Kritik Ketua NasDem kepada Bupati Nina Agustina, sebagai stand up comedy jelang tahun politik 2024

  • Bagikan
Pengamat Politik dan tokoh pendidikan Hadi Santoso, MM (Foto: Red)

Tanganrakyat.id, Indramayu – Menjelang tahun politik 2024, berbagai mesin politik mulai dipanaskan juga berbagai pernyataan dari tokoh-tokoh politik mulai bermunculan untuk saling mengeklaim   partainya yang terbaik.

Seperti peryataan dari salahsatu Ketua DPD Partai NasDem Kabupaten Indramayu, Husen Ibrahim, yang dialamatkan kepada Bupati Indramayu.

Husen Ibrahim menyebut Nina diibaratkan kacang yang lupa kulit karena tidak sejalan dengan perjuangan NasDem sebagai partai pengusung kemenangan Nina Agustina.

Menanggapi peryataan Husen Ibrahim, pengamat politik dan juga tokoh pendidikan Kabupaten Indramayu, Hadi Santoso,MM. hal tersebut engga usah ditanggapi secara serius.

Biasalah pernyataan sebagai pemanasan mesin politik menjelang tahun politik 2023 menuju Pilkada 2024 mendatang.

Pada fase ini, kata dia, sejumlah tokoh dari berbagai latar belakang, akan berebut panggung politik.

“Biasalah, menjelang tahun politik akan banyak tokoh yang jual tampang, promosi dagangan dengan cara menjelekan dagangan pesaingnya,” kata Hadi, Rabu, 6 Juli 2022.

Hadi memaparkan, pernyataan saling serang, bahkan ke wilayah privasi, menjad tontonan yang sejatinya tidak bermutu. Ia menyebut, pernyataan menjatuhkan para elit politik saat ini diibaratkan stand up comedy.

“Anggap saja pelawak sedang melucu, direspon dengan tertawa jangan dengan amarah. Toh kalau saya sebut, yang disampaikan itu kosong, ya seperti kacang tanpa isi,” tukas Hadi.

Pada bagian lain, pemimpin daerah saat ini, tidak hanya Nina Agustina, tengah mengalami situasi yang berat. Roda pemerintahan dari pusat hingga ke daerah terkena badai besar yang disebut dengan pandemi Covid-19.

Siapapun bupatinya, kata dia, saat ini mengemban beban yang sangat berat untuk memulihkan kondisi ekonomi dan sosial yang morat-marit akibat pandemi.

“Kalau mau menyampaikan kritik, sampaikan kritik yang konstruktif dan solutif. Rakyat sekarang sudah cerdas, mana kritik yang membangun dan mana kritik yang didasari kebencian,” tandas Hadi.

Baca jugaPKSPD: SOP Lapas Kelas IIB Indramayu Mengapa Menjadi Multi Tafsir?

Intinya, imbuh dia, rakyat akan memilih tokoh yg punya integritas. Integritas yang dimaksud, kata dia, artinya idealisme dan prilaku harus selaras.

“Rakyat tidak akan memilih penjual kacang, yang menawarkan kacang yang berkualitas, tapi pas dibuka oleh pembeli di dalamnya tidak ada kacangnya, alias tak ada isinya,” pungkas dia. (Iman Santoso, ST

  • Bagikan

Comment