Indramayu, tanganrakyat.id – Suasana depan Pendopo Kabupaten Indramayu mendadak mencekam sekaligus penuh gairah perlawanan sejak Selasa (10/3/2026).
Sebanyak 15 aktivis dari Pusat Advokasi dan Pekerjaan Sosial Indramayu (PAKSI) Idaman nekat mendirikan tenda untuk menggelar aksi protes selama tiga hari penuh. Mereka secara tegas menuntut Bupati Lucky Hakim segera mencopot Salman Al-Farisi dari jabatan Staf Khusus Bupati, yang mereka tuding sebagai “biang kerok” amburadulnya tata kelola pemerintahan Bumi Wiralodra saat ini.
Koordinator Lapangan aksi, Masdi, menyatakan bahwa gerakan ini adalah puncak kekesalan masyarakat terhadap gaya kepemimpinan yang dinilai tidak pro-rakyat. Dengan narasi tajam, para pengunjuk rasa menyebut Salman sebagai “stafsus rasa bupati” yang bertindak layaknya majikan, hingga mendesak agar pria tersebut segera dikembalikan ke daerah asalnya.
Dukungan pun terus mengalir dari berbagai tokoh pergerakan lokal, seperti Oushj Dialambaqa Direktur PKSPD (Pusat Kajian Strategis Pembangunan Daerah) hingga Asmawi Day PP, yang turut hadir memanaskan semangat para aktivis yang rela meninggalkan keluarga demi “membersihkan” kursi pemerintahan.
Tidak tanggung-tanggung, aksi yang direncanakan berlangsung hingga 1 Maret 2026 ini akan ditutup dengan ritual ruwatan massal yang dipimpin oleh seorang dalang wayang kulit. Ritual tersebut diklaim sebagai bentuk upaya supranatural untuk membuang “kesialan” dan kegaduhan dari dalam tubuh pemerintahan Lucky Hakim.
Baca juga:
Meski dibayangi ancaman penertiban oleh Satpol PP, para aktivis menegaskan tidak akan bergeser sejengkal pun sebelum tuntutan pencopotan Salman dikabulkan demi masa depan Indramayu yang lebih baik













Comment