Ancaman Bonus Demografi 2045 bagi ummat Islam

  • Bagikan

Tanganrakyat.id , Jakarta – Sebagian para tokoh agama terutama yang menjadi partisan politik, seringkali membuat agitasi dan provokasi bahwa Ummat Islam saat ini sedang terancam, Ibadah, syariat, akidah dan akhlak ummat diambang bencana kehancuran dan kemusnahan menghadapi bahaya serangan peradaban sekuler barat, LGBTQ, Kapitalisme global, Konspirasi Yahudi serta hantu China Komunis, bla bla bla..

Padahal tantangan agama yang sesungguhnya bukanlah masalah akidah atau moral (akhlak), tapi ekonomi atau kemapanan hidup.

Dengan ekonomi ummat akan mempunyai kemampuan, filter dan kekuatan yang menjadi benteng melindungi diri setiap individu dari tantangan yang merusak agama, akidah dan akhlak (moralitas).

Dengan kemapanan ekonomi seseorang akan jauh lebih memiliki kekuatan dan daya tahan untuk menahan semua gempuran iman itu bahkan mampu mengalahkannya.

Sebaliknya, kemiskinan menjadi momok utama yang harus dihancurkan, kemiskinan menjerumuskan kepada kebodohan, kejahatan dan berakhir pada kekufuran, sebagaimana sabda Rasulullah Saw:

كاد الفقر ان يكون كفرا

(الحديث)

_Kefakiran/kemiskinan menjerimuskan manusia pada kekufuran_

لو ان الفقر لحسم لقتلت رأسها (علي ابن ابي طالب)

_Seandainya kefakiran dan kemiskinan itu betbentuk manusia, niscaya akan kupemggal kepalanya_

(Ali RA)

Tantangan Ekonomi _(kefakiran/kemiskinan/kebodohan/kejahatan/kekufuran)_ berhubungan sangat erat dengan akses pendidikan,  ilmu pengetahuan, keterampilan, keahlian, modal dan peluang kerja.

Harus dicetak SDM yang unggul, kompetitif hingga nantinya ummat akan mampu bersaing dengan yang lain, baik dengan sesama individu dalam satu kelompok identitas (etnik/suku/agama) maupun dengan individu di luar kelompok.

Komposisi bangsa Indonesia terdiri selain dari banyaknya etnik juga banyak agama dengan ummat masing masing.

Setiap individu dalam masing-masing kelompok komunitasnya akan saling bersaing begitu pula dengan kelompok komunitas luar.

Sederhananya anak-anak generasi etnik Betawi, Jawa, Sunda, Batak, Madura, Padang, dll, akan saling bersaing, begitu pula generasi anak-anak Muslim, Kristiani, Katholik, Hindu, Budha, Konghuchu, dan lain-lain akan bersaing.

Kompetisi dan persaingan akan sangat keras bahkan kejam,  tapi ini bukan soal mempertahankan agama, akidah ataupun identitas etnik tapi,

berebut cuan.

Siapa yang lebih mampu?

Siapa yang lebih memiliki pendidikan?

Siapa yang lebih memiliki keahlian?

Siapa yang mengambil peran?

Siapa yang hanya jadi penonton?

Siapa yang lebih sukses dan mapan dan siapa yang hanya akan  jadi pecundang sampah sampah peradaban masa depan?

Well come to hell, the dangerous zone

Hemat saya inilah yang harusnya dilakukan oleh para pemuka agama, bagaimana memberikan edukasi dan penyadaran ummat akan ancaman agama yang sesungguhnya, bukan memprovokasi dan mengagitasi ummat dengan berbagai hantu-hantu siluman yang tak jelas.

Catatan:

Bonus demografi adalah:

_*”Tingginya rasio usia produktif (15-65 thn) berbanding penduduk usia non produktif (anak2 dan orang tua)*_

Pada tahun 2045, Indonesia akan mendapatkan bonus demografi yaitu jumlah penduduk Indonesia 70%-nya dalam usia produktif (15-64 tahun), sedangkan sisanya 30% merupakan penduduk yang tidak produktif (usia di bawah 14 tahun dan di atas 65 tahun) pada periode tahun 2020-2045.

Saat ini (2023) jumlah penduduk Indonesia berjumlah 270 juta jiwa dan pada tahun 2045 diprediksi ada kenaikan signifikan 35 jt jiwa, jadi thn 2046 penduduk Indonesia berjumlah *324 juta* jiwa

Yang menarik dari angka 324 juta itu, 70% adalah *usia produktif antara 15-65 thn*

Akan ada seratus enam puluh juta usia produktif usia 15-65 tahun yang harus siap berkompetisi sangat keras dan memiliki pekerjaan.

Baca juga:

Kang Supardi, Wartawan Muda Penuh Berkah

Siapkah anak-anak kita berkompetisi dengan orang lain, dengan suku lain, dengan agama lain?

Jangan iri dengan orang non muslim atau China. Berkacalah apa kekurangan diri baik sebagai individu maupun ummat. Jangan buruk muka, cermin dibelah.

Penulis: A. Setiawan Kabiro tanganrakyat.id
  • Bagikan

Comment