Dunia, tanganrakyat.id – Timur Tengah kembali mempertontonkan teater pertarungan klasik ketika konflik militer berjalan seiring dengan perang informasi, diplomasi, dan perebutan pengaruh ekonomi. Dalam lanskap yang sarat ketegangan ini, pernyataan Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengenai dugaan upaya Amerika Serikat memecah belah negara-negara Muslim tidak boleh dibaca sekadar sebagai retorika kosong. Pertemuan Pezeshkian dengan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim di sela-sela KTT BRICS menegaskan strategi Teheran untuk merangkul tetangga regionalnya dan memposisikan diri sebagai bagian organik dari kawasan, bukan kekuatan luar.
Namun, menyederhanakan dinamika kawasan dengan menuding Amerika Serikat sebagai dalang tunggal perpecahan adalah cara pandang yang naif dan mengabaikan kompleksitas hubungan internasional. Washington memang memiliki kepentingan strategis yang masif di Timur Tengah, mulai dari proteksi sekutu kunci hingga upaya membendung pengaruh Iran dan kekuatan penantang lainnya. Kebijakan luar negeri Amerika tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dari kalkulasi panjang untuk mengamankan jalur energi, stabilitas sekutu, dan dominasi geopolitik global.
Di sisi lain, mengabaikan faktor internal sama kelirunya dengan menyalahkan kekuatan eksternal secara membabi buta. Retakan dan persaingan di antara negara-negara Muslim—baik antara faksi Arab, Iran, Turki, maupun Pakistan—telah berakar jauh sebelum Washington menancapkan pengaruhnya di kawasan tersebut. Perbedaan persepsi ancaman, ambisi regional, serta benturan sejarah dan politik menciptakan friksi alami yang membuat dunia Islam kerap berjalan tanpa konsensus strategis yang kokoh.
Kekuatan besar dunia tidak perlu menciptakan konflik dari nol untuk memegang kendali atas percaturan geopolitik. Dalam banyak kasus, Washington maupun kekuatan global lainnya cukup mengeksploitasi retakan yang sudah tersedia di dalam tubuh dunia Islam. Ketika sebuah negara berdaulat merasa lebih terancam oleh tetangganya sendiri ketimbang oleh entitas luar, atau ketika rezim tertentu melihat kekuatan asing sebagai satu-satunya jaminan kelangsungan hidup, jaringan kepentingan sektarian dan pragmatis pun terbentuk dengan sendirinya.
Mekanisme “adu domba” modern dalam politik internasional jarang sekali berwujud perintah langsung untuk bermusuhan. Ia bekerja secara senyap melalui instrumen aliansi militer, pasokan persenjataan bernilai miliaran dolar, jaminan keamanan strategis, tekanan sanksi ekonomi, hingga perang persepsi yang mendikte siapa kawan dan siapa musuh. Melalui pendekatan sistemil ini, negara-negara kawasan tanpa sadar terperangkap dalam arsitektur keamanan yang dirancang untuk melangganggkan ketergantungan.
Baca juga:
Utang Whoosh Hingga 2106: Warisan Beban 8 Dekade atau Solusi Brilian?
Pelajaran paling mendesak dari dinamika ini adalah kesadaran kolektif bahwa solidaritas dunia Muslim akan selalu rapuh selama masih dikooptasi oleh ambisi sempit dan ketakutan domestik. Selama negara-negara kawasan gagal merajut kemandirian strategis dan menyelesaikan friksi internal secara mandiri, mereka akan terus menjadi arena perebutan pengaruh bagi kekuatan luar. Narasi perlawanan terhadap intervensi asing hanya akan menjadi ilusi politik apabila fondasi rumah tangga kawasan sendiri masih dipenuhi celah terbuka yang siap dieksploitasi siapa saja.
Bahrudin El-Shiraaz
Aktivis Intelektual Pegiat Kajian Keislaman Kontemporer dan Isu Geopolitik Timur Tengah













Komentar