oleh

Negara Dan Kantong Kresek Plastik, Peradaban Kambing Hitam

-Daerah, Opini-203 views

Tanganrakyat.id, Indramayu-Paradaban kantong kresek plastik dahulunya tidak dikenal oleh masyarakat akar rumput. Dengan adanya teknologi yang mengemas hidup serba instan dan praktis, maka kemudian peradaban kantong kresek plasik tersebut diperkenalkan oleh kalangan elitis atau ekonomi papan atas dalam berbagai kebutuhan belanja seperti di Super Market (Toserba), Mall dan Mini Market dan seterusnya.

Cara hidup hedonis serba instan dengan kelengkapan kantong kresek plastik merembes dan menggusur peradaban masyarakat bawah yang semula masih menggunakan kantong-kantong (wadah belanja atau bawaan barang) yang berbahan alami seperti dari rotan, sejenis rumputan (welingi), kulit-kulitan pohon dan hewan dan seterusnya yang amat mudah hancur dan mudah rusak, yang kini masih bisa kita lihat sekalipun sudah amat langka di pasar-pasar tradisional orang-orang udik pedalaman (desa yang tertinggal). Paradaban masyarakat desa kemudian tergusur oleh peradaban baru yang dibawa oleh kelas ekonomi menengah ke atas.
Paradaban baru tersebut kemudian menjadi kambing hitam yang tak berujungpangkal, yang menggelinding terus menerus dalam banyak hal.

Bukanlah mana ujung dan mana pangkalnya. Keduanya tidak tarik menarik dan tidak ditariknya, tetapi yang lebih mengemuka adalah akhirannya yang kemudian dianggap menjadi ancaman serius semata.

Kini sudah tak ada lagi jarak kaum ekonomi papan atas dengan kelas bawah. Kantong kresek plastik sudah menjadi kebutuhan pokok sehari-hari untuk keperluan belanja dan bawaan. Mulai dari Supermarket, Mall, Mini Market, Toko, Warung hingga pedagang lemprakan dan pedagang engklekan (pedangan kecil yang menelusuri lorong atau gang-gang baik di kota maupun di desa) serta masayarakat itu sendiri sudah sangat familiar dengan kantong kresek plastik tersebut.

Kemudian kantong kresek plastik tersebut dirilis oleh Kementrian Lingkungan Hidup membanjiri laut yang kemudian menelurkan kebijakan Pemerintah “berbayar” kantong kresek plastik.

Disadari atau tidak, bahwa kantong kresek plastik menghiasai kehidupan sehari-hari kita dalam berbelanja atau sebagai wadah bawaan kebutuhan sehari-hari, bahkan menjadi panorama sehari-hari di manapun kita adanya. Hal inilah yang seharusnya ditarik problematika delematisnya dari sebab akibat keberadaan kantong kresek plastic tersebut. Karena, jika tidak, kebijakan pemberlakuan “berbayar” kantong kresek plastik ketika kita berbelanja, hanya akan berumah di atas angin dan tak ayal lagi dan bahkan tak akan terbantahkan lagi akan menjadi naïf jika kebijakan tersebut bisa mengatasi persoalam yang digemborkan sebagai sumber ancaman terhadap lingkungan hidup.

Ujung-ujungnya yang sampai ke hilir hanya menarik uang atau berbayar yang mengatasnamakan Negara yang terancam dengan keberadaan kantong kresek plastik yang menghiasi laut. Peradaban kambing hitam memang nyaman dipelihara, karena banyak pihak yang diuntungkan karenanya. Setingi-tingginya burung terbang akan hinggap juga. Akhirnya kita akan tahu apa yang sesungguhnya.

Menciptakan Tradisi Korupsi Baru
Kebijakan berbayar kantong kresek plastik yang kini telah diberlakukan, ternyata juga meng-awang-awang. Tidak jelas juntrungannya. Karena, apakah pemberlakuan berbayar tersebut berlaku untuk semua pedangan atau pembeli atau pengguna kantong kresek plastik? Ternyata tak jelas juga. Supermarket (Toserba) memang telah memberlakukannya, tetapi di luar itu, yang berhamparan para pedagang dan pengguna kantong kresek plastik terabaikan dan mengabaikannya, padahal jumlahnya jauh lebih besar. Di sinilah terlihat, bahwa kebijakan berbayar kantong kresek plastik tersebut sesungguhnya baru pada tahap arena idea sang Pejabat Baru yang mungkin malu jika akan dianggap atau dikatakan tidak kreatif atau miskin gagasan atau cuma duduk manis.
Kerbijakan berbayar kantong kresek plastik tersebut, seharusnya bisa dan atau ada penjelasan terhadap persoalan dan pertanyaan yang dikemukakan di muka, sehingga kebijakan tersebut tidak lagi menciptakan tradisi dan budaya korupsi baru di negeri ini.

Jika Negara ini ingin baik, seharusnya Pemerintah jangan sekali-kali atau jangan coba-coba mengeluarkan kebijakan (publik) dalam bentuk apapun yang hanya berpontensi besar dan terbuka menciptakan tardisi atau budaya korupsi baru bagi pelaksana dan atau aparatus negaranya atau juga bagi masyarakat itu sendiri.

Sebab, diakui atau tidak, disadari atau tidak, Negara telah gagal dalam melakukan pemberantasan terhadap (tindak pidana) korupsi dan pencegahan korupsi sekalipun kini telah ada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK, asyik dengan operasi tangkap tangannya), Kejaksaan dan Kepolisian (bergema lari di tempat), Kehakiman (benang kusut mafia peradilan itu nyata tapi tiada) dan juga Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan dan Badan Pemeriksaa Keuangan [(BPKP dan BPK, hampir tak pernah membongkar kasus korupsi kecuali masyarakat/publi itu sendiri)] di negeri ini, karena terbantahkan atau tidak, output kurvanya berbanding terbalik dengan fakta laporan dan atau pengaduan masyarakat (publik) mengenai adanya korupsi, yang mana problem dasarnya tercerabut dari akar masalahnya, yakni mentalitas, psikotest tak mampu memisahbataskan, memetakan dan atau menyentuh lorong-lorong gelap mentalitas (sang calon) Aparatus Negara atau Pejabat Publik yang akan diserahi beban atas tanggung jawab Negara yang melakat di pundaknya.

Waktu yang akan bicara, dan jika kebijakan tersebut seperti itu, maka sejarah akan mencatat kegagalan yang berulangkali adanya. Saya Berpikir Maka Saya Ada, kata Rene Descartes. Seharusnya memang begitu para pengambil kebijakan, bukan tercerabut dari akarnya. Saya Berpikir Karena Ketiadaan Saya, sehingga berpikirnya tidak mencerminkan dirinya sebagai Saya. Oleh karenanya, yang kerapkali menjadi gugatan dan pertanyaan adalah di manakah (keberadaan) Negara!?)

Baca juga:Negara Dan Kantong Kresek Plastik

Penulis Ushj Dialambaga, adalah Penyair, Peneliti dan selaligus Direktur PKSPD (Pusat Kajian Strategis Pembangunan Daerah), tinggal di Singaraja. Email: jurnalepkspd@gmail.com

Komentar

News Feed