Misteri Asap Beracun Gunung Pongkor: Antara Level 700 dan Dugaan Ratusan Nyawa Melayang

  • Bagikan
Bupati Bogor Rudy Susmanto saat memberikan keterangan kepada awak media (Foto: Istimewa)

​Bogor, tanganrakyat.id – Insiden munculnya asap beracun di area tambang emas PT Aneka Tambang (Antam) Gunung Pongkor pada Selasa (13/1) memicu polemik panas akibat simpang siurnya jumlah korban jiwa.

Sementara Bupati Bogor, Rudy Susmanto, dan pihak Antam membantah keras isu 700 korban tewas dengan berdalih bahwa angka “700” merujuk pada nama lubang (Portal L.700) dan bukan jumlah nyawa, kecurigaan publik justru kian menguat.

Antam mengklaim asap berasal dari kayu penyangga yang terbakar di Level 600, namun mereka memastikan tidak ada aktivitas penambangan maupun korban saat kejadian berlangsung.

​Di sisi lain, Ketua Umum Formapera, Haji Teuku Yudhistira, mencium adanya aroma extra ordinary crime di balik tabir asap tersebut. Selasa (20/1/2026). Melalui saluran Elektronik.

Ia menduga kuat adanya praktik “jual beli jam” atau setoran ilegal dari para penambang liar (gurandil) kepada oknum tertentu agar bisa beroperasi di tengah malam saat jam kerja resmi berakhir.

Baca juga:

Dorong Pengawasan Tambang yang Lebih Aman, NHM Adakan Pelatihan POP Sesuai Regulasi Nasional

Yudhis menilai pernyataan pemerintah daerah dan Antam yang terkesan terburu-buru menutup kasus ini adalah upaya untuk meminimalisir perhatian publik terhadap potensi adanya korban jiwa yang masih terjebak di dalam lubang.

​Ketegangan ini memicu desakan agar pihak kepolisian segera mengambil alih penyelidikan guna mengungkap fakta yang sebenarnya di balik aktivitas tambang bawah tanah tersebut.

Transparansi kini menjadi harga mati, mengingat adanya indikasi keterlibatan aktor-aktor tertentu dalam praktik tambang ilegal yang menembus kawasan konsesi Antam. Publik kini menanti keberanian pihak berwenang untuk mengusut tuntas apakah insiden ini murni kecelakaan teknis ataukah tragedi kemanusiaan yang sengaja disembunyikan.

Penulis: Kang Prabu
  • Bagikan

Comment