Indramayu, tanganrakyat.id – Di balik hingar bingar suara musik dan nyanyian yang mengiringi kesenian Obrog Kandang Ayam di Indramayu, tersimpan potret pilu perjuangan hidup anak-anak yang terpaksa putus sekolah demi menyambung hidup. Kesenian lokal yang dahulu identik dengan tradisi membangunkan sahur di bulan Ramadan, kini menjadi panggung bagi mereka untuk mengadu nasib, seperti yang dialami oleh Edo, (nama inisial) seorang penggiat Obrog dari Pekandangan.
Suara Obrog, Suara Harapan, Edo yang baru berumur 15 tahun, yang dikenal dengan nama panggung Berokan Kandang Ayam dan Berokan Edo, adalah salah satu dari sekian banyak anak di Indramayu yang memilih jalur seni jalanan. Ia terpaksa meninggalkan bangku sekolah karena keterbatasan biaya.
Setiap malam, di kawasan Kuliner Cimanuk, Edo dan teman-temannya memainkan musik Obrog, menghasilkan pundi-pundi rupiah yang digunakan untuk membantu perekonomian keluarga.
”Dalam satu malam bisa dapat Rp200.000 sampai Rp300.000, kalau malam Minggu bisa sampai Rp500.000,” ujar Edo. Angka yang fantastis bagi seorang anak, namun juga menjadi cerminan bahwa pilihan ini bukanlah hal yang mudah.

Edo melihat banyak anak-anak lain di sekitarnya mengalami nasib serupa, bahkan ada yang lebih memprihatinkan. “Ada ibu-ibu jam 1 malam masih menggendong anak mencari uang dengan mengemis,” tuturnya. (Selasa 2 September 2025) Malam.
Perjuangan Edo dan teman-temannya menunjukkan sisi lain dari Obrog. Jika sebelumnya kesenian ini menjadi simbol akulturasi budaya dan agama, kini ia juga menjadi wadah bagi mereka yang terpinggirkan. Kesenian ini tidak hanya sekadar pertunjukan, melainkan juga cerminan realitas sosial yang memilukan.
Pendidikan dan Masa Depan Indramayu
Kondisi ini mengundang keprihatinan dari berbagai pihak. Kang Supardi, atau biasa disebut Kakang Prabu Ketua Ikatan Wartawan Online (IWO) Kabupaten Indramayu, mendesak Pemerintah Daerah untuk segera mengambil tindakan.
“Pemerintah harus hadir, jangan sampai anak-anak di usia sekolah harus putus sekolah karena ekonomi,” tegasnya.
Kang Supardi menekankan pentingnya pendidikan sebagai fondasi utama untuk mengembangkan potensi individu, meningkatkan kualitas hidup, dan melestarikan budaya. Pendidikan tidak hanya membentuk individu yang berilmu dan cakap, tetapi juga berperan sebagai agen perubahan sosial yang mampu menyiapkan tenaga kerja profesional.
Masa depan Indramayu ada di tangan anak-anaknya. Jika pendidikan tidak terjamin, bagaimana bisa Indramayu melahirkan generasi yang mampu bersaing dan memajukan daerahnya?
Kesenian Obrog mungkin bisa membantu Edo dan teman-temannya bertahan hidup, tetapi tanpa pendidikan, mimpi mereka untuk memiliki masa depan yang lebih baik bisa jadi hanya angan-angan.
Baca juga:
DPP Foksi Sukses Selenggarakan Festival Budaya dan Lomba Kesenian di Indramayu
Oleh karena itu, peran pemerintah, masyarakat, dan seluruh pihak terkait sangat dibutuhkan untuk memastikan setiap anak di Indramayu memiliki kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan.
Semoga alunan musik Obrog Kandang Ayam tidak lagi menjadi pertanda perjuangan yang terpaksa, melainkan sebuah harmoni yang mengiringi langkah anak-anak Indramayu menuju masa depan yang lebih cerah.













Comment