Intelijen’ Perspektif Patologi dan Anatomi Ilmu

  • Bagikan
Dr.Ir. Dede Farhan Aulawi, S,H, M.M ,CHT. (Foto: Istimewa)

Tanganrakyat.id, Bandung – Berbicara dunia intelijen menjadi sesuatu yang sangat menarik bagi sebagian orang, meskipun bagi sebagian orang lainnya mungkin dianggap sesuatu yang ‘gelap’ dan penuh rahasia. Jika berbagai kejadian yang terjadi di banyak belahan dunia sering dikaitkan dengan operasi intelijen, lalu apa sebenarnya yang dikehendaki dan sejak kapan ada operasi intelijen ?

Terkait dengan sejarah lahirnya intelijen tentu tidak ada yang tahu pasti sejak kapannya, karena sejak zaman dahulu kala dimana planet bumi banyak dihuni oleh beragam kerajaan selalu ada unit khusus yang memiliki tugas dan fungsi yang khusus pula, terutama terkait dengan stabilitas wilayah dan keutuhan di masing – masing kekuasaan kerajaan tersebut. Ini yang dimaksud dengan ‘intelijen pasif’, yaitu aktivitas intelijen untuk menjaga keutuhan dan stabilitas wilayah / kekuasaan suatu pemerintahan.

Dalam perkembangannya, model intelijen pasif ini juga telah banyak bertransformasi menjadi semakin agresif untuk meluaskan wilayah kepentingan kerajaan. Dimana para agen intelijen beroperasi secara aktif untuk mengumpulkan berbagai informasi strategis terkait dengan kekuatan musuh atau suatu wilayah yang ingin dikuasainya. Mereka beroperasi di wilayah – wilayah luar kerajaanya dengan berbagai kepentingan, terutama untuk perluasan wilayah kekuasaan. Model operasi intelijen yang seperti ini disebut dengan ‘inteljen aktif’.

Seiring dengan perkembangan zaman dan sejarah kelahiran wilayah yang disebut suatu negara, maka lahirlah kekuatan – kekuatan pasukan militer milik negara tersebut, dan didalamnya ada pengemban fungsi khusus yang disebut dengan intelijen militer. Intelijen militer adalah suatu unit khusus yang bertugas untuk melakukan pengumpulan informasi guna membantu pimpinan (komandan) dalam mengambil suatu keputusan dari banyak variabel multi dimensi yang menggambarkan spektrum kekuatan militer. Baik internal ataupun eksternal (musuh). Personil yang melakukan tugas intelijen biasanya dipilih melalui suatu sistem dan mekanisme seleksi yang super ketat karena harus memiliki berbagai kemampuan analitis dan kecerdasan yang tinggi sebelum menerima pelatihan formal. Jadi Intelijen militer ini merupakan organ militer yang fokus dalam mengumpulkan, menganalisis, melindungi dan penyebaran informasi mengenai musuh, wilayah dan cuaca di wilayah operasi.

Jika pada 1600 SM, Papirus Edwin Smith menemukan sebuah teks medis Mesir Kuno, yang telah menggambarkan jantung, pembuluh darah, hati, limpa, ginjal, hipotalamus, rahim dan kandung kemih, serta menunjukkan bahwa pembuluh darah berasal dari jantung. Kemudian dokter Herofilos dan Erasistratos pada masa Kerajaan Ptolemaik mulai merintis pembedahan manusia untuk penelitian medis. Mereka juga melakukan viviseksi terhadap mayat para penjahat yang dihukum, yang dianggap tabu sampai Renaisans, telah memberikan kontribusi yang mengesankan pada banyak cabang anatomi, terutama pengelompokan sistem denyut nadi.

Pengetahuan Herofilos tentang tubuh manusia memberi pengetahuan penting untuk memahami otak, mata, hati, organ reproduksi, dan sistem saraf, serta mengkarakterisasi perjalanan penyakit. Sementara itu, Erasistratos secara akurat menggambarkan struktur otak, termasuk rongga dan membrannya, serta membuat perbedaan antara otak besar dan otak kecil, serta secara khusus memperhatikan studi tentang sistem peredaran darah dan saraf serta membedakan saraf sensorik dan motorik dalam tubuh manusia.

Penemuan dan kerja keras yang dilakukan oleh Herofilos dan Erasistratos dalam bidang patologi dan anatomi tubuh manusia, telah menginspirasi untuk menelaah kajian ilmu intelijen dari pendekatan patologi dan anatomi guna memudahkan setiap orang yang ingin mempelajari dan menekuni ilmu intelijen dalam perspektif pendekatan ilmu.

Patologi Intelijen merupakan salah satu cabang ilmu intelijen yang berperan penting dalam mendiagnosa musuh, terutama operasi – operasi intelijen yang dilakukan oleh musuh. Aktivitas intelijen dilaksanakan dalam berbagai tingkat dari taktik sampai strategi, selama waktu damai atau perang. Bidang Patologi Intelijen dibagi ke dalam 3 level, yaitu Level Strategic, Operational, dan Tactical. Hal ini mirip dengan patologi kesehatan yang terbagi ke dalam Patologi klinik, Patologi anatomi, dan Patologi umum. Meskipun dalam perkembangannya kemudian lahir apa yang disebut Sitopatologi, Dermatopatologi, Patologi forensik, Histopatologi, Neuropatologi, Hematopatologi, Patologi molekuler, Patologi Maksilofasial, dan lainnya.

Intelijen strategis berkaitan dengan isu-isu luas seperti ekonomi, penilaian politik, kemampuan militer dan niat negara asing (termasuk non state actor). Intelijen operasional difokuskan pada dukungan atau penolakan intelijen di tingkat operasional. Tingkat operasional berada di bawah tingkat kepemimpinan strategis dan mengacu pada desain manifestasi praktis. Secara formal didefinisikan sebagai “Kecerdasan yang diperlukan untuk merencanakan dan melakukan kampanye dan operasi besar untuk mencapai tujuan strategis. Intelijen operasional, dalam disiplin intelijen penegakan hukum, terutama berkaitan dengan mengidentifikasi, menargetkan, mendeteksi, dan mengintervensi aktivitas kriminal. Intelijen taktis difokuskan pada dukungan untuk operasi di tingkat taktis dan dilekatkan pada battlegroup. Pada tingkat taktis, diarahkan untuk memonitor spektrum ancaman saat ini dan prioritas data serta informasi yang harus dikumpulkan dan relevan dengan keadaan terkini.

Sementara disiplin ilmu anatomi secara garis besar dibagi menjadi anatomi makroskopis dan mikroskopis. Anatomi makroskopis, atau anatomi kasar, adalah pemeriksaan bagian-bagian tubuh menggunakan penglihatan tanpa bantuan alat. Sementara, anatomi mikroskopis melibatkan penggunaan instrumen optik untuk mempelajari jaringan, yang dikenal sebagai histologi. Metode-metode yang digunakan telah meningkat dengan drastis, dari pemeriksaan hewan dengan pembedahan kadaver dan karkas hingga teknik pencitraan medis yang dikembangkan pada abad ke-20, seperti sinar-X, ultrasonografi, dan pencitraan resonansi magnetik.

Kemudian terkait dengan anatomi intelijen, biasanya dikaitkan dengan proses atau tahapan dalam kegiatan intelijen yang mana secara umum meliputi kegiatan pengumpulan, analisis, pemrosesan, dan penyebaran. Kalau di Inggris, ini dikenal sebagai pengarahan, pengumpulan, pemrosesan, dan penyebaran. Sementara di AS terbagi menjadi enam tahapan, yaitu perencanaan dan arahan, pengumpulan, pemrosesan dan eksploitasi, analisis dan produksi, diseminasi dan integrasi, serta evaluasi dan umpan balik.

Itulah sedikit gambaran mengenal ilmu Patologi dan Anatomi Intelijen untuk membantu dalam memahami disiplin ilmu intelijen secara lebih sederhana. Uraian ini tentu masih sangat jauh dari lengkap karena keterbatasan media, waktu dan tenaga. Tetapi paling tidak sudah sedikit memberikan gambaran tentang ruang lingkup ilmu dan tahapan prosesnya. Semua ini akan lebih mudah dipahami saat dijelaskan langsung dalam pertemuaan tatap muka (offline).

Referensi :
– N.J.E. Austin and N.B. Rankov, Exploratio: Military and Political Intelligence in the Roman World From the Second Punic War to the Battle of Adrianople. London: Routledge, 1995.
– Francis Dvornik, Origins of Intelligence Services. New Brunswick, NJ: Rutgers University Press, 1974.
– Richard A. Gabriel and Karen S. Metz, From Summer to Rome; The Military Capabilities of Ancient Armies. New York: Greenwood Press, 1991.
– Charles H. Harris & Louis R. Sadler. The Border and the Revolution: Clandestine Activities of the Mexican Revolution 1910-1920. HighLonesome Books, 1988.
– Nathan Miller. Spying for America: The Hidden History of U.S. Intelligence. Dell Publishing, 1989.
– Ian Sayer & Douglas Botting. America’s Secret Army, The Untold Story of the Counter Intelligence Corps. Franklin Watts Publishers, 1989. (Red)

  • Bagikan

Comment