Jakarta, tanganrakyat.id – diguncang kabar mengejutkan terkait dugaan korupsi besar-besaran di tubuh PT PLN (Persero). Proyek Advanced Metering Infrastructure (AMI) yang bernilai fantastis, yakni Rp5 Triliun, kini disorot tajam karena diduga menjadi bancakan oknum pejabat tinggi untuk mengeruk keuntungan pribadi melalui skema suap senilai US$50 juta atau setara Rp780 miliar.
Koordinator Nasional Relawan Listrik Nasional (Re-LUN), HajiTeuku Yudhistira, pada Kamis Pon, 25 Juni 2026 secara blak-blakan menyebut bahwa Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, berada di pusaran utama skandal ini. Dugaan aliran dana panas tersebut mengalir dari pihak rekanan proyek kepada lingkaran terdekat Dirut PLN sebagai imbalan atas pengaturan tender yang disinyalir telah direkayasa sejak awal.
Modus yang digunakan tergolong rapi namun merugikan negara secara masif. Yudhistira membeberkan bahwa proyek ini menggunakan skema sewa beli selama 10 tahun dengan harga yang di-markup hingga Rp3 Triliun dari nilai aslinya. Beban biaya operasional bulanan yang tinggi ini pun diduga kuat bakal dibebankan langsung kepada rakyat melalui kenaikan tarif listrik di masa depan.
Lebih parahnya, proyek ambisius ini ditengarai menjadi penyebab utama buruknya pemeliharaan infrastruktur kelistrikan saat ini. Data internal PLN menunjukkan adanya pemotongan anggaran pemeliharaan transmisi dan pembangkit hingga 35% sejak 2022 demi membiayai proyek AMI, yang akhirnya memicu rangkaian pemadaman listrik bergilir yang menyengsara masyarakat di Pulau Jawa.
Tak hanya soal aliran dana, upaya menutup-nutupi skandal ini pun mulai tercium publik. Sejumlah awak media mengaku diteror oleh pihak yang diduga suruhan oknum PLN untuk segera melakukan takedown terhadap berita tersebut. Bahkan, upaya penyuapan secara terang-terangan dilakukan oleh oknum yang menawarkan uang jutaan rupiah agar berita mengenai dugaan korupsi ini segera dihapus dari peredaran.
Hingga berita ini diturunkan, jajaran petinggi PLN seperti Wadirut Yusuf Didi Setiarto dan EVP Komunikasi Gregorius Adi Trianto memilih untuk bungkam. Sikap tutup mulut dari para pengambil kebijakan ini semakin mempertebal spekulasi publik bahwa ada “sesuatu” yang sangat busuk dan sengaja disembunyikan di balik proyek digitalisasi meteran listrik tersebut.
Baca juga:
Publik kini menanti ketegasan aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas aliran dana US$50 juta yang diduga mengalir ke lingkaran Darmawan Prasodjo. Di tengah krisis pemadaman listrik yang belum usai, skandal ini menjadi tamparan keras bagi PLN yang seharusnya memberikan pelayanan terbaik bagi rakyat, bukan justru menjadikannya alat untuk memperkaya diri sendiri.













Comment