Sejarah Indramayu: Wiralodra dan Endang Darma (H.A. Dasuki (HAD)-Sutadji KS (STKS)-Supali Kasim (SK)-Didi Tarmidi (DT) Hingga Adung Abdul Gani (AAG)

  • Bagikan
Direktur PKSPD (Pusat Kajian Strategis Pembangunan Daerah) O'ushj Dialambaqa (Foto.Red)

Oleh: O’ushj.dialambaqa

Tanganrakyat.id, Indramayu-Pada tahun 2003an, saya menyempatkan diri menemui orang yang konon diberi kuasa merawat pusaka Wiralodra, salah satunya adalah Cakra. Dikenal sebagai paranormal menurut banyak orang yang disampaikan ke saya, Dasuki namanya, tinggal di desa Pekandangan Kec/Kab. Indramayu, nama yang sama dengan penulis buku Sejarah Indramayu H.A. Dasuki (SI-HAD). Di dinding ruang tamu terpajang seperti Cakra, kemudian saya tanya benda itu, dan membenarkan bahwa itu Cakra, menurutnya adalah pusaka peninggalan Wirolodra. Menurut pengakuannya, diberi kuasa untuk merawat semua benda-benda pusaka peninggalan Wiralodra.

Saya terusik mengajukan pertanyaan padanya. Apa bedanya Cakra Wiralodra dengan Cakra-Cakra yang lainnya? Pertanyaan itu sesungguhnya bagi saya tidak membutuhkan jawaban atau penjelasan darinya, karena benar saja tidak bisa memberikan penjelasan yang cukup secara metodologis akademik sebagai sebuah fakta dan peristiwa sejarah masa lampau yang diagung-agungkan dan atau disucikan oleh banyak kalangan, terutama orang-orang yang berhasrat hendak berkuasa dan atau orang-orang yang ada motif lain di balik itu semua, terutama para politisi dan atau para calon Bupati (yang mendalilkan dirinya titisan Wiralodra), akademisi yang ngawur (melacur) dan atau intelektual yang sakit panas serta merta para seniman dan budayawan salon.

Penjelasan yang saya dapatkan adalah pandangan mitos klenik. Keterusikan saya akan berlanjut jika masuk pada kedalaman metafisika, karena masih bisa kita dialogkan, tetapi ternyata apa jauh dari panggang, sehingga saya tidak perlu memperpanjang keterusikan dan atau mendialektikakannya.

Bukunya Didi Tarmidi

Buku “Sejarah Indramayu” Didi Tarmidi (SI-DT), terbit September 2010, penerbit Richard Hanafi Pustaka Bandung. Buku SI-DT setebal 117 halaman dengan memuat dua daftar pustaka: 1. Manuskrip kulit menjangan, Wiralodra I, dan 2. Lontar Babad Darma Ayu Nagari, (Tahun Candra Sangkala). Cover buku belakang termuat komentar dari Prof. Setiawan Sahbana, MFA, PhD, Ketua Mesium Care Indonesia/FSRD-ITB), Medya KS. Robert, Public Relation in Singapore Company), Maghtur Ali, SH, MSi, Pemilik sekolah Alam “Medan Raya” (Wong Dermayu ning Medan). Sabiq Darwinto, SE, AK, Pemilik Dealer Mobil “Reza”/Wong Dermayu tinggal di Surabaya). Arsikin, Ketua IKA Darma Ayu Bandung. Samsul Arif, Ketua Permai Ayu Jakarta. Sihab Ricardo, Ketua IKA Wira Darma Malang. Munawir, KAPMI Yogyakarta.

SI-DT memuat biodata; Didi Tarmidi, lahir di Cikedung Indramayu 09 September 1978, masa remaja dilalui di Malang dengan mesantren di pondok pesantren Shirotul Fuqoha. Menjadi ketua santri/lurah pesantren. Menjadi ketua pesantren entrepreneur se-Jawa Timur 1999-2001 dan ketua LSM Yayasan Karsa Manunggal. Alumunus Ekonomi Study Pembangunan Universitas Pajajaran Bandung. Sekarang menjadi staf pengajar di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung dan dosen di beberapa Univ swasta, menghadiri banyak seminar didalam dan luar negeri, adapun jurnal yang sudah dipublikasikan seperti demokrasi dan komunisme, mazhab dago; solusi alternatif memecahkan krisis ekonomi Indonesia, tourisme: bandung and malacca in all aspects, dll serta menulis buku pengantar ekonomi parawisata dalam dimensi sejarah dan novel filsafat ”membaca langit.”(huruf, kata dan ejaan disalin sesuai dengan tulisan yang ada pada buku yang diterbitkan).

Pengantar buku dan sambutan: 1. Prof. Dr. H. Darsiharjo, M.S, Guru Besar Geografi Parawisata Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. 2. Drs. Pramaputra, MM, Kepala Balai Pengelolaan Museum Negeri Sri Baduga. 3. Prof. Dr. H. Wahyudin Zarkasih, Kadisdik Jawa Barat/Mantan Pembantu Rektor 3 Universitas Pajajaran (UNPAD) Bandung. 4. Ir. H. Suwarno Sutarahardja, MSF, Mantan Dekan FKehut/Pim Pro Pengembangan Kampus Institut Pertanian Bogor Darmaga/Wong Dermayu. 5. Ki Tarka Sutarahardja, Ketua Forum Jati Budaya Indramayu (FJBI) dan 6. Syamsul Ma’arif HB (tokoh mahasiswa indramayu DKI Jakarta, Mantan Ketua Umum PERMAI-ayu DKI Jakarta, Koordinator Umum AMIN Aliansi Mahasiswa Indramayu se-Nusantara) dan 7. Asyariqin Syarif Wahadi (Ketua Umum Ikatan Keluarga Mahasiswa Indramayu Bandung 2009-2011). SI-DT dilengkapi dengan sambutan tulisan tangan Sesepuh kel. besar Wiralodra, R.H. Dasuki.
Menyimak, menelaah, mengkaji dan membolak-balik buku SI-DT, serupa jika kita membaca skenario sinetron kejar tayang televisi di republik negeri ini, pun alur dan dramatikal ceritanya, yang kata DT adalah Sejarah Indramayu dengan tokoh sentralnya bernama Wiralodra dan Endang Darma, dengan gaya ungkap, bertutur dan atau menuturkan cerita tokoh-tokohnya serupa dengan cerita sinetron, seperti Wiralodra, Endang Darma, Ki Tinggil, Kiyai Sidum, Pangeran Guru, Raden Gagak Singalodraka (hal. 1 tapi di hal. 29 disebut Raden Singalodra Tumenggung di Bagelen, ayah Wiralodra) dan seterusnya. Gaya mendongeng, itu kelebihan SI-DT, yang sekaligus menjadi kefatalan dalam penulisan sejarah, sehingga sangat menggelikan.
Mari kita simak: … bersabda: “Hai Putraku Wiralodra, sebenarnya pangeran Guru di Palembang itu masih termasuk keluarga kita juga. Asal Majapahit yang menyiarkan Perguruan Ilmu. Oleh sebab itu hal ini perlu dibela. Tangkaplah Nyi Endang Darma segera, tetapi harap dengan cara-cara yang sopan dan halus, bersama-samalah dengan saudara-saudaramu Wasangnegara, Wangsayudha, dan adik-adikmu Tanujaya dan Tanujiwa.” …suara gaib yang memberi petunjuk kepada Raden Wiralodra. “Cucuku Raden Wiralodra, apabila engkau ingin mendapatkan kemulyaan hingga tujuh turunan. Cucuku harus dapat menebang (membabad) hutan yang letaknya di sebelah barat di tepi sungai Cimanuk dan berangkatlah segera.”

Ayah dan ibuku selama ananda pergi merantau bersama Ki Tinggil, hamba telah bertapa di lereng Gunung Sumbing. Dalam pertapaan itu ananda mendapat ilham dan menurut suara gaib yang dituturkan kepada ananda, jika ananda ingin mendapatkan kemuliaan hingga sampai tujuh turunan, ananda harus dapat menebang (membuka) hutan yang ada disebelah sungai Cimanuk. SehubUngan dengan itu kehadiran ananda pada saat ini untuk memohon petunjuk dan doa restu ayah, ibu dan semua saudara hamba, dimana letak sungai Cimanuk itu?

Mari kita simak juga ciri bertutur cerita atau mendongeng, seperti kata “Tersebutlah.” (hal. 21). “Tiada terkisahkan.” (hal. 28). “Tiada diceritakan.” (hal. 30). “Terdengarlah suara meriam.” (hal. 37). “Pada suatu hari.” (hal. 40). “Pada suatu ketika.” (hal. 48). “Setelah itu semua terjadi.” (hal. 50). “Tersebutlah Negara Dermayu.” (hal. 52).

Seperti halnya dengan Menapak Jejak Sejarah Indramayu Supali Kasim (MJSI-SK), DT jauh lebih farah dan fatal (apalagi DT sebagai dosen atau akademisi), padahal DT dalam biodatanya sebagai novelis filsafat “membaca langit” yang seharusnya jauh lebih paham ketimbang SK soal metodologi akademik dalam penulisan buku sejarah.

Menulis buku sejarah, menuliskan sejarah, yang peristiwa kesejarahannya sangat lampau, itu menjadi amat sulit dan atau rumit dimana para pelaku sejarah dan saksi peristiwa sejarah sudah tiada ratusan tahun bahkan ribuan tahun yang silam, sedangkan peristiwa sejarah yang para pelaku sejarahnya dan para saksi peristiwa sejarahnya saja masih banyak yang hidup, buku sejarah itu seringkali menjadi gelap, kontroversial (pro dan kontra), karena tiada kejujuran dalam menulis dan atau membaca peristiwa sejarah. Yang bicara adalah kepentingan (politisasi), seperti Sejarah G 30 S/PKI atau Gestok dengan terbunuhnya Tujuh Jendral, termasuk di dalamnya persoalan Gerwani yang disebut-sebut underbownya PKI (Partai Komunis Indonesia), terutama dalam menyoal peristiwa sejarah itu, dan persoalan sejarah “Super Semar”, apakah asli atau palsu ataukah aspal (asli tapi palsu), sekalipun buat kita (saya) sudah tidak dalam kegelapan sejarah lagi (O’ushj.dialambaqa, 2019: Surat Perintah 11 Maret, Masih haruskah Dipertanyakan? Artikel tersebut telah dimuat dibeberapa media massa).
DT seharusnya bisa memisahkan batas, ketika sedang menulis novel atau cerita apapun dalam konteks sastra dengan ketika menulis buku sejarah, karena dua kutub tersebut bagaikan minyak dan air, tidak akan bisa bersenyawa, karena hukum kodrati persenyawaan kedua zat tersebut tidak bisa disenyawakan, sehingga menjadi gamblang persoalannya, bahwa DT mencoba bermain-main dengan arena politisasi untuk melakukan penguatan status quo rezim penguasa, di mana sejarah akan selalu dimenangkan oleh rezim penguasa, sehingga buku yang ditulisnya bisa ditasbihkan sebagai buku Sejarah Indramayu.

SK jauh lebih cerdik, karena arena yang dimainkan adalah dunia kelabu atau seperti dua dunia acara televisi, sekalipun amat klenik. Ini bisa kita perdebatkan dengan mengulang-ngulang kata; jika benar, konon, mungkin dan seterusnya dari gugatan semiotika “tanda” dan “penanda.”

Peralatan yang harus dipahami dan dikuasai oleh seorang penulis (buku) sejarah, seperti soal tanda dan penanda, Heuristik, Kritik Sumber (kritik intern dan kritik ekstern), Interpretasi; penafsiran fakta sejarah pada kritik sumber, dan Historiografi , semua itu disingkirkan jauh-jauh baik oleh SK maupun DT, kemudian DT seperti menulis novel, padahal sedang menuliskan sejarah, di mana faktanya adalah peristiwa yang meng-ada masa itu atau masa lampau itu.

Dalam SI-DT serupa dengan sinetron kejar tayang, misalnya, “Tujuh Manusia Srigala” bahkan lebih hebat. Endang Darma menjelma menjadi air didalam taman bunga. Disenjatanya dengan cakranya. Kebun itu musnah tanpa bekas dan datanglah (menjelama lagi menjadi) seekor ular yang sangat besar. Diserangnya Raden Wiralodra dengan sangat buasnya/ganasnya. Namun Raden Wiralodra tidak terlambat cepat menghindar. Segera Raden Wiralodra beralih rupa menjadi seekor garuda . Endang Darma menyelinap masuk ke dalam buah jambu. Raden Wiralodra menjelma menjadi seekor burung kutilang. Endang Darma kemudian menjadi batu sebesar bukit campur berdekatan dengan batu-batu yang lain merupakan suatu barisan bukit. Raden Wiralodra menjelma menjadi petir. Disambarnya bukit itu dengan ganasnya. …..terus terjun masuk ke dalam sungai Cimanuk (hal. 35-36).

Sinetron Tujuh Manusia Harimau hanya bisa menjelma menjadi harimau, sedangkan Wiralodra dan Endang Darma bisa menjelma menjadi banyak rupa, sehingga jauh lebih hebat. Pertanyaannya adalah, jika benar punya kesaktian dan kehebatan tiada taranya itu, mengapa Belanda (VOC, Daendels dan lainnya) dan Portugis tidak tulang langgang atau tidak lari terbirit-birit sambil terberak-berak dan terkencing-kencing. Yang kata Sejarah Indonesi, kita hingga 350 tahun dijajah Belanda. Mengapa? Padahal, kita punya Wiralodra dan Endang Darma yang juga jauh melebihi Saur Sepuh dengan Ajian Serat Jiwanya dalam Sandiwara Radio di tahun 1980an yang sangat digemari dan selalu ditunggu jam siarannya.

Para nabi dan rosul, sejak Adam hingga Muhammad Rosulullah juga tidak bisa menjelama jadi binatang atau apapun seperti Wiralodra dan Endang Darma. Musa dengan tongkatnya yang bisa membelah Laut Merah ketika menghadapi ketuhanan Fir’aun, juga tak bisa menjelma menjadi naga raksasa. Ibrohim yang bisa menghidupkan burung- burung yang sudah mati di atas bukit kemudian bisa hidup kembali, juga tidak bisa menjelma jadi burung garuda raksasa.

Isa AS (QS: 5:110) yang keluar dari rahim Maryam dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian, membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung, meniup kepadanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya). menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak, mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup), juga tidak menjelama menjadi Kijang Emas, menjelma menjadi air seperti Endang Darma yang tersesat sebatangkara di hutan Cimanuk.

Yusup yang mempesona para wanita tidak menjelma menjadi perempuan cantik bagai bidadari (atau secantik Endang Darma) seperti Wiralodra yang memperdaya dan melakukan tipu daya kepada Raja Sumedang (Ki Geden Sumedang) untuk mmendapatkan tanah (wilayah) dari Sumedang, dengan skandal asmaranya, yang kemudian setelah berhasil memperdaya dan tipu muslihat menjelma lagi menjadi pria perkasa (Wiralodra sesungguhnya), sehingga Raja Sumedang kocar kacir lari kebirit-birit, dan Muhammad Rosulalullah, yang digoda dengan matahari di tangan kanannya dan rembulan di tangan kirinya juga tidak bisa menjelma menjadi petir seperti Wiralodra, yang berdasarkan SI-HAD, DPDAN-STKS, MJSI-SK dan SI-DT, Wiralodra adalah pemeluk (beragama) Islam sebelum Portugis menginjakkan kakinya ke Nusantara (sebelum 1527). Mengapa para nabi dan rosul tidak bisa? Hanya orang-orang yang berfikirlah yang bisa untuk menjawabnya.

Reankarnasi ataupun apapun kehebatan manusia yang (dianggap) sakti bisa menjelma dalam bentuk dan rupa apapun, dalam Islam tidak ada, kecuali dalam film “XMEN” yang disutradari oleh Bryan Singer, Simon Kinberg dan Matthew Voughn. Jadi BD yang dijadikan sumber utama sebagai referensi sumber skunder oleh HAD, STKS, SK dan DT, sama sekali tidak mengandung peristiwa sejarah dan tidak memiliki kesejarahan, dan secara sosiologis adalah “a-historis”, tetapi itu semua tak lebih dari sekedar dongeng (cerita) fiksi. Dongeng, Babad, Hikayat, Legenda atau apapun namanya itu bisa di-fiksi-kan dan ceritanya merupakan fiksional, tetapi sejarah, sekali lagi, tidak bisa difiksikan dan bukanlah fiksional.

Kesesatan Pengantar

Buku SI-DT, jauh lebih farah dan fatal ketimbang buku SI-HAD, DPDAN-STKS dan MJSI-SK, karena yang memberi kata pengantar dan komentar adalah para Profesor (Guru Besar) dan para sarjana, yang secara akademik dikatakan kaum intelektual organik, istilah Antonio Gramsci. Ternyata, apa yang dikatakan para Guru Besar dan para sarjana itu yang secara literer disebut kaum intelektual justru sangat menyesatkan bagi pembaca yang tidak kritis. Apa yang dikatakan para pengantar buku dan komentar buku akan dianggap benar, baik secara logika maupun akal sehat, karena anggapan keintelektualannya, tetapi justru faktanya menjadi paradoks dan bahkan sangat menyesatkan. Menjadi penggelapan (menggelapkan) sejarah dan kesejarahannya.

Mengapa itu sampai terjadi? Ada beberapa kemungkinan, antara lain; merasa tidak enak (ewuh pakewuh, tidak sampai hati) jika harus dibaca secara cerdas, kemudian harus dibedah secara akademik, dan mungkin penulis bukunya langsung, dalam hal ini DT mendaulat (ekstrimnya menodong) dan atau meminta dengan sangat agar mau memberikan kata pengantar dan komentar, sehingga tidak sampai hati jika permintaan tersebut ditolak. Kemungkinan yang ketiga, dalam hal ini wong Dermayu (relasi kultural feodalistik) yang dimintai komennya yang dianggap sukses dalam status sosial dan dianggap intelektual, diharapkan bisa mempengaruhi pembaca (yang tidak idiot) atau yang tidak dungu.

Kita (saya), sangat yakin para Guru Besar itu tidak membaca secara cerdas buku DT yang dikatakan Sejarah Indramayu dan atau sama sekali tidak membacanya, tetapi hanya mendengarkan penjelasan dari DT saja. Jika mereka semua membaca secara lengkap dan atau utuh, maka kita (saya) sangat yakin tidak akan mengatakan itu buku sejarah, apalagi kesejarahan mengenai tokoh sentralnya; Wiralodra (Bagelen, Banyuurip, Demak) dan Endang Darma (yang tak diketahui dari mana asal usulnya, apakah makhluk Astral). Tetapi, jika mereka, para Guru Besar telah membacanya secara utuh, lantas memberikan pengantar dan komentar seperti itu, maka itu merupakan pengkhianatan (kaum) intelektual, karena terdapat antinomi antara kekuasaan (misalnya, karena status sosialnya yang disandang) dan kebenaran, di mana mencari kebenaran adalah pekerjaan kaum intelektual (Julien Benda, 1999).

Semua orang adalah intelektual, namun tidak semua orang mempunyai fungsi intelektual dalam masyarakat (Antonia Gramsci, 1971), yang kata Pierre Bourdieu dalam Collective Intellectuals, kelompok intelektual adalah salah satu dari kelas yang ada; mereka menggunakan pengetahuannya untuk mempromosikan kepentingan dan kekuasaan kelas intelektual, di sini antinomi normatif antara pengetahuan dan kekuasaan telah ditinggalkan, dan menggantikannya dengan pengetahuan sebagai bentuk kekuasaan yang dimiliki kaum intelektual.

Mari kita simak berikut ini sebagai fakta yang meng-ada: Informasi tentang masyarakat dan kebudayaan serta sejarah Indramayu belum banyak diketahui. Didi Tarmidi sangat peduli tentang hal ini. Karena itu, upaya untuk membuat tulisan tentang kesejarahan dan kebudayaan kota pesisir Jawa Barat ini menjadi penting dan bernilai. Saya yakin buku yang disusun oleh Didi Tarmidi ini akan memberikan kontribusi berharga bagi berbagai pihak yang peduli terhadap kemajuan Indramayu, dan sekaligus bagi skala dan dimensi kesejarahan Nusantara pada umumnya (Prof. Setiawan Sabana. MFA, PhD, Ketua Museum Care Indonesia/FSRD-ITB).

Sejarah Indramayu mungkin nantinya akan banyak versi, tetapi karya Kang Didi punya sisi lain karena integritas diri, keilmuannya, dan ketulusan menghidupkan semangat “the Founding Father” Indramayu, serta meluruskan sejarah leluhurnya. Itulah yang menjadi kekuatan buku ini. Selain tentu saja didukung oleh data-data dan referensi yang jelas. Wong Dermayu Wajib maca buku kien (Maghfur Ali, SH, M.Si, Pemilik Sekolah Alam “Medan Raya” [Wong Dermayu ning Medan].

Untuk itu, jika kita mau meluruskan SI, kita (saya) sangat yakin kebanyakan akan menolaknya, yang sepakat akan sebanyak jari, karena dengan melakukan penggelapan SI tersebut justru menguntungkan banyak pihak, terutama para politisi, pecundang dan oponturir yang mengklaim dirinya ahli waris, titisan dan DNA Wiralodra dan Endang Darma.

Maka jika kita harus meluruskan sejarah, SI harus dibongkar total dengan melibatkan para arkeolog, sejarawan dan kaum intelektual yang tidak melacur, untuk melakukan riset ilmiah (akademik), menguji kebenaran asumsi, termasuk benda-benda pusaka Wiralodra dan Endang Darma dengan uji forensik terhadap kebenaran Cakra yang dibawa Wiralodra dari Bagelen, yang berarti sebelum tahun 1527, Lontar Babad Darma Ayu Nagari, Gelang-Mingmang Latamosandi, peninggalan R. Indrajaya, Baju Waring Demang Bai, Berokan, kesenian asli Indramayu yang dilupakan, Gagak Pinansi, Umbul-umbul kebesaran kerajaan Indramayu, Golok milik R Kerta Wijaya, Hiasan Perahu semasa Wiralodra VI, Jubah dan Topi Kiyai Tambal R. Arya Wiralodra semasa Babad Kali Cimanuk, Keris Emas Pamor Cakra Milik R. Kartawijaya, Keris Gagak Pernala-R. Aria Wiralodra I, Keris Ki Buyut Sidum (yang berarti tahun 1527 sudah ada), Makam Nyi Endang Darma (bisa diuji dari batu batanya dan atau yang tersisa dalam liang lahatnya), Makam Selawe, Manuskrip Kulit Menjangan R. Arya Wiralodra I, Pelor Penangkis, R. Kerta Wijaya, Keris Kidang Penanjung, Ornamen Terbuat Dari Emas Murni 24 Karat, Lumpang Kiyai Tambuh, Makam R. Wiralodra I, Tasbih R Indrajaya dan Tumpak Si Wisnu Paksi Terbuat dari Emas dan ada tulisan R. Arya Wiralodra I, Makam Demang Bai, dan yang lainnya jika masih ada yang diklaim benda pusaka Wiralodra.

Baca juga:O’ushj.dialambaqa: Meluruskan (Buku) Sejarah (Wiralodra) Indramayu

Yang kesemua itu oleh DT (termasuk HAD, STKS dan SK) dianggap benar atas peristiwa sejarah dan kesejarahannya. Padahal, DT tidak pernah menguji kebenaran itu semua secara ilmiah (kecuali atas paham mitos, mistikisme dan klenikisme) sebagai kebenaran sejarah dalam kesejerahannya. HAD, STKS, SK dan DT tidak pernah mau belajar dan atau tidak pernah mau tahu atas pelajaran hebohnya ditemukan kain kafan Yesus (Isa), yang setelah dilakukan uji forensik, ternyata hanya isapan jembol belaka. Jadi, bagaimana mungkin, kita harus mengatakan bahwa DT karena integritas dan keilmuannya? Mempolitisasi dongen menjadi sejarah, bukan mendongengkan sejarah (sejarah lisan). Inilah yang disebut menggelapkan sejarah dan kesejarahan.

Para Guru Besar yang memberikan pengantar dan komentarnya, justru memberikan kontribusi besar terhadap penyesatan, penggelapan dan kegelapan SI, mungkin dikiranya sebuah novel “membaca langit”nya Didi Tarmidi. Sungguh dahsyat penyesatannya.
Sekali lagi, sejarah tidak bisa difiksikan dan sejarah bukanlah fiksional, begitu pula kesejarahannya bukanlah fiksional. Janganlah bermain-main dengan sejarah dan kebenaran sejarah, karena waktu yang akan bicara, dan sejarah itu sendiri yang akan bicara dikemudian hari. Lantas, bagaimanakah Adung Abdul Gani (AAG) dengan Wirolodranya?*****

*) Penulis adalah Penyair, Peneliti dan sekaligus Direktur Pusat Kajian Strategis Pembangunan Daerah (PKSPD). Accontant Freelance. Tinggal di Singaraja. Kontak: 081931164563. Email: jurnalepkspd@gmail.com

  • Bagikan

Comment