oleh

Beredar Video Hj Anna Sophana Sang Nariswari

-Daerah, Opini-115 views

Tanganrakyat.id, Indramayu-Media sosial dihebohkan beredarnya video tentang kesuksesan Hj Anna Sophana. Istri dari mantan Bupati Indramayu DR H Irianto MS Syafiuddin (H Yance) ini dianggap sebagai Sang Nariswari dan wanita dengan segudang prestasi.

Baiknya saat mendampingi suaminya H Yance saat menjadi Bupati Indramayu dua periode (2000-2010) , kesuksesan saat dirinya menjadi Bupati Indramayu hampir dua periode (2010-2018), maupun kesuksesan saat mendidik anak-anaknya seperti figur H Daniel Muttaqin Syafiuddin yang kini kembali menjadi anggota DPR RI dan masuk bursa kuat calon bupati Indramayu pada Pilkada di akhir 2020.

Video yang mulai beredar, sabtu (28/3/2020) itu, berdurasi 15 menit 05 detik itu berisi tulisan dari penulis DR H Masduki Duryat MpdI, Dosen IAIN Syekh Nurjati Cirebon yang tinggal di Wirapanjunan, Kandanghaur-Indramayu. Tulisan itu berjudul Hj Anna Sophana Bupati Indramayu Periode 2010-2018. Isinya tulisan dan gambar yang menyebutkan, ketika sebelum menjadi Bupati, peran Ibu Hj Anna Sophana sangat penting dan berpengaruh bagi suaminya (H Yance) yang saat itu menjadi Bupati.

Sebutan Nariswari itu disampaikan Adlan Dai (2009:63) yang menganggap sosok Hj Anna Sophana seperti Sang Nariswari, yakni perempuan belahan jiwa. Dalam konsep pasangan hidup, masyarakat Jawa yang digambarkan oleh Arwan Tuti Arth. Sangat penting bagi sukses karir pasangan hidupnya, dengan aktif di berbagai kegiatan organisasi yang secara langsung menjadi daya topang pilar-pilar kekuatan dan kekuasaan politik suaminya (H Yance).

“Disini pula semakin menegaskan bahwa jelas peran Sang Nariswari, menghadirkan semangat dan inspirasi. Ibarat membenarkan, sebuah pepatah, bahwa dibelakang setiap kesuksesan seorang laki-laki, ada seorang perempuan sebagai Sang Nariswari,” ujar DR Masduki dalam tulisannya.

Dijelaskan, peran Hj Anna Sophana bagi suaminya (Yance) adalah sumber semangat, menghadirkan energy positif, dan inspirasi bagi daya bangkit Inner Power-nya.

Dalam konteks Hj Anna Sophanah, pengaruhnya terhadap karir suami, paling tidak ada beberapa alasan. Pertama, posisinya sebagai Ketua Kesatuan Perempuan Partai Golkar (KPPG) dan Pembina di kelompok pengajian Al-Hidayah. Dua sayap organic Partai Golkar yang menjadi bagian penting sukses Partai Golkar di Kabupaten Indramayu dalam memenangkan Pemilu 2004 dengan perolehan 20 (dua puluh) kursi dari total 45 kursi di DPRD saat itu. Sementara pada pemilu 2009 dengan perolehan 24 kursi dari jumlah total 50 kursi di DPRD.
Kedua, kiprahnya sebagai ketua TP-PKK dan berbagai organisasi semi pemerintah lainnya, seperti di Dewan Kerajinan Daerah, dan Gerakan Peduli Rakyat dan Keluarga Miskin (Gempur Gakin). Setidaknya memiliki double manfaat bagi suaminya (Yance ketika menjadi Bupati Indramayu), baik manfaat secara politik dan manfaat secara pragmatis.

Bagi Adlan Da’i (2009:64), manfaat politik dapat dinarasikan bahwa dengan jabatan-jabatan semi pemerintah yang disandang Sang Nariswari dapat dengan mudah membangun akses komunikasi politik hingga ke masyarakat akar rumput secara efektif.
Artinya, diluar jalur politik formal, Sang Nariswari dapat membangun ruang komunikasi politik baru yang jauh lebih efektif, dan elegan daya ikatnya terhadap para calon pemilih (konstituen). Kemampuan komunikasi politik didukung pesona pribadi dan bahasa tubuh (body language) yang ramah. Semakin melengkapi dengan model komunikasi suaminya (Yance) yang lebih bercorak pesisir menjadi capital politik yang sangat berharga bagi suaminya.

Sedangkan manfaat pragmatiknya adalah bahwa perannya sebagai Ketua TP PKK dan peran “Supporting leader” dalam mendampingi suaminya sebagai Bupati Indramayu, Sang Nariswari turut memberi bobot dan warna bagi sukses beberapa program peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat Indramayu. Sebut saja misalnya, program bedah rumah, peningkatan gizi masyarakat, peningkatan kualitas kesehatan lingkungan, penanggulangan gizi buruk, memasyarakatkan pendidikan anak usia dini, dan lainnya.
Sang Nariswari sebagai “supporting leader” kemudian mentransformasikan diri menjadi “locomotif leader” di tahun 2010.

Sosok Hj Anna Sophana diangkat menjadi Bupati Indramayu pada tahun 2010 yang berpasangan dengan H Supendi sebagai wakilnya. Setelah pasangan ini memenangkan Pilkada Indramayu dengan perolehan suara 511.359 (60,78%) disusul pasangan Uryanto-Abbas Abdul Jalil sebanyak 124.328 (14,78 %) dan ditempat ketiga pasangan Gorri Sanuri – Ruslandi yang memperoleh suara 95.300 (11,33%).

Sedangkan pada posisi keempat ditempati pasangan Toto Sucartono-Kasan Basari dengan jumlah suara 47.530 (5,65%), disusul pasangan Api Karpi – Ruwita sebanyak 45.111 (5,36 %), dan diposisi terakhir pasangan Mulyono Martono-Hendaru Wijayakusuma sebanyak 17.687 (2,10%). Pada sidang paripurna DPRD Kabupaten Indramayu 12 Desember 2010, Gubernur Jawa Barat Drs H.M Ahmad Heryawan melantik Hj Anna Sophana dan Supendi menjadi Bupati dan Wakil Bupati di Pendopo Indramayu. Hadir pada pelantikan tersebut Ketua Umum DPP Partai Golkar, Aburizal Bakrie, Menko Kesra Agung Laksono, Kepala Badan Koordinasi Pemerintahan dan Pembangunan (BKPP) Wilayah III Jawa Barat, Drs H Ano Sutrisno MM, Bupati dan Walikota se-wilayah III Cirebon.

Kemudian pada 2016, Hj Anna Sophana juga berpasangan dengan H Supendi kembali terpilih menjadi Bupati dan Wakil Bupati Indramayu untuk periode 2016-2021. Kembali dilantik oleh Gubernur Jabar Ahmad Heryawan atas nama Menteri Dalam Negeri di gedung Merdeka- Bandung.Pasangan Anna Sophana-Supendi pada periode kedua ini, dinyatakan sebagai pemenang dalam Pilkada serentak, pada tanggal 9 Desember 2015. Penetapan pasangan calon kepala daerah ini dituangkan daklam keputusan KPU. Pada rapat penetapan ini juga diundang pasangan calon dan tim ANDI (Anna Sophan-Supendi) dan pesaingnya, yakni pasangan Toto Sucartono – Rasta Wiguna (TORA), dan unsur terkait lainnya.
“Banyak torehan prestasi yang sudah diraihnya selama memimpin Indramayu pada masa kepemimpinannya, tentu disamping segala kekurangannya. Seperti, penghargaan piala Adipura (Katagori Kota Kecil), prestasi tingkat nasional, bahkan tingkat internasional,” tambahnya.

Seperti Juara I NPCI Asian Para Games Cabang Olahraga Cacat NPCI tahun 2011 atas nama Tamin, Imam Masduki Ilman, Aminah, dan Fujiono. Kemudian, juara 1 Cabang Olahraga Kempo pada Sea Games XXVI tahun 2011 atas nama Ferdi Firmanda Surya, Juara I Cabang Olah Raga Kempo pada Sea Games XXVI tahun 2011 atas nama Jane Mataliti, Juara 1 Cabang Olah Raga Catur pada Sea Games XXVI atas nama GM Susanto Megaranto, dan juara II Cabor Sepaktakraw pada Sea Games XXVI tahun 2011 atas nama Lena Leni.

Penghargaan juga banyak diraih pada masa pemerintahannya, seperti penghargaan Adipura katagori Kota kecil, penghargaan sekolah Adiwiyata Mandiri, tanda kehormatan bhakti koperasi, penghargaan pembina keselamatan dan kesehatan kerja, Satya Lencana Pembangunan koperasi tingkat nasional,juara II lomba sekolah sehat tingkat nasional, dan penghargaan kualifikasi bintang satu Penyelenggara Terpadu Satu Pintu (PTSP). Dibidang penanaman modal, penghargaan pemimpin yang transparan dalam pengangkatan kepala sekolah dan sederet penghargaan lainnya.

Ditengah kegiatan membangun dan mengabdi sebelum masa jabatannya habis di tahun 2020, Hj Anna Sophanah menyatakan mundur dari jabatannya sebagai Bupati Indramayu. Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil ketika menerima surat pengunduran diri Bupati Indramayu mengungkapkan alasannya lebih bersifat pribadi. Dengan alasan keluarga bukan kedinasan. Lebih spesifik, Hj Anna Sophana ketika menghadap Menteri Dalam Negeri di Jakarta, menyatakan bahwa pengunduran dirinya dari jabatan Bupati, bukan karena alasan tersangkut masalah hukum, atau sakit, atau alasan lain yang diperbolehkan oleh regulasi, tetapi beralasan ingin mencurahkan waktunya mengurus ayah maupun suami yang sakit.

Hj Anna Sophana juga pada kesempatan yang sama meminta maaf kepada seluruh masyarakat Indramayu, terutama para pendukungnya. “Bapak saya sakit, bapak sangat butuh perhatian saya”

Bahkan Hj Anna Sophanah juga menguatkan, “Saat menjabat bupati periode pertama, Ibu saya sakit, hingga kemudian meninggal dunia. Saat itu, saya memiliki penyesalan mendalam. Kini, ketika ayah saya sakit, saya tidak ingin penyesalan itu datang kembali. Sehingga saya berniat mengurus ayah dan mundur dari jabatan Bupati. Saya takut kehilangan ayah, seperti ketika Ibu meninggal dulu”.
Demikian ungkapan Hj Anna Sophana ketika mengajukan alasan pengunduran dirinya dari jabatan Bupati.

Adlan Da’i dalam tulisannya tentang “Ada apa dengan Bupati Indramayu?” (qarao.com) disebutkan ketika langkah politik HJ Anna Sophanah mundur dari jabatannya sebagai Bupati Indramayu dua tahun lebih awal, banyak tafsir politik yang mengitarinya.

Menurutnya, dengan meminjam konstruksi dan pandangan politik Lord Action, sangat sulit memahami fenomena mundurnya Hj Anna Sophanah sebagai Bupati Indramayu. Adigium politiknya yang sangat populer “Power trent to corrupt, but absolutr power corrupt absolutely”, yakni makin kuat kekuasaan seseorang, makin absolut kewenangannya. Makin absolut kewenangannya, makin potensial kecenderungan tindakan dan perilaku politik koruptifnya.

Pandangan politik diatas dalam konteks mundurnya Hj Anna Sophanah dari jabatannya sebagai Bupati Indramayu menjadi “terbantahkan” dan kehilangan rasionalitas politiknya, justru karena Hj Anna mundur saat dukungan politiknya, baik dilevel suprastruktur politik maupun infrastruktur politiknya sangat kuat dan membumi. (Red)

Komentar

News Feed