Proyek Pembangunan KDMP Sisakan Nestapa: Warung Ibu Roisah Bangkrut, Oknum Aparat Diduga Lepas Tangan

  • Bagikan
Warung Ibu Roisah yang bangkrut (Foto: Istimewa)

Indramayu, tanganrakyat.id – Nasib tragis menimpa Ibu Roisah (55), seorang pedagang kecil di Desa Lohbener, Kabupaten Indramayu, yang kini harus menelan pil pahit kebangkrutan. Warung sederhana miliknya, yang menjadi satu-satunya tumpuan hidup, terpaksa gulung tikar setelah terlilit utang sebesar Rp3.431.000 akibat para pekerja proyek KDMP yang enggan melunasi tagihan makanan dan minuman mereka hingga proyek rampung. Lebih menyakitkan, modal yang digunakan Roisah untuk berdagang bukanlah miliknya sendiri, melainkan hasil meminjam uang dari orang lain yang kini terus menagih janji.

​Kekecewaan mendalam menyelimuti Ibu Roisah saat ia mencoba mencari keadilan. Bukannya mendapat perlindungan, oknum Babinsa berinisial T yang diharapkan mampu menengahi permasalahan ini justru terkesan tutup mata dan lepas tangan.

Dengan alasan klasik bahwa urusan utang-piutang bukan menjadi tanggung jawabnya dan bukan urusan saya, oknum tersebut seolah membiarkan rakyat kecil yang ia lindungi terjerembap dalam kemiskinan akibat perilaku tidak bertanggung jawab para pekerja proyek.

​Tak berhenti di situ, drama di balik layar proyek KDMP (Koperasi Desa Merah Putih) ini semakin memuakkan dengan saling lempar tanggung jawab. Para mandor dan pemborong lapangan berdalih bahwa pelunasan utang warung serta gaji pekerja tertahan karena kendala administratif. Bahkan, mereka secara blak-blakan menuding pihak Danramil setempat sebagai pihak yang kini memegang kendali penuh atas wewenang pembayaran proyek tersebut.

“Saya berulang kali dijanjikan akan segera diselesaikan, hingga saat ini janji tersebut hanyalah isapan jempol belaka,” ujar Roisah dengan suara bergetar saat ditemui di warungnya, Sabtu Kliwon (27/6/2026) siang.

Ibu Roisah yang meratapi warung bangkrut karena pekerja KDMP belum bayar (Foto: Istimewa)

Janji-janji manis yang terus dilontarkan kepada Roisah terbukti hanyalah cara untuk mengulur waktu tanpa ada niat sedikitpun untuk menyelesaikan kewajiban moral dan finansial kepada mereka yang sudah sangat kesulitan.

Baca juga:

Siapkan Generasi Indonesia Emas, Dandim Indramayu Lepas 40 Siswa KKRI ke Dodikjur Rindam III/Siliwangi

​Penderitaan ini rupanya tidak dialami Roisah seorang diri. Sedikitnya tiga pekerja proyek lainnya pun bernasib sama, hak mereka berupa gaji belum dibayarkan, sementara pihak berwenang di lapangan terus-menerus menutup mata. Pembangunan yang digadang-gadang untuk kepentingan masyarakat justru berubah menjadi alat penindasan yang menyisakan luka mendalam bagi warga lokal yang termarginalkan.

​Merespons kesewenang-wenangan ini, publik kini mendesak Dandim 0616/Indramayu, Letkol Arm Tulus Widodo, S.E., M.Han., untuk segera turun tangan melakukan investigasi menyeluruh.

Masyarakat menuntut keadilan segera ditegakkan agar oknum-oknum yang bermain dalam proyek ini tidak terus dibiarkan mencoreng institusi dengan perilaku yang tidak terpuji, serta memastikan Ibu Roisah mendapatkan haknya kembali sebelum nestapa ini semakin tak berujung.

 

Penulis: Kang Prabu
  • Bagikan

Comment