Tanganrakyat.id, Pangandaran-Untuk memberikan pemahaman dan pengalaman tentang perilaku bencana, jalur-jalur evakuasi, pola pikir dan tindakan yang perlu atau tidak perlu dilakukan saat terjadi bencana serta memanfaatkan jalur evakuasi, serta sistem informasi berbasis teknologi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pangandaran dengan prokes Covid-19 menggelar kegiatan Simulasi Bencana Gempa Bumi dan Tsunami dengan peserta dari TNI/POLRI, Potensi SAR, relawan kebencanaan, Ormas serta masyarakat. yang bertempat di TES (Tempat Evakuasi Sementara) Desa Pananjung, Kecamatan Pangandaran, Rabu (26/05).
Kegiatan ini dibagi menjadi beberapa Pos atau titik kumpul (assembly point) karena ini sangat penting dalam perencanaan tanggap darurat, yang harus diidentifikasi secara jelas, diberi tanda, dan mudah terlihat masyarakat terdampak bencana.
Adapun assembly point dibagi beberapa titik yang tempat aman dari bencana diantaranya yaitu Pos 1 di Pos Airud, Pos 2 di Parapatan Ajo (Indomart Parapatan), Pos 3 di depan Pondok Seni, Pos 4 di depan Hotel Century.
Kegiatan Simulasi Gempa bumi dan Tsunami ini dihadiri langsung oleh Bupati Pangandaran sekaligus membuka acara simulasi ini.
Baca juga:Aktivis Kemanusiaan KRI Mendapat Penghargaan Dibidang Kemanusiaan
Kabupaten Pangandaran merupakan salah satu kabupaten yang rawan bencana, apabila dikaitkan dengan Indeks Risiko Bencana (IRBI) yang dikeluarkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk tingkat nasional berada di urutan ke-16 dan urutan ke-11 untuk tingkat provinsi jawa barat.
“Mengingat hal tersebut Kedepan Simulasi ini akan rutin dilaksanakan tepatnya pada tanggal 26 setiap bulan nya, kegiatan simulasi ini juga dapat menambah pengetahuan dan pemahaman serta pentingnya kesadaran masyarakat ketika terjadi gempa dan tsunami serta langkah apa saja yang harus dilakukan dan kemana kita mencari tempat aman, dengan harapan dapat meminimalisir jatuhnya korban jiwa karena masyarakat sudah siap menghadapi akan ancaman bahaya gempa dan tsunami yang bisa terjadi kapan saja. ” Ujar H. Jeje Wiradinata”
Dalam kegiatan tersebut juga diperkenalkan Early Warning System (EWS) berbasis aplikasi yang bernama SIRITA (Sirens for Rapid Information on Tsunami Alert). SIRITA adalah Aplikasi berbasis android yang akan memberikan pemberitahuan atau notifikasi berupa suara kepada pengguna jika ada perintah evakuasi dari pemda atau BPBD ketika ada peringatan dini tsunami dari BMKG.
Baca juga:Organisasi dan Komunitas Kemanusiaan Indramayu Adakan Silahturahmi Dan Rencana Pembentukan FKP3D
Aplikasi ini hanya aktif jika pengguna diperkirakan terdampak bencana tsunami berdasarkan perhitungan saintifik memanfaatkan pengguna geo-location, modul GPS perangkat seluler dan permodelan Tsunami BMKG. Di dalamnya juga terdapat edukasi mitigasi bencana Tsunami yang dapat di baca oleh pengguna, guna meningkatkan pemahaman terkait bencana Gempa Bumi dan Tsunami.
Sedangkan Wiseman Ketua Relawan Penanggulangan Bencana Kabupaten Pangandaran mengungkapkan akan segera dipasang alat komunikasi di shelter yaitu repeater, agar para relawan dan ormas dapat berkomunikasi melalui HT, karena dalam penanganan darurat kebencanaan di Kabupaten Pangandaran pada saat terjadi gempa bisa saja aliran listrik mati dan jaringan selular tidak ada sehingga kita semua sangat membutuhkan dukungan komunikasi dari repeater. (Editor: Yul)













Comment