Indramayu, tanganrakyat.id – Suasana di depan Pendopo Indramayu mendadak mencekam setelah 15 aktivis yang tergabung dalam PAKSI Idaman nekat menggelar aksi “Diam dalam Tenda” mulai Selasa (10/3/2026) siang.
Aksi ekstrem yang direncanakan berlangsung selama tiga hari tiga malam ini merupakan bentuk protes keras terhadap satu tahun kepemimpinan Bupati Lucky Hakim dan Wakil Bupati Syaefudin yang dianggap gagal total menakhodai Indramayu.
Para aktivis bersumpah tidak akan beranjak, bahkan bagi yang menjalankan ibadah puasa, mereka berkomitmen untuk melakukan sahur dan buka puasa di lokasi sebagai simbol keprihatinan atas janji “Beberes Indramayu” yang dinilai hanya isapan jempol belaka.
Kordinator Lapangan, Masdi, menegaskan bahwa gerakan ini dipicu oleh carut-marutnya tata kelola birokrasi, termasuk banyaknya jabatan dinas yang masih diisi oleh Pelaksana Tugas (Plt).
Tidak hanya mengkritik kebijakan bupati yang sempat viral karena sanksi magang akibat plesiran ke Jepang saat arus mudik 2025, massa juga mengarahkan amarahnya kepada Staf Khusus Bupati, Salman Al-Farisi.
PAKSI Idaman menuding keberadaan Salman sebagai sumber kegaduhan dan desentralisasi pengaruh yang merusak tatanan pemerintahan, sehingga mereka mendesak sang Stafsus untuk segera angkat kaki dari Bumi Wiralodra demi kondusifitas daerah.
Baca juga:
Tuntut Klarifikasi Ucapan Rasis, Ratusan Massa AWDB Geruduk Pendopo Indramayu
Aksi ini diprediksi akan semakin memanas pada hari penutup, Jumat (13/3/2026), dengan rencana kehadiran dalang wayang kulit untuk menggelar ritual ruwatan di halaman Pendopo.
Ritual adat ini dimaksudkan untuk membuang kesialan dan “menyucikan” pemerintahan Indramayu dari pengaruh negatif serta ketidakharmonisan pemimpinnya.
Aktivis WN 88, Irsad, memperingatkan bahwa gelombang dukungan masyarakat akan terus mengalir selama tuntutan mereka tidak dipenuhi, menjadikan Alun-alun Indramayu sebagai saksi bisu perlawanan rakyat terhadap kepemimpinan yang dianggap melenceng dari harapan publik.













Comment