oleh

Wisata Ruang Angkasa, Orkestrasi Inovasi dan Ide Prokreasi

Tanganrakyat.id, Bandung-Memiliki kesempatan dan kemampuan untuk menjelajahi alam semesta tentu menjadi impian insani untuk bisa lebih mentafakuri dan mentadaburi kebesaran Allah sang pencipta semesta alam. Sekaligus merontokan kepongahan dan kesombongan yang kita miliki di dunia ini, yang tak lebih dari seujung butir debu di atas hamparan sahara kegersangan dan kehausan akan ilmu pengetahuan. Semakin banyak ia belajar, maka ia akan semakin menyadari bahwa ilmu yang dimilikinya sangatlah sedikit. Berbeda dengan karakter kesombongan yang seringkali hinggap di dada manusia, dimana baru sedikit saja ia belajar tetapi mulut dan pola fikirnya sudah angkuh dan takabur.

Kita semua pada hakikat selalu dan terus didorong untuk selalu belajar dan belajar. Tidak ada jeda waktu dengan alasan apapun untuk berhenti belajar, kecuali saat sang ajal telah memisahkan kita diantara kehidupan dan kematian. Kemudian kita dipanggil menghadap rabb semesta alam untuk mempertanggungjawabkan segala amal perbuatan dan ucapan di sepanjang jalan kehidupan.

Jika kita tengadah ke atas menatap langit dengan milyaran bintang yang terhampar luas di malam hari, atau pun menjelajahi ruang angkasa di sela – sela berbagai literasi media, maka akan tampak kekaguman dan keindahan yang sangat luar biasa. Akhirnya sampailah getaran bibir ini untuk mengagungkan asma-Nya, “Tidaklah semua ini Allah ciptakan dengan sia-sia”.

Kemudian ketika menyimak tulisan DR. Tauhid yang selalu menarik untuk dicermati, serta dibumbui oleh ide – ide brilyan penuh gagasan dan tantangan. Beliau mengibaratkan bahwa ruang angkasa itu seperti sebuah taman bermain yang sedemikian sangat memikatnya. Oleh karenanya, tidaklah mengherankan jika saat ini ada ribuan talenta cerdas dari berbagaio pelosok dunia yang berlomba – loba untuk mengeksplorasinya. Lihat saja bagaimana Korolev dengan Sputnik 2- nya yang ditumpangi Laika, seekor anjing, pada 3 November 1957 mengangkasa dari Kosmodrom Baykonur di Kazakhstan (saat ini ibukotanya bernama Nur Sultan setelah sebelumnya sempat benama Astana). Laika adalah makhluk hidup pertama yang mengorbit bumi di ruang angkasa, di atas atmosfer dunia. Meskipun pada akhirnya ia meninggal setelah 5 jam mengangkasa karena suhu kapsul yang meningkat ekstrem, tetapi ia menjadi model bagi pengembangan wahana angkasa lainnya. Hingga pada 12 April 1961 dengan wahana angkasa Vostok 1, Yuri Gagarin menjadi manusia pertama yang dapat mengangkasa selama 108 menit dan mengubah peta eksplorasi angkasa.

Sampai akhirnya Profesor Neil Armstrong alumni Purdue University di bidang aeronautical engineering dengan lunar modul Apollo 11 yang dipiloti Edwin “Buzz” Aldrin pada tanggal 20 Juli 1969 mendarat di permukaan bulan. Pencapaian itu mengubah horizon “kemungkinan” yang bisa dieksplorasi oleh ilmu pengetahuan, sehingga manusia terpicu untuk terus melakukan terobosan demi terobosan multi disiplin sebagai bentuk apresiasi terhadap anugrah potensi prokreasi yang telah melekat sebagai fitrah diri.

Kemudian pada hari ini kompetisi untuk menjelajahi ruang angkasa bukan lagi sekedar mimpi, melainkan rencana yang diikuti dengan serangkaian aksi. Ada inisiatif taipan digital, Elon Musk dan Jeff Beszos dari Space X dan Amazon, juga tentu yang baru saja menghebohkan dunia adalah Richard Branson dengan Virgin Galacticnya. Mimpi perjalanan lintas angkasa Branson maujud melalui kerja keras nan cerdas dengan konsep ikhlas. Hukum alam dipelajari sedemikian rupa, sehingga dapat dipahami berbagai cara kerja didalamnya. Melintasi garis Karman (Theodore van Karman) dengan ketinggian berkisar sekitar 60 mil atau antara 90-100 km di angkasa dengan sebuah wahana yang fancy untuk edutravel tentang semesta menjadi hal yang niscaya.

Branson dan timnya tidak sekedar memperbincangkan mimpi untuk menemani santap kudapan dan menyeruput secangkir kopi, ia bereksperimentasi dan bergiat menginisiasi inovasi. Mulai dari desain sampai publikasi. Dirancanglah sebuah wahana bernama Spaceship2 atau kapal angkasa kedua dari serangkaian uji coba, dengan pesawat peluncur yang dinamainya ksatria putih atau White Knight.

Diagram teknis Kapal Angkasa Virgin Atlantic nya Richard Branson, secara umum sama dengan sistem avionik pesawat pada umumnya tetapi memiliki catudaya roket hibrida, lapisan anti panas, kapsul emergensi, dan thruster roket kecil penentu arah yang digunakan untuk mengatur pitch, trim, yaw, dan roll. Naik turun serta gerakan yaw/belok serta berguling dalam kondisi gravitasi 0.

Pada awalnya Kapal Angkasa 2 dibawa terlebih dahulu oleh kapal udara ksatria putih sampai ketinggian 50.000 kaki, lalu dilepas dan mengaktifkan roket dan terbang nyaris vertikal untuk mencapai ketinggian 360.000 kaki, lalu mulai fase masuk kembali ke atmosfer dan melayang tanpa catudaya.

Ketika memasuki atmosfera pada tahapan re-entry sistem kendali terbang tak ubahnya menyerupai flight control system pada pesawat biasa. Secara umum sistem kendali terbang atau flight control system bekerja pada 3 sumbu, yaitu lateral, vertikal, dan longitudinal. Fungsi pitch dan roll pada kapal angkasa 2 Virgin Atlantic dinamai Elevons.

Skema perjalanan kapal angkasa 2 Virgin Galaktik, dimulai dari proses dimana Spaceship 2 dibawa oleh kapal induk ksatria putih dan diluncurkan di ketinggian 50.000 kaki. Lalu setelah roket dihidupkan 6 detik kemudian laju kecepatan pesawat dengan sudut nyaris vertikal menembus kecepatan suara. Dan kecepatan tertingginya adalah 3,5 Mach dan gaya gravitasi atau Gravitational Force yang akan terjadi adalah 4G sampai pesawat memasuki ruang angkasa.

Selanjutnya di ruang angkasa terjadi kondisi gravitasi nol dengan pesawat dalam keadaan terbalik. Pada saat mulai masuk kembali ke atmosfer bumi, fungsi sayap lipat di bagian ekor akan dimulai. Rem udara dan proses stabilisasi dilakukan sebagaimana pesawat pada umumnya, dan Kapal Angkasa 2/Spaceship 2 akan melayang atau gliding sampai ke titik pendaratan.

Soal terbang ke angkasa pulang pergi sebagaimana misi ke Mars yang berhasil mengirimkan wahana jelajah Preserverance Rover untuk mempelajari permukaan Mars, bukanlah sekedar soal desain wahana. Banyak sekali ilmuwan lintas disiplin yang terlibat dalam membangun sebuah ekosistem riset yang berkesinambungan. Ada ahli matematika dan fisika dasar, ada ahli astrofisika, astronomi, metalurgi, aerodinamika, sistem propulsi, sampai informatika, elektronika, bahkan psikologi yang terlibat di dalamnya.

Roket penggerak Virgin Galactic Spaceship dirancang untuk menggunakan bahan bakar padat berbasis polimer yang disebut HTPB. Dimana HTPB atau Hydroxyl-terminated polybutadiene adalah oligomer dari butadiene dengan gugus hidroksil. HTPB dalam roket kapal angkasa Virgin Galactic digunakan bersama oksida nitrat cair sebagai pengoksidasi (bahan kimia yang membantu pembakaran bahan bakar). Desain ini, dikenal sebagai motor roket hibrida karena propelannya berada dalam fase yang berbeda-beda : padat dan cair.

Pertimbangan pemilihan bahan bakar itu tentu memperhitungkan kecepatan pembakaran untuk mencapai daya dorong roket paling optimal, juga ruang penyimpanan, dan karakter atmosfer dan ruang angkasa yang berbeda kadar oksigennya. Ada metoda pembakaran yang harus dibantu dengan zat pengoksidasi yang dalam hal ini diperankan oleh nitrogen oksida. Kapasitas ruang penyimpanan bahan bakar juga harus efisien, sehingga beda fasa mempertimbangkan itu semua.

Baca juga: Saat Kematian Menjemput Umat Manusia

Orang – orang yang mau dan mampu untuk bermimpi akan terbangun dalam suatu alam dengan ekosistem inovasi yang menjadi habitat kondusif bagi terwadahinya berbagai potensi dalam domain prokreasi. Dengan komposisi yang terkonfigurasi secara harmoni akan terlahir sebentuk orkestrasi, yang tak sekedar berhenti di wacana melainkan mampu mensinergi energi koolaborasi untuk mengeksekusi rencana menjadi aksi. Inilah generasi yang sangat dinantikan oleh bangsa ini yang sedang terus membangun untuk negeri. Ide-ide prokreasi tidak boleh terhenti hanya karena anggapan sebuah mimpi, tetapi justeru dijadikan sebuah tantangan bagi manusia-manusia multi talent yang senantiasa memiliki energi untuk terus berkolaborasi. Mereka menyadari bahwa tidak ada mahluk yang sempurna, sehingga semua terus berinovasi untuk saling melengkapi dan menyempurnakan. (Red)

Komentar

News Feed