Indramayu, tanganrakyat.id – Desa Tinumpuk, Indramayu Penyaluran bantuan sosial beras di Desa Tinumpuk, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu, mendadak berubah menjadi arena perang terbuka setelah aksi klaim “sukarela” oleh segelintir orang dimentahkan secara telak oleh ratusan warga, Rabu Wage, (9/9/2026). Polemik ini mencuat tatkala klarifikasi tiga orang warga di salah satu media online yang menyebut uang Rp50.000 sebagai “tanda terima kasih” dianggap sebagai lelucon hina oleh mayoritas penerima manfaat. Perwakilan warga geram lantaran suara 701 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) dicatut dan direduksi secara sepihak hanya demi meredam skandal busuk yang mencoreng hak-hak rakyat kecil.
Akal bulus di balik dalih “sukarela” tersebut langsung digulung oleh warga yang mempertanyakan logika mendasar dari kutipan uang haram itu. Bagaimana bisa sebuah pungutan disebut sukarela jika nominalnya dipatok pas di angka Rp50.000, disertai ancaman nyata berupa ancaman beras tidak akan disalurkan bagi mereka yang mangkir membayar? Warga menegaskan bahwa bantuan pangan dari pemerintah seharusnya murni gratis tanpa ada potongan sepeser pun, bukan malah dijadikan ajang pungutan liar oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab di tingkat bawah.
Tidak ingin dibohongi oleh drama penyelamatan citra murahan, ratusan warga dengan tegas mendesak Dinas Sosial dan Inspektorat Kabupaten Indramayu untuk segera turun tangan melakukan investigasi menyeluruh di lapangan. Warga menuntut aparat berwenang memeriksa alur distribusi beras secara transparan, membongkar aliran dana haram tersebut, serta memaksa pengembalian uang seluruh KPM jika terbukti tidak memiliki dasar hukum yang sah. Mereka menolak keras jika kasus penjarahan hak orang miskin ini diselesaikan hanya lewat jalan damai di atas meja berkat klarifikasi boneka segelintir orang.
Baca juga:
Warga Desa Tinumpuk Klarifikasi Isu Pungli Bantuan Beras
Negara dituntut untuk segera hadir secara nyata di Desa Tinumpuk guna membuka kotak Pandora penyaluran bansos ini secara terang-benderang tanpa ada yang ditutup-tutupi. Warga memperingatkan agar pihak berwenang tidak menutup mata atau bermain-main dengan penderitaan rakyat kecil yang menggantungkan hidup dari bantuan tersebut di tengah himpitan ekonomi yang kian mencekik. Bila pemerintah daerah gagal membongkar tuntas akar masalah ini, kemarahan massa dikhawatirkan akan tumpah dalam gelombang aksi protes yang jauh lebih besar di Kabupaten Indramayu.













Komentar