Indramayu, tanganrakyat.id – Gelombang amarah rakyat tak terbendung lagi setelah ratusan massa yang tergabung dalam Aliansi Topi Jerami (ATJ) mengepung tiga titik vital di Bumi Wiralodra, yakni Kejaksaan Negeri, Gedung DPRD, hingga Pendopo Kabupaten Indramayu pada Kamis, 7 Mei 2026 lalu.
Aksi unjuk rasa kaum muda ini berlangsung panas dan berujung ricuh hebat ketika massa yang kecewa nekat melepaskan serta melemparkan puluhan ular hidup ke halaman Pendopo. Kericuhan dipicu oleh sikap Bupati Indramayu, Lucky Hakim, yang dinilai pengecut karena enggan keluar menemui rakyatnya untuk mempertanggungjawabkan borok pemerintahan yang kian membusuk.
Massa membongkar habis dugaan skandal megakorupsi gila-gilaan senilai Rp39 miliar dalam pengadaan pipa dan bahan kimia di PDAM Indramayu tahun 2025, ditambah aliran dana gaib black transfer sebesar Rp2 miliar yang menguap tanpa kejelasan. Koordinator Lapangan ATJ, Rahmat, dengan berapi-api menuding kepemimpinan Bupati Lucky Hakim hanyalah topeng pencitraan kosong yang membiarkan gurita masalah menghancurkan Indramayu, mulai dari bobroknya pelayanan air bersih hingga dugaan gratifikasi jual-beli jabatan dan pengondisian proyek APBD oleh “bandar proyek” di lingkaran dalam kekuasaan. ATJ menegaskan tuntutan tunggal mereka: reformasi total dan mendesak sang Bupati segera mundur dari jabatannya!

Kehancuran Indramayu kian lengkap setelah bobroknya tata kelola keuangan ini ternyata merembet ke mentalitas birokrasinya yang dinilai “masuk angin”. Berdasarkan informasi internal pada Selasa (19/5/2026), manajemen PDAM terbukti mandul dan ketakutan menghadapi pegawai nakal berinisial EH yang hobi bolos namun dibiarkan melenggang bebas tanpa sanksi.
Baca juga:
Menanggapi skandal moral ini, Ketua IWO Indramayu, Kang Supardi, mengecam keras sikap lembek manajemen dan menuntut oknum tersebut segera didemosi. Bobroknya pengelolaan SDM dan anggaran ini menjadi bukti nyata bahwa pemerintahan saat ini telah gagal total dan hanya memelihara parasit yang merugikan rakyat.













Comment