Belajar dari Teheran: Mengapa Keteguhan Adalah Harga Mati Sebuah Kedaulatan?

  • Bagikan
Belajar dari Teheran: Mengapa Keteguhan Adalah Harga Mati Sebuah Kedaulatan? (Foto: Ilustrasi)

Bandung, tanganrakyat.id – ​Kedaulatan sebuah negara sering kali diuji bukan saat kondisi damai, melainkan ketika tekanan internasional mulai mengepung dari berbagai penjuru.

Republik Islam Iran menjadi potret nyata bagaimana sebuah bangsa mampu berdiri tegak di tengah badai sanksi ekonomi dan isolasi diplomatik yang berlangsung selama dekade. Fenomena ini bukan sekadar soal pertahanan militer, melainkan perwujudan dari keteguhan ideologi dan kemandirian politik yang menjadi fondasi utama keberlangsungan sebuah bangsa di panggung geopolitik modern yang keras.
​Sejarah mencatat bahwa transformasi Iran pasca-Revolusi 1979 telah mengubah kiblat kebijakan luar negerinya menjadi sangat protektif terhadap intervensi asing.

Pengalaman pahit selama Perang Iran-Irak yang berlangsung delapan tahun menjadi katalisator lahirnya doktrin pertahanan mandiri. Trauma masa lalu tersebut justru menempa karakter nasional Iran untuk tidak bergantung pada bantuan luar, melainkan fokus membangun kekuatan domestik sebagai benteng terakhir menjaga martabat dan integritas wilayah mereka.

​Salah satu pilar utama keteguhan Iran terletak pada keberhasilan mereka mengembangkan teknologi pertahanan secara mandiri, mulai dari sistem rudal hingga pesawat nirawak (drone). Strategi ini mengirimkan pesan jelas kepada dunia:

kedaulatan tidak bisa hanya digantungkan pada meja diplomasi, tetapi harus ditopang oleh daya tangkal (deterrence) yang nyata. Dengan mengombinasikan kekuatan militer asimetris dan aliansi regional, Iran berhasil menciptakan posisi tawar yang diperhitungkan meski terus ditekan oleh kekuatan-kekuatan besar dunia.

​Lebih jauh lagi, keteguhan Iran tercermin dalam konsistensi mereka mengelola kebijakan energi dan teknologi nuklir sebagai hak kedaulatan, bukan sekadar komoditas politik. Bagi Teheran, menyerah pada tekanan ekonomi melalui sanksi berarti menggadaikan kemandirian bangsa.

Sikap ini memberikan pelajaran berharga bagi negara-negara berkembang bahwa kedaulatan mencakup hak untuk menentukan arah ekonomi dan penguasaan teknologi tanpa harus tunduk pada dikte kekuatan eksternal yang sering kali bersifat hegemonik.

​Pada akhirnya, keteguhan Iran mengingatkan kita bahwa kedaulatan bukanlah konsep abstrak dalam buku hukum internasional, melainkan nilai yang harus diperjuangkan dengan solidaritas nasional yang kuat.

Baca juga:

Gali Potensi Maksimal! Ketum Prawita GENPPARI Dr. Dede Farhan Aulawi Sebut ‘4 Kunci Sakti’ Raih Cita-Cita di Ponpes Indramayu

Keberanian politik untuk berkata “tidak” pada dominasi asing memerlukan ketahanan ekonomi dan institusi negara yang tangguh. Di tengah persaingan global yang semakin tidak menentu, inspirasi dari Teheran menunjukkan bahwa hanya bangsa yang memiliki prinsip kuat dan komitmen jangka panjanglah yang mampu menjaga kehormatan negaranya tetap utuh.

Penulis: Oleh : Dede Farhan AulawiEditor: Nda Yaya
  • Bagikan

Comment