oleh

Klepon Makanan Tidak Islami, Ini Tanggapan Direktur PKSPD

-Ekbis, Nasional-808 views

Tanganrakyat.id, Indramayu-Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia dan medsos dihebohkan oleh iklan yang membandingkan makanan cemilan tradisional Klepon yang dibandingkan dengan Kurma. Seperti diposting oleh akun twitter @memefess yang menyebutkan bahwa jajanan tradisional dengan taburan kelapa itu bukanlah jajanan Islami

Dalam iklan tersebut Klepon dianggap tidak islami, sungguh ngeri negeri ini disuguhi lelucon yang tidak lucu. Dimana kita ketahui bersama bahwa makanan Klepon ini sendiri adalah sejenis makanan tradisional Bangsa Indonesia yang termasuk ke dalam kelompok jajanan pasar. Makanan khas Indonesia terbuat dari tepung beras ketan yang dibentuk seperti bola-bola kecil dan diisi dengan gula merah lalu direbus dalam air mendidih lalu dimana tidak islaminya, apa hanya sekedar pengalihan isu terkait kemelut bangsa ini yang carut-marut dari omnibus law di sektor ketenagakerjaan yakni UU Cipta lapangan kerja sampai rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) yang penuh kontroversi, dimana masyarakat kita juga mudah sekali diadu domba.

O’ushj Dialambaqa Direktur PKSPD (Pusat Kajian Strategis Pembangunan Daerah) dan juga tokoh masyarakat yang selalu sebagai garda terdepan dalam memberantas korupsi di Kabupaten Indramayu memberikan pemaparan terkait Klepon yang dianggap jajanan tidak islami.

Sebagian umat Islam menjadi salah kaprah. Mana budaya dan mana produk kebudayaan yang sejalan dengan Islam dan mana yang bertabrakan dengan Islam menjadi kacau balau.

” Itulah resikonya kita menganut aliran-aliran tanpa kaji ulang keshahikannya.Klepon dibilang jajanan tidak Islami itu menunjukkan kengawuran dan itu pasti Islamphobia atau penganut keislaman yang terjebak aliran-aliran,” ujar O’ushj Dialambaqa, Kamis (23/7/2020) yang biasa di panggil Pak Oo.

Lebih lanjut PaK Oo mengatakan bahwa Kurma dibilang jajanan Islami Kata siapa klepon tidak Islami jika dibuat dengan cara yang benar dan dari bahan baku klepon yg halal dan benar.

Klepon itu komponen bahannya gula, tepung ketan, bisa pakai santan diadonnya dan kelapa. Apa ada dalil aqli dan naqlinya dan apa ada hadits shoheknya bahwa klepon itu jajanan tidak Islami. Tolong tunjukkan dalil-dalil yang bisa memperkuat klepon bukan jajanan Islami.

Kurma benar buahan yang thoyibah, baik dan halal. Kata siapa dan mana dalilnya jika dikatakan kurma itu jajanan Islami dan makan kurma itu sunnah Rosul. Bagaimana jika Rosul itu lahir di Jawa atau Indramayu, lantas nasi dan mangga dikatakan sunah Rosul karena Rosul makanya nasi dan suka mangga.

Umat Islam jika tafsirnya seperti itu ya parah banget, dan sedikit-sedikit haram seperti musik haram, genjringan sunnah, memanah dan naik kuda sunnah.

Musik haram padahal yang mengatakan haram itu tak paham dengan musik bahwa musik unsurnya adalah bunyi, nada dan irama. Jadi genjringan, sari tilawah yang di-MTQ-kan, marhabanan, sholawatan, ya itu unsur musik bernyanyi. Bukan karena dari jazirah Arab lantas dibilang Islami dan sunnah Rosul.

Jika zaman Rosul sudah ada teknologi tinggi, Rosul perang tidak pakai panah atau berkuda tapi pakai jet tempur, rudal balistik atau roket dsb.Begitu juga halnya makanan, 4 madzhab besar saja kadang berbeda pendapat soal hukum haram dan halal. Padahal seharusnya soal hukum haram atau halal harusnya tak ada beda pendapat. Masa ada pendapat ulama berbeda soal hukum.

Katanya silakan mau ikut yang mana. Padahal resikonya jika salah ya neraka. Masa jika ijtihad salah dapat satu pahala jika benar dapat dua pahala.
Yang haram dan yang bathil jika kita ikuti, ya resiko kita sendiri yang masuk neraka. Apa nanti bisa protes sama Tuhan, saya sesat karena mengikuti guru atau pemimpin yang sesat.

Jika guru dan pemimpin yang mengajarkan atau memberi penjelasan yang sesat, maka dia menanggung dosa kesesatannya. Haditsnya jelas dan dalilnya juga jelas jika kita mau memperhatikan dengan cerdas.
Islam kok jadinya terus-terusan dipolitisasi untuk berbagai kepentingan, termasuk untuk jualan kurma bahkan ada yang berani menggunakan label merek dagang KURMA ROSUL.

Klaim ada ulama zumhur dan ulama syu saja sudah dikotomi politisasi Islam. Yang mengklaim ulama itu bukan Rosul, jadi kemaksuman atas kekeliruan atau salah berpendapat tidak terjaga, tapi Rosul terjaga kemaksumannya, hal itu terbukti Rosul salah dan diingatkan Umar bin Khattab tidak mau dengar, lantas turunlah ayat Tuhan yang membenarkan Umar bin Khattab, salah satu contoh ayat 84 surah At-Thaubah.
Kata Al Ghazali, kita dilarang taklid buta. Karena jika tersesat resiko kesesatannya ada pada dirinya sendiri, tidak bisa dilimpahkan kesesatanya pada orang lain atau si pemberi penjelasan hukum yang sesat atas kebenaran. (KkP)

Komentar

News Feed