Dunia, tanganrakyat.id – Persoalan terbesar dunia Muslim hari ini bukanlah sekadar campur tangan kekuatan besar dari luar, melainkan ketidakmampuan kawasan ini mengubah posisinya dari objek menjadi subjek geopolitik. Selama keamanan dan arah kebijakan masih bergantung pada jaminan eksternal, ruang bagi intervensi asing akan selalu terbuka lebar.
Namun, kemandirian strategis bukan berarti mengisolasi diri atau mengusir seluruh kekuatan asing secara tiba-tiba. Realitas geopolitik menuntut fleksibilitas, di mana setiap negara berdaulat bebas menjalin kerja sama dengan Amerika Serikat, China, Rusia, maupun kekuatan global lainnya demi kepentingan nasional masing-masing.
Masalah krusial baru muncul ketika sebuah negara kehilangan alternatif akibat tingkat ketergantungan yang sudah terlalu akut. Di sinilah dunia Muslim membutuhkan lebih dari sekadar slogan persatuan; diperlukan institusi kerja sama nyata yang mencakup penguatan perdagangan internal, riset, teknologi, serta jalur transportasi bersama.
Lebih jauh lagi, diplomasi konflik harus dilembagakan secara serius melalui forum regional yang efektif guna meredam perselisihan lokal sebelum meluas menjadi krisis regional. Dengan cara ini, pengaruh luar tidak akan serta-merta hilang, tetapi kendali penuh atas masa depan kawasan tetap berada di tangan bangsa-bangsa sendiri.
Baca juga:
Mengubah Rudal Menjadi Pasar: Pelajaran dari Diplomasi Ekonomi Malaysia-Iran
Selama retakan internal dan ego sektarian belum diperbaiki, kekuatan eksternal tidak perlu repot menciptakan perpecahan baru karena mereka bisa dengan mudah bernegosiasi secara terpisah. Pelajaran geopolitik terbesarnya adalah bahwa kawasan yang kuat bukanlah kawasan tanpa perbedaan, melainkan kawasan yang mampu mengelola perbedaan secara bijak.
Oleh karena itu, penguatan kerja sama regional harus dibangun di atas fondasi kedaulatan, kepentingan bersama, dan keseimbangan kekuatan—bukan didorong oleh rasa benci terhadap aktor tertentu. Timur Tengah dan dunia Islam secara luas tidak membutuhkan hegemoni baru, melainkan arsitektur keamanan yang inklusif dan adil.
Pada akhirnya, siklus konflik berkepanjangan ini hanya akan usai ketika negara-negara Muslim berhenti meributkan dominasi kekuatan luar dan mulai fokus menjawab satu pertanyaan mendasar: kapan mereka benar-benar siap menjadi penentu utama nasib masa depan mereka sendiri?
Bahrudin El-Shiraaz, Aktivis Intelektual Pegiat Kajian Keislaman Kontemporer dan Isu Geopolitik Timur Tengah













Komentar