Jakarta, tanganrakyat.id – Penyelenggaraan ibadah haji tahun ini membawa perubahan signifikan dalam penempatan jemaah di Makkah. Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi menerapkan sistem penempatan berbasis Syarikah, bukan lagi berdasarkan kelompok terbang (kloter).
Langkah strategis ini ditegaskan oleh Ketua PPIH Arab Saudi, Muchlis M Hanafi, sebagai upaya krusial untuk mengoptimalkan mobilisasi dan layanan jemaah saat puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Delapan Syarikah telah ditunjuk untuk melayani jemaah haji Indonesia tahun ini, dengan jumlah jemaah yang bervariasi di bawah tanggung jawab masing-masing. Tujuan utama dari penempatan berbasis Syarikah ini adalah untuk mempermudah pengendalian, memperjelas koordinasi di lapangan, serta memastikan seluruh jemaah haji Indonesia mendapatkan layanan yang optimal dan terstruktur dengan baik.
“Penempatan jemaah berbasis Syarikah di Makkah pada tahun ini sangat urgen dan penting untuk menyukseskan layanan jemaah saat puncak haji di Armuzna. Sistem ini mempertimbangkan secara matang proses pergerakan dan layanan kepada jemaah selama di Armuzna,” ungkap Muchlis M Hanafi di Madinah, Kamis (15/5).
Meskipun penempatan di Makkah berbasis Syarikah, pemberangkatan jemaah dari Indonesia tetap dibagi dalam dua gelombang. Gelombang pertama mendarat di Madinah, di mana penempatan jemaah masih menggunakan sistem kloter. Namun, perpindahan jemaah dari Madinah ke Makkah akan dikelompokkan berdasarkan Syarikah. Menariknya, saat kembali ke tanah air, jemaah akan dikembalikan ke kloter awal keberangkatan mereka.
Bagi jemaah gelombang kedua yang mendarat di Jeddah, mereka akan langsung diberangkatkan ke Makkah menggunakan bus yang telah diatur berdasarkan Syarikah, sesuai dengan penempatan hotel mereka.
“Layanan di Makkah yang berbasis Syarikah ini sejalan dengan alur pergerakan jemaah dari Makkah menuju Arafah, Muzdalifah, dan Mina, serta layanan di dalamnya. Pengelompokkan ini menjadi esensial demi kelancaran pelaksanaan puncak haji di Armuzna,” jelas Muchlis M Hanafi.
Mitigasi Dampak Pemisahan Keluarga
Penerapan sistem Syarikah ini tak terhindarkan dari potensi dampak pemisahan antara pasangan suami istri, orang tua dan anak, serta pendamping dengan lansia dan disabilitas karena perbedaan Syarikah. Menyadari hal ini, Muchlis M Hanafi memastikan bahwa PPIH terus berupaya melakukan mitigasi untuk meminimalisir implikasi tersebut.
“Kami melakukan identifikasi berbasis data terkait jemaah yang berpotensi terdampak. Secara umum, jemaah yang berangkat bersama pasangannya, anak dan orang tua, atau pendamping dengan disabilitas, kami usahakan untuk tetap bersama, baik di Madinah maupun Makkah,” terangnya.
Meski demikian, Muchlis mengakui adanya kasus pemisahan dan pihaknya terus mencari solusi terbaik, termasuk berkoordinasi dengan pihak Arab Saudi. Ia menegaskan bahwa seluruh jemaah, termasuk yang terpisah, akan tetap mendapatkan layanan sesuai hak mereka.
Hingga saat ini, tercatat 92.437 jemaah telah tiba di Madinah dalam 235 kloter, dan 25.547 jemaah dari 65 kloter telah bergerak ke Makkah. PPIH juga telah mendistribusikan lebih dari 2 juta boks katering, baik di Madinah maupun Makkah, yang disajikan untuk dinikmati bersama oleh seluruh jemaah.
Akselerasi Distribusi Kartu Nusuk
Selain penempatan berbasis Syarikah, PPIH bersama pihak Syarikah juga tengah mengakselerasi distribusi kartu Nusuk. Kartu ini dianggap krusial sebagai “paspor perhajian” yang dibutuhkan dalam setiap tahapan ibadah haji.
“Kami telah membahas masalah akselerasi distribusi kartu Nusuk dengan Kementerian Haji dan Umrah Saudi serta pihak Syarikah. Meskipun 92.437 jemaah telah tiba, masih ada kartu Nusuk yang belum tersalurkan,” ujar Muchlis M Hanafi.
Hasil rapat menghasilkan kesepakatan bahwa tim Syarikah dan petugas PPIH akan bersinergi untuk mempercepat pembagian kartu Nusuk kepada jemaah yang belum menerimanya. Upaya akselerasi yang telah dilakukan dalam beberapa hari terakhir menunjukkan hasil positif dengan peningkatan jumlah jemaah yang telah menerima dan mengaktivasi kartu Nusuk.
“Jemaah yang tiba di Makkah namun belum memiliki kartu Nusuk tetap dapat melaksanakan umrah wajib dengan pendampingan dari pihak Syarikah,” imbuhnya.
Baca juga:
BDI Pertamina Balongan beri pembekalan Calon Jamaah Haji
Pemerintah Arab Saudi memberikan perhatian besar kepada jemaah haji Indonesia sebagai yang terbesar jumlahnya. Sinergi antara Indonesia dan Saudi menjadi kunci suksesnya penyelenggaraan haji, dan hal inilah yang mendasari upaya bersama untuk mencari solusi atas berbagai persoalan di lapangan.
“Kami tidak lagi mencari siapa yang salah, tetapi bagaimana mencari solusi bagi persoalan yang muncul di lapangan,” pungkas Muchlis M Hanafi, menunjukkan komitmen PPIH untuk memberikan pelayanan terbaik bagi seluruh jemaah haji Indonesia.













Comment