Jakarta, tanganrakyat.id – Kasus pemadaman listrik total (blackout) yang melanda Bali pekan lalu berbuntut panjang. Alih-alih memberikan penjelasan transparan, PT PLN (Persero) justru dituding melakukan kebohongan publik terkait penyebab utama gangguan tersebut. Bahkan, santer beredar kabar bahwa manajemen PLN pusat kini tengah sibuk mencari “mata-mata” yang membocorkan informasi sebenarnya ke publik.
Seorang sumber internal PLN mengungkapkan, “Iya pada kebakaran jenggot semua pejabat PLN setelah berita penyebab blackout Bali muncul di media, sekarang lagi dicari siapa yang membocorkan informasi yang sudah ditutup rapat itu.” Sumber tersebut menegaskan bahwa informasi yang beredar di media adalah fakta yang sebenarnya terjadi.
Lebih lanjut, sumber tersebut menyangsikan narasi gangguan kabel bawah laut yang sebelumnya mencuat. “Ya kan dalam kasus ini harus ada kambing hitamnya. Karena kalau benar akibat gangguan kabel bawah laut, coba saja PLN berani tidak memunculkan kerusakan yang terjadi dan tidak mungkin normalisasi pemadaman akibat kerusakan kabel bawah laut bisa dilakukan dalam waktu 12 jam, itu pasti bisa berhari-hari,” tegasnya.
Kritik pedas juga dilayangkan terkait kepemimpinan Dirut PLN Darmawan Prasodjo. Sumber tersebut mendukung langkah strategis Presiden Prabowo melalui Menteri BUMN untuk segera mencopot Darmo, yang dinilai hanya fokus pada pencitraan. “Mohon kepada Presiden, Menteri BUMN dan pihak terkait lainnya, coba investigasi langsung ke PLN, bagaimana nasib kami sekarang, tertekan dan tidak nyaman kerja karena prilaku Dirut bersama kroninya khususnya yang prohire. Pegawai organik yang tidak circle-nya dihabisi, yang dimanja cuma pegawai yang mampu menjilat Darmo,” bebernya dengan nada geram, meminta identitasnya dirahasiakan.
Sementara itu, Darmawan Prasodjo memilih bungkam dan tidak memberikan komentar terkait isu ini, meskipun pemberitaannya telah meluas. Sikap serupa juga ditunjukkan oleh Dirut PLN Indonesia Power Edwin Nugraha, yang dianggap memiliki tanggung jawab besar dalam insiden blackout di Bali.
Terungkapnya dugaan penyebab utama blackout selama kurang lebih 5 jam yang melumpuhkan Bali pada Jumat (2/5/2025) lalu, semakin menyoroti buruknya manajemen PLN di bawah kepemimpinan Darmawan Prasodjo.
Ketua Umum Ikatan Wartawan Online (IWO), Teuku Yudhistira, bahkan mendorong 1,8 juta pelanggan PLN di Bali untuk menuntut kompensasi atas kerugian yang dialami.
“Kalau saya menyarankan, 1,8 juta pelanggan PLN harus meminta ganti rugi terhadap PLN atas apa dampak yang terjadi akibat blackout itu,” tegas Yudhistira. Ia menilai, pemadaman listrik total tersebut tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga berpotensi merugikan berbagai sektor di Bali.
Baca juga:
Yudhistira sebelumnya juga menuding adanya upaya pembohongan publik oleh PLN terkait penyebab blackout. Berdasarkan informasi yang dihimpun IWO, gangguan justru bermula dari trip-nya Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) Pesanggrahan unit 5 dan 6, bukan akibat gangguan pada kabel transmisi bawah laut seperti yang banyak diberitakan.
“Artinya apa, dari info yang kami terima, blackout listrik Bali disebabkan oleh Trip-nya PLTG Pesanggrahan unit 5 dan 6, bukan kabel Transmisi yang banyak diberitakan,” tandasnya. Ia juga menyoroti dugaan adanya kejanggalan terkait relokasi PLTG Pesanggrahan yang baru beroperasi kurang dari dua tahun namun sudah menimbulkan masalah.
Yudhistira mendesak Presiden Prabowo untuk bertindak tegas dengan mencopot Darmawan Prasodjo dari jabatannya dan membongkar dugaan praktik kroni di tubuh PLN. Ia juga menyerukan agar aparat penegak hukum, seperti Kejaksaan Agung dan Kortas Tipikor Polri, turun tangan untuk menginvestigasi kasus ini secara menyeluruh.
“Berkaca dari kasus ini, jelas yang paling bertanggung jawab dalam kasus ini adalah Darmawan Prasodjo sebagai Dirut PLN, Adi Lumakso sebagai Direktur Manajemen Pembangkitan dan Edwin Nugraha Putra, Dirut PLN Indonesia Power. Dan kami menilai Darmawan Prasodjo sudah tidak layak memimpin PLN,” pungkas Yudhistira.













Comment