Ratusan Siswa SMAN 1 Tukdana Keracunan Makan Bergizi Gratis, Mitra SPPG Kerticala II Siap Tanggung Jawab Penuh

Indramayu, tanganrakyat.id – ​Sebanyak 105 siswa SMAN 1 Tukdana, Kabupaten Indramayu, mengalami gejala keracunan massal pada Senin Kliwon, (5/10/2026) pagi setelah mengonsumsi paket menu ayam tepung dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disediakan oleh dapur SPPG Kerticala II. Insiden ini langsung mendapat perhatian luas setelah puluhan siswa terpaksa dilarikan ke Puskesmas Tukdana dan Puskesmas Kerticala, sementara dua orang siswa lainnya harus dirujuk ke RSUD Indramayu untuk mendapatkan penanganan medis lanjutan.

​Menanggapi kejadian tersebut, Kepala Dapur SPPG Kerticala II, Susan Maulin Agustin, S.Pd., secara terbuka menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada para siswa, wali murid, dan pihak sekolah. Ia mengakui secara jujur bahwa insiden ini dipicu oleh kualitas bahan baku ayam tepung yang kurang baik, sehingga memicu gangguan kesehatan serius bagi para pelajar.

Pihaknya berjanji menjadikan peristiwa ini sebagai bahan evaluasi total untuk perbaikan mutu ke depannya.

​Komitmen serupa juga disampaikan oleh Hakim selaku perwakilan mitra SPPG Kerticala II. Pihak penyedia menegaskan kesiapan penuh untuk bertanggung jawab secara moral maupun material, termasuk menanggung seluruh biaya pengobatan dan perawatan medis bagi para siswa di berbagai fasilitas kesehatan. Langkah cepat dan kooperatif ini diambil sebagai bentuk itikad baik dalam memulihkan kondisi para korban secepat mungkin.

Akui Kelalaian, Mitra SPPG Siap Tanggung Jawab atas Penanganan Siswa Terdampak MBG (Nda Yaya)

Baca juga:

Skandal Makan Bergizi Gratis di Indramayu: Puluhan Siswa SMAN 1 Tukdana Tumbang Massal, Diduga Keracunan Menu MBG!

​Kolaborasi intensif saat ini tengah terjalin antara pihak sekolah, fasilitas kesehatan setempat, dan pengelola SPPG guna memastikan seluruh korban mendapatkan perawatan yang optimal. Di sisi lain, Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu masih mendalami sampel makanan terkait untuk diuji di laboratorium, yang hasilnya nanti akan menjadi acuan resmi guna memperketat sistem pengawasan program gizi di masa mendatang.

Komentar