Medan, tanganrakyat.id – Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang melanda hampir seluruh wilayah Sumatera Utara, mulai dari Medan, Deliserdang, hingga Tanjung Balai, kini mencapai titik nadir yang mencekik publik.
Sejak Jumat Pon, (10/7/2026) pagi, ratusan SPBU terpaksa memasang papan pengumuman “Dalam Perjalanan” yang tak kunjung tiba, sementara antrean kendaraan yang mengular hingga ke badan jalan melumpuhkan arus lalu lintas utama, termasuk jalur Lintas Langkat-Banda Aceh.
Kondisi ini bukan lagi sekadar kendala teknis biasa, melainkan bukti nyata kegagalan Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut dalam menjamin hak dasar energi masyarakat. Di SPBU 14.201.106 Jalan AH. Nasution, Medan, para pengemudi harus menelan pil pahit karena seluruh jenis BBM—dari Pertalite hingga Pertamina Dex—kosong total, memicu kemarahan warga yang aktivitas ekonominya terhambat selama berjam-jam.
Warga Medan, Anto, meluapkan kekesalannya atas ketidakbecusan manajemen distribusi Pertamina yang terus berulang dari tahun ke tahun. Di tengah harga BBM yang sudah mencekik leher, masyarakat kini dipaksa mengemis antrean panjang, sebuah ironi menyakitkan bagi bangsa yang telah merdeka selama 81 tahun namun masih tersandera oleh masalah klasik kelangkaan energi.
Tak hanya warga, para pengusaha SPBU pun mulai angkat bicara dan menuntut transparansi total dari Pertamina. Mereka curiga bahwa narasi “faktor cuaca” yang sering dijadikan kambing hitam hanyalah alasan basi untuk menutupi karut-marutnya manajemen internal, mulai dari minimnya armada mobil tangki hingga masalah operasional krusial yang sengaja disembunyikan dari publik.
Baca juga:
Kalapas Medan Berang! Tudingan Narkoba dan Scamming di TikTok Disebut Fitnah Keji
Mendesak adanya tindakan konkret, pengusaha dan masyarakat menuntut Pertamina segera membuka tabir penyebab krisis ini dan melakukan perombakan total pada rantai distribusi yang terbukti tidak becus. Jika Pertamina Patra Niaga tidak mampu menjamin ketersediaan BBM secara berkelanjutan, maka perusahaan plat merah tersebut patut dipertanyakan kinerjanya karena telah membiarkan ekonomi Sumatera Utara berada di ambang “mati suri” akibat kelalaian mereka sendiri.













Comment