dari kayu. Ornamen di pintu utama secara visual menunjukkan perpaduan apik dari tiga budaya besar, yakni Jawa, Tiongkok, dan Arab.

Kegiatan ziarah ini diharapkan dapat mempererat tali silaturahmi antara aparatur desa, pendidik, dan media, sekaligus melestarikan kearifan lokal yang menjadi napas keagamaan di tanah Jawa.

Dengan meneladani sosok Sunan Gunung Jati, rombongan berharap semangat perjuangan dan kesalehan beliau tetap hidup dalam jiwa setiap insan yang datang berkunjung.

Penulis: Achmad A'la Derajat
  • Bagikan

Comment