Nadran Indramayu: Ritual Syukur Nelayan Berubah Jadi Pesta Rakyat yang Dinanti

  • Bagikan
Nadran Indramayu: Ritual Syukur Nelayan Berubah Jadi Pesta Rakyat yang Dinanti (Foto: Red)

Indramayu, tanganrakyat.id  – Dentuman ombak Pantai Karangsong, Indramayu, Jawa Barat, menjadi saksi bisu tradisi Nadran yang telah mengakar kuat selama puluhan tahun. Lebih dari sekadar ritual, Nadran kini bertransformasi menjadi pesta budaya yang meriah dan dinanti-nantikan oleh seluruh masyarakat, sebagai wujud syukur para nelayan atas limpahan rezeki dari laut.

Tradisi yang diperkirakan mulai semarak sejak tahun 1970-an ini, memiliki prosesi yang sarat makna. Para nelayan dengan khidmat mempersiapkan sesajen istimewa, termasuk kepala kerbau jantan yang melambangkan kekuatan dan kebodohan, aneka buah-buahan segar, serta hidangan dan minuman yang tertata apik di dalam replika perahu kecil, atau yang akrab disebut “meron”.

Sebelum “meron” dilarungkan ke tengah laut sejauh dua kilometer, serangkaian upacara sakral seperti ruwatan dan doa bersama dipanjatkan. “Ini sebenarnya menyimbolkan rasa syukur. Karena kerbau ini merupakan simbol satu sisi ada simbol kekuatan dan kebodohan. Dengan pelarungan ini maka kekuatan kita ambil dan simbol jeleknya kita buang,” ungkap Pemerhati Budaya Indramayu, Nang Sadewo, yang juga sebagai pengelola  Musium Bandar Kali Cimanuk,  pada Rabu (16/4) pagi.

Menurut catatan sejarah, aktivitas menangkap ikan di muara Karangsong telah ada jauh sebelum tradisi Nadran populer. Koperasi nelayan bahkan tercatat berdiri sejak tahun 1917. Namun, Nadran kala itu jauh berbeda dengan kemeriahan saat ini. “Dari catatan masa lalu, tradisi ini berlangsung sederhana, perahunya masih memakai perahu layar dan hanya dilakukan oleh kelompok nelayan tertentu saja,” jelas Nang Sadewo.

Pemerhati Budaya Indramayu, Nang Sadewo, juga sebagai pengelola  Musium Bandar Kali Cimanuk (Foto: Dok. Pribadi)

Kini, Nadran yang secara rutin dua tahun sekali dimotori oleh KPL Mina Sumitra, telah bertransformasi menjadi sebuah perayaan akbar. Setelah sempat tertunda akibat pandemi COVID-19, pesta laut ini kembali digelar meriah pada tahun 2023 dan disambut antusias oleh seluruh masyarakat nelayan. “2 tahun sekali ya untuk nadran ini, karena tahun kemarin ada pandemi dan sebagainya akhirnya tahun ini baru bisa dilaksanakan. Dan masyarakat nelayan senang semuanya, mudah-mudahan berkah untuk Indramayu untuk nelayan,” imbuh Nang Sadewo.

Lebih lanjut, Nang Sadewo menekankan pentingnya menjaga tradisi ini. Selain melestarikan kearifan lokal, Nadran juga menjadi ungkapan rasa syukur atas hasil tangkapan laut yang melimpah. “Harus dipertahankan, bagaimana Indramayu dengan garis pantai terpanjang dan penghasil ikan se-Jawa Barat terbesar.

Mudah-mudahan sejahtera. Dengan adanya nadran ini tadi juga sudah berdoa bersama-sama dan pelarungan sebagai adat agar bangkit lagi untuk budaya lokal Indramayu,” pungkasnya.

Baca juga:

Batik Complongan Khas Indramayu Raih Rekor MURI

Nadran bukan hanya sekadar pesta, namun juga cerminan harmoni antara manusia dan alam, serta perekat kebersamaan masyarakat pesisir Indramayu yang patut untuk terus dilestarikan.

Penulis: Yul
  • Bagikan

Comment