Dampak Berakhirnya Perjanjian New START Terhadap Ketegangan Kawasan

  • Bagikan
Dede Farhan (Foto: Red)

Bandung, tanganrakyat.id  – ​Berakhirnya perjanjian New START bukan sekadar urusan teknis birokrasi antara Amerika Serikat dan Rusia, melainkan lonceng kematian bagi stabilitas nuklir yang telah terjaga selama dekade terakhir. Tanpa instrumen ini, dunia kehilangan “jangkar” transparansi yang selama ini membatasi jumlah hulu ledak strategis dan sistem peluncur nuklir.

Hilangnya mekanisme verifikasi dan inspeksi timbal balik menciptakan ruang gelap ketidakpastian yang berbahaya, di mana setiap pergerakan militer lawan akan ditafsirkan sebagai ancaman eksistensial, memicu dilema keamanan yang akut di panggung global.

​Runtuhnya kesepakatan ini diprediksi akan menghidupkan kembali hantu perlombaan senjata era Perang Dingin dengan intensitas yang lebih tinggi. Tanpa adanya batas kuantitatif, kedua kekuatan besar tersebut kemungkinan besar akan memacu modernisasi arsenal mereka, yang secara otomatis memaksa negara-negara lain untuk ikut mempersenjatai diri.

Risiko “salah kalkulasi” atau salah tafsir dalam pengambilan keputusan militer kini berada pada level tertinggi, di mana satu kesalahan kecil dalam diplomasi bisa berujung pada eskalasi nuklir yang fatal dan tak terkendali.

​Eropa berada di garis depan dampak destruktif ini, di mana ketegangan antara NATO dan Rusia di perbatasan Timur dipastikan akan semakin membara.

Absennya pembatasan senjata akan mendorong militerisasi besar-besaran di kawasan Baltik dan Eropa Timur, mengubah wilayah tersebut menjadi kotak mesiu yang siap meledak kapan saja.

Eskalasi ini tidak hanya mengancam kedaulatan negara-negara tetangga, tetapi juga menciptakan preseden buruk bagi kawasan lain yang sedang bergejolak, seperti Asia Timur dan Timur Tengah, yang mungkin melihat nuklir sebagai satu-satunya jaminan keamanan mutlak.

​Secara sistemik, berakhirnya New START melemahkan legitimasi rezim non-proliferasi global (NPT) dan memberikan sinyal hijau bagi kekuatan baru seperti Tiongkok untuk mempercepat ekspansi nuklirnya.

Hal ini menciptakan polarisasi geopolitik yang semakin tajam, memaksa negara-negara di kawasan menengah—termasuk Indonesia di Asia Tenggara—berada dalam posisi terjepit di antara persaingan blok-blok besar.

Dunia kini tidak lagi terbagi atas ideologi semata, melainkan atas dasar kepemilikan daya hancur massal yang mengancam keselamatan seluruh umat manusia.
​Sebagai penutup, tantangan besar yang dihadapi dunia saat ini adalah bagaimana membangun arsitektur keamanan baru yang lebih inklusif sebelum terlambat.

Meskipun kepercayaan antarnegara berada di titik nadir, diplomasi aktif harus terus diupayakan agar perlombaan senjata tidak menguras sumber daya sosial-ekonomi global hanya demi kepentingan militeristik.

Baca juga:

Dede Farhan Aulawi: Resolusi Jihad Abad ke-21 Bukan Lagi Senjata, Tapi Lawan Korupsi dan Kebodohan!

Jika komunitas internasional gagal merumuskan pengganti New START, kita tidak hanya menghadapi berakhirnya sebuah perjanjian, tetapi juga awal dari era ketidakpastian global yang paling berbahaya dalam sejarah modern.

Penulis: Oleh : Dede Farhan AulawiEditor: Nda Yaya
  • Bagikan

Comment