Islam Solusi Tuntas Stunting di Tengah Pusaran Kemiskinan

  • Bagikan

Tanganrakyat.id, Majalengka-Stunting masih menjadi persoalan dunia. United Nations International Children’s Emergency Fund (UNICEF) memperkirakan, jumlah anak penderita stunting di bawah usia lima tahun sebanyak 149,2 juta pada tahun 2020. Meski turun 26,7% dibandingkan pada tahun 2000 yang mencapai 203,6 juta, namun kemajuan penanganan stunting tidak merata di seluruh kawasan (databoks.katadata.co.id, 23/09/2021).

Di Indonesia sendiri, stunting masih menjadi pe-er yang belum terselesaikan. Indonesia berada pada urutan ke-4 dunia dan kedua di Asia Tenggara dalam hal balita stunting (merdeka.com, 21/12/2020). Berdasarkan riset kesehatan dasar Kementerian Kesehatan Tahun 2019 tercatat sebanyak 6,3 juta balita dari populasi 23 juta atau 27,7 persen balita di Indonesia menderita stunting. Jumlah tersebut masih jauh dari standar WHO yang seharusnya di bawah 20 persen.

Tak terkecuali Ciayumajakuning merupakan wilayah dengan jumlah stunting balita yang tinggi di Jawa Barat. Sebagaimana dilansir republika pada 21 Oktober 2021, sebanyak 41 ribu balita di Kabupaten Indramayu mengalami stunting dari jumlah total balita 125 ribu. Disusul Kabupaten Cirebon 14.127, Kabupaten Kuningan 5.298, Kabupaten Majalengka 4.642, dan Kota Cirebon 2.360.

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak di bawah lima tahun (balita) akibat berbagai faktor, terutama kekurangan gizi. Tubuh anak pun menjadi terlalu pendek untuk usianya. Kekurangan gizi itu tak hanya saat bayi lahir hingga tumbuh balita, melainkan sejak dalam kandungan.

Penyebab stunting adalah praktik pengasuhan yang kurang baik, terbatasnya layanan kesehatan, dan pembelajaran dini yang berkualitas. Selain itu, gagal tumbuh bisa terjadi karena kurangnya akses rumah tangga atau keluarga ke makanan bergizi, kurangnya akses ke air bersih, serta sanitasi yang buruk.

Problem Kemiskinan

Tingginya kasus stunting yang disebabkan kurangnya gizi tentu tak bisa dilepaskan dari problem kemiskinan. Bila kita amati, kebiasaan hidup keluarga yang tidak sehat saat ini sesungguhnya adalah buah pahit dari sistem kehidupan sekuler kapitalistik.

Keluarga dipapari berbagai stressor (tekanan), krisis ekonomi dan disfungsi negara. Ujungnya ketangguhan imunitas tubuh melemah, selain berakibat hilangnya fungsi akal. Kelaparan dan gizi buruk terbukti meningkat seiring dengan meningkatnya harga pangan akibat krisis ekonomi.

Deraan kemiskinan telah memaksa para ibu membanting tulang, padahal diantara mereka ada ribuan ibu hamil dan ibu menyusui. Bagi ibu menyusui kelelahan fisik dan mental akibat beban ganda yang harus dipikulnya dapat menurunkan kualitas dan kuantitas ASI. Ini antara lain semakin banyak bayi tidak diberi ASI, disamping faktor keterbatasan waktu, dan gencarnya iklan susu formula.

Padahal ASI ditinjau dari banyak aspek adalah makanan terbaik untuk bayi dan penting untuk membangun imunitas bayi. Lebih dari itu, pemberian ASI disyariatkan Allah SWT (lihat QS. Al-Baqarah: 233). Jadi, tidak saja pola makan anak dan ibu yang tidak sehat, tetapi juga bayi.

Kelelahan fisik dan mental yang diderita ibu hamil tentunya berpengaruh negatif terhadap hormon yang dibutuhkan untuk melahirkan alami. Hal ini antara lain menjadi penyebab semakin banyak kelahiran caesar. Padahal bayi lahir melalui caesar daya tahan tubuhnya jelas tidak sebaik bayi lahir melalui jalan alami. Hal ini karena jalan lahir alami didesain Allah SWT sebagai latihan awal dan pematangan sejak dini sistem imun bayi.

Kondisi ini diperparah oleh krisis air bersih yaitu akibat industrialisasi dan kapitalisasi sumber daya alam, juga air. Akhirnya, lebih dari separuh masyarakat jauh dari sanitasi yang layak. Berbagai kuman patogen mewabah. Demikian pula vektor penyebar penyakit menyerang tubuh bayi, balita dan anak yang telah kehilangan ketangguhan sistem imunnya.

Di sisi lain, penyakit justru jadi objek kapitalisasi. Akibatnya, biaya berobat tidak saja mahal, tetapi juga layanan kesehatan yang justru memperparah penyakit yang diderita dan bahkan mengancam jiwa, selain tidak memperhitungkan halal dan haram.

Lantas apa yang menjadi akar persoalan dari kemiskinan? Bila kita cermati kembali, sesungguhnya adalah buah dari penerapan sistem kapitalisme liberal yang hanya berpihak pada pemilik modal sehingga kemiskinan seperti siklus lingkaran yang tak pernah akan selesai selama sistem ini masih diterapkan.

Demokrasi yang menjunjung tinggi kebebasan kepemilikan (liberalisasi ekonomi) pada faktanya telah melahirkan kemiskinan sistematik. Liberalisasi pengelolaan sumber daya alam adalah salah satunya. Sebagaimana kita ketahui, kekayaan alam Indonesia yang melimpah ruah ternyata tak bisa dirasakan kemanfaatannya oleh rakyat sepenuhnya.

Sumber daya alam (SDA) yang sejatinya adalah bentuk kepemilikan umum ternyata telah beralih kepada negara yang berkolaborasi dengan para pengusaha baik asing maupun lokal. Akibatnya rakyat hidup serba kekurangan. Kalaupun dapat hidup hanya sekadar menjangkau kebutuhan pokoknya saja.

Inilah kemiskinan yang diciptakan oleh demokrasi dengan liberalisasi ekonominya. Bukan hanya kepemilikan umum (sumber daya alam) yang diliberalisasi, demokrasi juga melahirkan liberalisasi layanan umum. Padahal sejatinya, sumber daya alam adalah milik umum yang pengelolaannya seharusnya dapat dimanfaatkan bagi seluruh rakyat.

Negara seharusnya menguasai dan bertanggung jawab atas layanan umum warga negaranya. Namun demokrasi telah mengalihkan fungsi negara tersebut kepada korporasi (swasta). Tentu saja, korporasi tidak mungkin melakukan pelayanan karena mereka pasti mengejar keuntungan.

Akhirnya, layanan umum pun dibisniskan kepada rakyat. Rakyat harus membayar mahal untuk menikmati infrastruktur yang berkualitas. Untuk menggunakan jalan, jasa transportasi, kesehatan yang memadai bahkan sekolah yang berkualitas, rakyat harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.

Islam Solusi Tuntas Stunting

Penerapan sistem kapitalisme sekular telah terbukti menghasilkan problem kemiskinan struktural di tengah masyarakat. Berbagai program penanganan stunting telah digiatkan, namun belum berhasil memberantas problem stunting secara tuntas. Lantas, bagaimanakah Islam menyelesaikan secara tuntas problem stunting di tengah pusaran kemiskinan ini?

Islam secara alami mampu menciptakan kesejahteraan, termasuk menyelesaikan problem kemiskinan dan stunting. Melalui penerapan sistem ekonomi Islam, meniscayakan pengurusan umat dilakukan secara berkualitas dan maksimal.

Diawali dengan mewujudkan pola hidup sehat keluarga. Mewujudkan pola hidup sehat berarti mewujudkan kebiasaan beremosi/berkecenderungan dan berperilaku sesuai syariah Islam. Hal ini mengharuskan pembentukan kepribadian Islam melalui penerapan sistem pendidikan Islam dan penerapan syariah Islam secara kaffah dalam semua aspek kehidupan.

Kepribadian Islam mendorong individu keluarga untuk mewujudkan pola makan yang sehat (lihat QS. Al-Maidah: 88), selain jaminan ketersediaan pangan yang halal dan baik, termasuk air bersih hingga tingkat rumah tangga (harga terjangkau dan mudah diakses).

Penerapan syariah yang kaffah berarti negara kembali menjalankan fungsinya sebagai pengurusan masyarakat, seperti menjamin pemenuhan pokok publik, menyediakan lapangan kerja, membebaskan barang milik umum dari kapitalisasi.

Hal ini jelas dengan sendirinya membebaskan keluarga dari berbagai stressor; mendorong terwujudnya pola aktivitas keluarga yang sehat; ibu terbebas dari peran ganda yang menyalahi fitrah dan beban mencari nafkah keluarga kembali berada di pundak ayah. Hal ini akan terealisasi dengan diterapkannya sistem ekonomi Islam.

Bersamaan dengan itu, sistem Islam akan menghentikan program penanggulangan penyakit yang merupakan agenda penjajahan, dan justru membahayakan kesehatan masyarakat, yaitu dengan membatalkan berbagai kesepakatan dan kerjasama dengan lembaga internasional serta bantuan pembiayaan kesehatan dari pihak asing. Sebab, demikianlah perintah Allah SWT dalam QS. an-Nisa’: 141.

Termasuk bagian penting dari pola hidup sehat keluarga adalah kemudahan untuk mengobati berbagai penyakit yang diderita. Sistem Islam akan mewujudkannya dengan membebaskan layanan kesehatan dari segala unsur kapitalisasi. Tidak hanya gratis dan mudah diakses oleh semua anggota masyarakat, tetapi juga berkualitas yaitu cepat dan tepat dalam pengobatan menurut syariah Islam.

Sistem Islam mampu mewujudkan semua itu antara lain dengan cara mengelola Baitul Mal secara efektif. Melalui penerapan sistem Islam-lah, yang hanya dengannya kebiasaan hidup keluarga yang sehat akan terwujud. Maka, sudah saatnya kita mencari dan menerapkan sistem alternatif selain kapitalisme, tanpa perlu ada tawar-menawar lagi.

Allah SWT. sesungguhnya telah menciptakan manusia, sekaligus menyediakan sarana-sarana untuk memenuhi kebutuhannya. Bahkan, tidak hanya manusia; seluruh makhluk yang telah, sedang, dan akan diciptakan, pasti Allah menyediakan rezeki baginya. Tidaklah mungkin, Allah menciptakan berbagai makhluk, lalu membiarkan begitu saja tanpa menyediakan rezeki bagi mereka. Allah SWT. berfirman:

“Allahlah yang menciptakan kamu, kemudian memberikan rezeki” (TQS ar-Ruum : 40). Dan firmanNya: “Tidak ada satu binatang melata pun di bumi, selain Allah yang memberi rezekinya” (TQS Hud : 6).

Secara i’tiqadi, jumlah kekayaan alam yang disediakan oleh Allah SWT. untuk manusia pasti mencukupi. Meskipun demikian, apabila kekayaan alam ini tidak dikelola dengan benar, tentu akan terjadi ketimpangan dalam distribusinya. Karena, faktor utama penyebab kemiskinan adalah buruknya distribusi kekayaan. Di sinilah pentingnya keberadaan sebuah sistem hidup yang sahih dan keberadaan negara yang menjalankan sistem tersebut. Islam adalah sistem hidup yang sahih.

Baca juga: Mewujudkan Ekonomi Mandiri Tanpa Investasi

Dengan kata lain, yang seharusnya dilakukan adalah mencampakkan demokrasi dan kembali kepada Islam dan sistem ekonominya. Maka, solusi dari persoalan kemiskinan adalah dengan menerapkan Islam kaffah dalam kehidupan. Hanya sistem ekonomi Islam yang mampu mengatasi masalah kemiskinan bahkan memberi kesejahteraan bagi seluruh warganya.

Wallahu a’lam bishshawab.

  • Bagikan

Comment