Tragedi di Arena Silat: Tendangan Keras Berujung Maut, Bahaya di Balik Bela Diri yang Perlu Diwaspadai

  • Bagikan
Tragedi di Arena Silat: Tendangan Keras Berujung Maut, Bahaya di Balik Bela Diri yang Perlu Diwaspadai (Foto: Red)

Boyolali, tanganrakyat.id – Kabar duka menyelimuti dunia pencak silat Boyolali. Seorang pesilat muda berinisial MPS (17) meregang nyawa usai mengalami sesak napas pasca menerima tendangan keras dari pelatihnya dalam sesi latihan.

Peristiwa tragis ini tak hanya menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan komunitas, namun juga memicu sorotan tajam terhadap potensi bahaya cedera serius dalam pelatihan bela diri.

Kasus MPS sontak memicu pertanyaan krusial: seberapa berbahayakah tendangan keras terhadap tubuh manusia? Para ahli medis pun angkat bicara, menguraikan potensi cedera yang mengerikan di balik setiap benturan keras.

Menurut dr. Donny Kurniawan, Sp.KO, Subsp. ALK(K), dokter spesialis kesehatan olahraga di EKA Hospital BSD, insiden seperti yang menimpa MPS kemungkinan besar berkaitan dengan trauma dada. “Sebenarnya kita sulit mengatakan apa yang terjadi, namun bila dari keterangannya ada beberapa kemungkinan seperti trauma dada (Commotio Cordis atau Cardiac Contusion),” jelas dr. Donny pada Rabu (28/5/2025).

Lebih lanjut, dr. Donny memaparkan bahwa tendangan keras ke dada dapat berujung pada henti jantung mendadak (sudden cardiac arrest). Tak hanya itu, benturan ekstrem juga berpotensi menyebabkan memar paru, pecah alveoli, atau robekan pleura yang memicu penumpukan udara atau darah di rongga dada. “Mereka yang terkena cedera parah akibat tendangan keras akan memunculkan gejala sesak napas, kejang, penurunan kesadaran,” imbuhnya.

Senada dengan dr. Donny, dr. Surya Santosa, Sp.KO, Staf Pengajar Program Studi Ilmu Kedokteran Olahraga Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), menegaskan bahwa cedera berat bukanlah hal yang dapat diabaikan dalam olahraga bela diri seperti pencak silat dan karate.

“Tendangan keras ke bagian tubuh tertentu dapat menyebabkan cedera serius, bahkan mengancam nyawa,” ujar dr. Surya.
Dr. Surya merinci bahaya benturan keras pada area tubuh vital:

* Benturan Kepala: Berisiko tinggi menyebabkan gegar otak, pendarahan otak, hingga cedera tulang leher yang dapat mengganggu pernapasan dan bahkan berujung pada kelumpuhan.

* Cedera Dada: Sangat berbahaya karena dapat memicu gangguan irama jantung mendadak (commotio cordis), patah tulang iga yang menembus paru-paru, atau memar pada jantung dan paru.

* Benturan Perut: Berpotensi menyebabkan pecahnya organ dalam seperti limpa atau hati. Cedera ini seringkali tidak langsung terlihat namun dapat mengakibatkan pendarahan besar di rongga perut yang mengancam jiwa.

Kasus meninggalnya pesilat muda di Boyolali ini menjadi pengingat pahit akan pentingnya keselamatan dan prosedur yang tepat dalam setiap sesi latihan bela diri.

Baca juga:

Indramayu Bergelora: Buka Bersama Tarung Derajat Cetuskan Semangat Juara Menuju POPDA 2025!

Pengawasan ketat, pemahaman mendalam tentang anatomi tubuh, dan penanganan cedera yang cepat dan tepat menjadi kunci untuk mencegah tragedi serupa terulang kembali. Pihak berwenang dan komunitas pencak silat diharapkan dapat mengusut tuntas kejadian ini demi memastikan keamanan para atlet muda di masa mendatang.

  • Bagikan

Comment