oleh

Ns. Asmadi, M.Kep., Sp.Kep.Kom: Garda Terdepan Dalam Pencegahan Covid-19 Adalah Masyarakat

Tanganrakyat.id, Indramayu-Guna mencegah penyebaran Covid-19 secara meluas di Kabupaten Indramayu dilaksanakan Penerapan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dilakukan dengan tujuan untuk menekan kasus penularan Covid-19. Akan tetapi penerapan PSBB di Indramayu tidak berjalan dengan maksimal atau tidak sesuai harapan masih banyak warga yang melanggar, terbukti dengan tempat pembelanjaan yang tidak menerapkan himbauan pemerintah ataupun masyarakat yang terkesan seolah-olah indramayu dalam keadaan tidak terkena wabah covid-19, banyak masyarakat yang tidak menerapkan protokol kesehatan.

Menurut Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Indramayu, dr Deden Bonni Koswara mengatakan, berdasarkan hasil video conference dengan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil pada Hari Sabtu 16 Mei 2020 lalu, Kabupaten Indramayu masuk dalam level merah dengan kewaspadaan 4 (berat). Dengan hasil itu, maka kebijakannya adalah melakukan pelaksanaan PSBB secara penuh.

“Berdasarkan hasil rapat evaluasi maka disepakati akan melaksanakan perpanjangan PSBB penuh sampai dengan 29 Mei 2020. Suratnya Akan segera kita ajukan ke Provinsi Jawa Barat,” kata Deden, Senin (18/05/2020).

Di tempat terpisah Ns. Asmadi, M.Kep., Sp.Kep.Kom Akademisi dan Ners Spesialis Keperawatan Kom,  saat dimintain statments terkait PSBB yang kurang maksimal, beliau menuturkan
keberhasilan PSBB bisa dilihat dan diukur dari menurunnya indeks penularan atau penyebaran kasus Covid-19. Untuk mengetahui menurun atau meningkatnya kasus penularan atau penyebaran, maka sangat penting dilakukan test. Tentunya bukan sebatas mengukur suhu tubuh tapi lebih tepatnya adalah melakukan rapid test (RDT) dan swab test (PCR).
Oleh karenanya, ketika PSBB sudah diterapkan, maka semestinya test (RDT dan PCR) makin massif dilakukan. Keberadaan pos check point, yang akhir-akhir ini banyak dibentuk di Indramayu, menjadi garda depan dalam pendeteksian awal.

“Test RDT harusnya dillakukan di pos check point, sehingga bisa diketahui warga yang hasil testnya reaktif atau tidak. Oleh karena itu, pos check point perlu banyak didirikan dan bekerja 24 jam.Tentunya untuk menunjang efektifitas pos check point, maka perlu didukung dengan kelengkapan sarana prasarana terutama alat test RDT dan SDM yang kompeten. Mengenai SDM, kalau menurut saya, jangan hanya dari instansi atau dinas pemerintahan tapi juga perlu melibatkan para relawan. Tentunya relawan yang memiliki ilmu dan pengalaman yang memang dibutuhkan dalam penanganan Covid-19 ini,” ujar Asmadi, Selasa (19/5/2020), yang juga sebagai Ketua 1 F-PRB (Forum Pengurangan Risiko Bencana Kabupaten Indramayu).

Lanjut Asmadi tugas pos check point lainnya adalah menjadi pusat koordinasi lanjutan. Artinya, pos check point terkoneksi dengan semua lini. Misalnya, ketika didapatkan ada warga yang hasil RDT nya reaktif dan bergejala, maka segera dikoneksikan dengan rumah sakit rujukan untuk segera dilakukan penanganan.

Sedangkan bila hasil RDT nya positif tapi tidak bergejala, maka pos check point mengkoneksikan ke kepala desa dimana warga ini tinggal untuk ditindaklanjuti dan dilakukan pengawasan dalam pelaksanaan isolasi mandiri.

Selain melakukan test dan treatment atau penanganan, hal lain yang penting dilakukan oleh tim di pos check point adalah melakukan tracing. Tracing dilakukan secara cepat dan intensif jika didapatkan orang yang hasil testnya positif. Dengan demikian untuk mencapai keebrhasilan PSBB, maka 3 T harus dilakukan yaitu test, trace, dan treat.

Untuk itu, keberadaan pos check point bukan hanya tidak titik lokasi tertentu tetapi sebaiknya tersebar di tiap desa.

Mengingat semakin masifnya penyebaran Covid-19, maka keterlibatan peran serta aktif masyarakat sangat penting. Untuk membangun kesadaran public dalam memutus rantai penularan/penyebaran Covid-19, maka upaya pemberdayaan masyarakat harus dilakukan secara maksimal.

Dalam pemberdayaan ini, masyarakat diposisikan sebagai subjek bukan objek.
Masyarakat sebagai subyek artinya masyarakat ikut andil secara aktif. Sebab, garda terdepan dalam pencegahan Covid-19 adalah masyarakat. Untuk itu, pendekatan kepada masyarakat tidak bisa digeneralkan tapi harus spesifik sesuai karakter dan kondisinya. (KkP)

Komentar

News Feed