oleh

Sejarah Indramayu: Wiralodra DNA Bagelen, dan Endang Darma?

-Daerah, Peristiwa-1.760 views

Oleh: O’ushj.dialambaqa

Tanganrakyat.id, Indramayu-Wiralodra dalam Sejarah Indramayu-H.A. Dasuki (SI-HAD), Dwitunggal Pendiri Darma Ayu Nagari-Sutadji KS (DPDAN-STKS), Menapak Jejak Sejarah Indramayu-Supali Kasim (MJSI-SK) dan Sejarah Indramayu-Didi Tarmidi (SI-DT) berasal dari Begelen (Purworejo) atau Banyuurip (Purworejo). Dalam MJSI-SK, utusan Demak, abad ke-16, ada yang menyebut Mataram, abad ke-17 (hal. 1).

BD versus LB

Berdasarkan SI-HAD, DPDAN-STKS, MJSI-SK dan SI-DT yang sumber utamanya sebagai referensi Babad Dermayu (BD), DNA (Deoxyribo Nucleic Acid; meruapakan asam nukleat yang menyimpan semua informasi tentang genetika) Wiralodra adalah Embah Kyai Barata di Gunung Sumbing mempunyai keturunan Raden Lowano dengan keturunannya Raden Gagak Pernala. Raden Pernala mempunyai keturunan Raden Gagak Wirakesuma, Raden Gagak Kumitir, Raden Gagak Wirajaya, Raden Gagak Pringgadipura dan Raden Gagak Wirahandaka.

Raden Gagak Kumitir mempunyai putra Raden Gagak Singolodraka – Bupati Bagelen. Bupati Bagelen Singolodraka mempunyai lima putera: Raden Ayu Wangsanegara, Raden Ayu Wangsayudha, Raden Wiralodra, Raden Bagus Tanujaya dan Raden Bagus Tanujiwa (hal. 1).
Pertanyaannya adalah, jika Wiralodra itu adalah anak Bupati Bagelen (Singolodraka), maka kesejarahannya harus ada benang merah dengan kesejarahan Bagelen.

Dalam Sejarah Bagelen (Purworejo), Singolodraka yang Bupati Bagelen itu tidak ada dalam cacatan dokumen masa lampau yang hidup hingga kini di Bagelen dan atau tidak pernah disebutkan, apalagi nama Wiralodra sama sekali tidak dikenal, sekalipun sama-sama berdasarkan sumber skunder, yaitu legenda Bagelen.

Legenda Bagelen (LB) menuliskan, Bagelen (negeri Medang Gale atau Pagelen) atau kerajaan Medangkamulan diperintah oleh Sri Prabu Kadiawan, mempunyai lima anak, yaitu Sri Panuwun (sulung), Sri Sendang Garbo, Karungkala (berkedudukan di Palembang), Sri Pitung Laras atau Tunggul Ametung (memrintah di Kediri) dan Sri Dietayu (bungsu, memrintah di Kahuripan), yang masing-masing memerintah Negara Bagian.

Sri Prabu Kadiawan meninggal, digantikan oleh Sri Panuwun. Sri Panuwun mempunyai anak dua anak tapi cacat, kemudian memperistri anak perempuan Kyai Somolangu dan dikarunia anak perempuan bernama Raden Rara Wetan (terkenal dengan nama Nyai Bagelen) dan menjadi pewaris daerah Bagelen.

Rara Wetan (Nyai Bagelen) menjadi istri Pangeran Awu Awu Langit yang berkedudukan di daerah Ngombol. Sri Panuwun berpindah kedudukan di Hargopura (Hargorojo), maka Pangeran Awu Awu Langit menggantikan kedudukannya di Bagelen. Perkawinan Pangeran Awu Awu Langit dengan Nyai Bagelen (Rara Wetan) dikaruniai: Raden Bagus Gento (sulung), Raden Rara Taker dan Raden Rara Pitrah. Raden Bagus Gento menggantikan kedudukan ayahnya dan memerintah daerah Bagelen, mempunyai anak bernama Nyai Rodjo Pandito (Raden Bagus Gento dimakamkan di di desa Margorejo). Nyai Rodjo Pandito mempunyai anak bernama Dewi Rengganis dan dimakamkan di desa Semono.

Ladang Ilmuwan

Bukti-bukti kesejarahan Bagelen tercatat sebagai berikut (Radix Penadi: Bagelen dan Mataram Kuno, Lembaga Study dan Pengembangan Sosial dan Budaya, 1988):
1. Di era Majapahit, Raja Hayam Wuruk pernah memerintahkan untuk menyelesaikan pembangunan candi makam dan bangunan para leluhur, menjaga serta merawatnya dengan serius (Negarakertagama);
2. Di era Demak, Sunan Kalijaga (anggota Wali Songo) mengunjungi Bagelen dan mengangkat muridnya, Sunan Geseng untuk berdakwah di wilayah Bagelen;
3. Di awal Dinasti Mataram, Panembahan Senopati menggalang persahabatan dengan para kenthol (tokoh-tokoh) Bagelen untuk menopang kekuasaannya; dan
4. Ditemukannya bukti-bukti sejarah, seperti Lingga (52 buah), Yoni (13), stupa/Budhis (2), Megalith (22), Guci (4), Arca (38), Lumpang (24), Candi Batu atau berkasnya (8), Umpak Batu (16), Prasasti (3), Batu Bata (8), temuan lain (17), dan Umpak Masjid (20).

Bagelen terpecah setelah Perjanjian Giyanti (13 Februari 1755), didesain Kompeni Belanda untuk memecah Mataram menjadi dua kerajaan; Kasunanan Surakarta (Solo) dengan Sunan Paku Buwono III sebagai raja pertamanya, dan Kasultanan Yogyakarta dengan Sultan Hamengku Buwono I sebagai rajanya. Sebagian masuk Solo, dan sisanya masuk Yogyakarta.

Secara peradaban, Bagelen sudah terbelah. Abad XIX (1825-1830), Bagelen ikut dalam Perang Jawa. 3000 prajurit Bagelen di bawah kendali Pangeran Ontowiryo menyokong perjuangan Pangeran Diponegoro yang terpusat di Tegalrejo, Magelang. Saking kuatnya perlawanan Bagelen, Kompeni Belanda sampai harus menggunakan taktik Benteng Stelsel, dengan membangun 25 buah benteng di kawasan Bagelen. Tgl. 1 Agustus 1901, Bagelen dilebur ke dalam Karesidenan Kedu. Bagelen hanya dijadikan sebuah kecamatan. Kemudian Belanda juga membangun jalur transportasi Purworejo-Magelang untuk memudahkan pengawasan, menempatkan batalion militer reguler dengan dibantu serdadu negro, Ambon? (Ibid).

Di Jawa Tengah abad VIII – X, ada kerajaan besar, namanya Medang yang terletak di Poh pitu. Pusat kekuasaan dibagi menjadi dua; Pertama, negara yang bersifat internasional dengan beragama Budha, diperintah Dinasti Syailendra. Kedua, negara yang diperintah oleh sepupunya yang beragama Syiwa. Kedua kerajaan ini berada dalam satu istana, dan disebut Kerajaan Medang i Bhumi Mataram.

Berdasarkan prasasti berbahasa Melayu Kuno (Desa Sojomerto, Batang) memperkuat pendapat sejarawan Purbatjaraka, bahwa hanya ada satu dinasti saja di Jawa Tengah, yakni Syailendra. Raja Sanjaya menganut Syiwa dikemudian hari menganjurkan putranya, Rakai Panangkaran untuk memeluk Budha. Menurut catatan Boechori, epigraf dan arkeolog, Syailendra merupakan penduduk asli Indonesia. Hal ini juga diperkuat oleh prasasti Wanua Tengah III (Temanggung) yang memuat silsilah raja-raja Mataram lengkap dengan tahunnya.

Berdasarkan prasasti Canggal (Sleman) menjelaskan: -ada sebuah pulau bernama Yawadwipa -negeri yang kaya raya akan padi, jewawut, dan tambang emas. -raja pertamanya: Raja Sanna. -setelah dia mangkat, diganti oleh ponakannya: Raja Sri Sanjaya. Menurut catatan seorang sejarawan, Raja Sanjaya mendirikan kerajaan di Bagelen, satu abad kemudian dipindah ke Wonosobo. Sanjaya adalah keturunan raka-raka yang bergelar Syailendra, yang bermakna “Raja Gunung“, “Tuan yang Datang dari Gunung“. Atau, “Tuan yang Datang dari Kahyangan“, karena gunung menurut kepercayaan merupakan tempatnya para dewata.

Raja Sanjaya dikenal sebagai ahli kitab-kitab suci dan keprajuritan. Armada darat dan lautnya sangat kuat dan besar, sehingga dihormati oleh India, Iran, Tiongkok hingga Afrika. Dia berhasil menaklukkan Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Kerajaan Melayu, Kemis (Kamboja), Keling, Barus, dan Sriwijaya, dan Tiongkok pun diperanginya (from “Cerita Parahiyangan“).

Area Kerajaan Mataram Kuno (Bagelen) berbentuk segitiga. Ledok di bagian utara, dikelilingi Pegunungan Menoreh di sisi Barat dan Pegunungan Kendeng di Utara dan basisnya di pantai selatan dengan puncaknya Gunung Perahu (Dieng), di lembah Sungai Bagawanta (Sungai Watukura, kitab sejarah Dinasti Tang Kuno (618-906). Catatan dinasti Tiongkok tersebut diperkuat juga oleh Van der Meulen yang menggunakan kitab “Cerita Parahiyangan” dan “Babad Tanah Jawi“.

Bagelen merupakan hasil proses nama yang final. Bermula Galuh/Galih, menjadi Pegaluhan/Pegalihan, menjadi Medanggele, Pagelen, lalu jadilah Bagelen. Dalam prasasti Tuk Mas (Desa Dakawu, Grabag-Magelang) yang menyebut adanya sungai yang seperti sungai Gangga, maka Medang i bhumi Mataram bermakna “Medang yang terletak di suatu negeri yang menyerupai Ibu” (lembah Sungai Gangga). Dieng diasumsikan sebagai Himalaya, Perpaduan Sungai Elo dan Progo disamakan sebagai Sungai Gangga, dan pegunungan Menoreh disamakan sebagai Pegunungan Widiya (Ibid).

Tanah Bagelen merupakan suatu kawasan di Selatan Jawa Tengah menurut tata negara Mataram masa Sultan Agung, (FA Sutjipta 1963) yang disebut tanah Bagelen terdiri dua bagian dalam satu kesatuan yaitu wilayah Bagelen di sebelah Barat sungai Progo sampai Timur sungai Bogowonto disebut “Tumbak Anyar” dan yang kedua wilayah di Barat sungai Bogowonto sampai Timur sungai Donan (Cilacap) yang disebut “Urut Sewu.” Dua wilayah Tumbak Anyar dan Urut Sewu itulah yang dinamakan Tanah Bagelen yang melegenda.

Wilayah Bagelen kini terpecah menjadi beberapa Kabupaten yaitu Kabupaten Kulon Progo, Kabupaten Purworejo (gabungan Kadipaten Kutoarjo dan Brengkelan), Kabupaten Kebumen (gabungan Kadipaten Ambal, Gombong, Karanganyar, dan Kutowinangun), Kabupaten Cilacap, ditambah Kabupaten Wonosobo, sisa dari wilayah yang dahulu dikenal sebagai Urut Sewu atau Ledok.

Nama Bagelen menurut Profesor Purbatjaraka (1954) seorang ahli sejarah Kuno, berasal dari kata pagaluhan, wilayah yang masuk dalam kekuasaan kerajaan Galuh. Berdasarkan penelitian Arkheologi Yogyakarta, (Prayitno Hadi S, 2007) ternyata di pusat wilayah Bagelen tepatnya di desa Bagelen dan sekitarnya yang masuk dalam Kabupaten Purworejo, sekurang-kurangnya terdapat sekitar 70 buah situs Megalitik dan Puluhan Situs Klasik Hindhu-Budha

Desa Watukuro Kecamatan Purwodadi, Purworejo, lokasinya di muara sungai Bogowonto, menurut Profesor DR. N J. Khrom (1950) seorang ahli Purbakala, dahulu terdapat tempat untuk Perabuan Jenazah-jenazah Raja-Raja Mataram Hindhu, demikian juga asal usul Raja Mataram Hindhu terbesar yaitu Diah Balitung. Situs peninggalan purbakala di desa Watukuro telah hilang akibat adanya sistem Tanam Paksa pada abad 19 oleh Belanda (Daendels, 1806-1811).

Peradaban Jawa kuno menurut Supratikno Rahardjo (2001) bisa dibagi dalam dua periode utama , pertama periode Jawa Tengah sekitar Abad 8 – 10 Masehi, periode berikutnya periode setelah pusat pemerintahan pindah ke Jawa Timur. Menurut Profesor Brandes (1889) di Pulau Jawa sebelum masuknya Pengaruh Hindhu, berdasarkan bukti dan data-data Prasasti telah memiliki paling tidak 10 macam kepandaian khusus yakni pertunjukan wayang, musik gamelan, seni syair, pengrajin logam, sistem mata uang untuk perdagangan, navigasi, irigasi, ilmu falak, dan sistem pemerintahan yang teratur.

Bagelen terdiri dari 20 kecamatan dan terletak di Jawa Tengah bagian Selatan (tepatnya di Yogyakarta) itu memiliki peranan yang sangat penting dalam sejarah tanah air. Operasi militer, perlawanan terhadap Kompeni, pembangunan candi (Prambanan dan Borobudur) merupakan beberapa bukti pentingnya wilayah.

LB secara logika dan akal sehat akademik mengandung kebenaran sejarah yang mensejarah. Artinya, kesejarahannya bisa dipertanggungjawabkan, karena yang melakukan riset dan atau yang membongkar kesejarahannya adalah orang-orang yang secara akademik bisa dipertanggungjwabkan dan memang sudah makomnya, tidak seperti HAD, sekalipun oleh SK dikatakan adalah seorang intelektual (menstigmatisasi) yang memiliki minat cukup besar pada sejarah dan sastra, dan dikatakan pula keduanya (maksudnya, HAD dan STKS) adalah orang-orang yang dedikasinya tak diragukan lagi pada Indramayu dan sejarah Indramayu.

Baca juga: Sejarah Indramayu: Wiralodra dan Endang Darma (H.A. Dasuki (HAD)-Sutadji KS (STKS)-Supali Kasim (SK)-Didi Tarmidi (DT) Hingga Adung Abdul Gani (AAG)

Jika dikatakan seorang intelektual yang memiliki minat cukup besar pada sejarah, mengapa, tidak melahirkan tanda tanya besar atas BD yang dibacanya, dan kenapa pula, tidak terusik untuk melakukan riset atau apapun namanya sejenis penelitian untuk membongkar dongeng tersebut yang hidup dalam BD, sehingga, apakah BD itu merupakan fakta sosiologis pada zamannya ataukah sekedar fiksi yang memang fiksional semata? Nah, di sini tidak tersirat apalagi tersurat secara intelektual, karena kita (saya) bertemu langsung dengan HAD, sehingga menjadi paradox dan terbantahkan, apalagi SK mengakui, tidak dapat dipungkiri, saat proses mengkritisi kedua buku tentang sejarah Indramayu, ada efek psikologis yang dirasakan. Sebagai Intelektual, seharusnya tidak begitu saja percaya apalagi yakin menerima informasi, data (apalagi) sekunder, apalagi peristiwanya sudah sangat lampau, apalagi ini soal sejarah.

Kemandegan (kemacetan) intelektualitas SK, yang pada akhirnya memilih jalan dongeng yang fiksi dan fiksional harus ditasbihkan menjadi “Sejarah” – “Indramayu.” Di sinilah kelebihannya yang sekaligus menjadi “tanda” dan “penanda” kefatalannya ketika kita bicara sejarah, kesejarahan dan kebenaran sejarah dan kesejarahannya, tetapi kemudian SK nekad menulis buku yang bernama sejarah, yang diterbitkan dengan nama buku Menapak Jejak Sejarah Indramayu, padahal, ketidakmampuan melawan bayang-bayang, ketidakberdayaan melawan lupa dan kelumpuhan idealisme dan integritas serta merta kematian intelektualnya, yang seharusnya itu semua bisa terjaga.

BD dalam SInya HAD, DPDANnya STKS maupun SInya DT, konon, ada banyak peninggalan benda-benda pusaka (masa) Wiralodra, seperti Cakra, Pelor Penangkis, Manuskrip Kulit Menjangan, Lontar Babad Darma Ayu Nagari, Lumpang Kiyai Tambuh, Makam Demang Bai dan seterusnya belum pernah menjadi obyek dan atau dilakukan riset oleh para ilmuwan; arkeolog, sejarawan dan lainnya, termasuk oleh HAD, STKS, SK, DT dan AAG, maka bagi intelektual organik, pinjam istilah Gramsci dan atau publik kritis untuk bisa mengangguk-meng-iyakan, karena jika itu dilakukan, akan menjadi pengkhianatan intelektual.

Maka kemudian, apakah kita masih bisa mengatakan bahwa Wiralodra dari keturunan (darah) Bagelen? Lantas, apakah Wiralodra dari Banyuurip, ataukah utusan Demak?*****

*) Penulis adalah Penyair, Peneliti dan sekaligus Direktur Pusat Kajian Strategis Pembangunan Daerah (PKSPD). Accontant Freelance. Tinggal di Singaraja. Kontak: 081931164563. Email: jurnalepkspd@gmail.com

Komentar

News Feed