Tentang Buku “Inong Balee 1599: Laksamana Keumalahayati” (“Menampar” Pria)

  • Bagikan
Dr. Ichsanuddin Noorsy (Dok. pribadi)

Tanganrakyat.id, Jakarta – Sejarah adalah untaian waktu, peristiwa dan pelaku pada ruang tertentu. Waktu, pelaku, dan ruangnya dapat berbeda, namun nilai atas suatu peristiwa sangat mungkin sama. Itulah yang terjadi pada saat Eropa menancapkan kuku imperialismenya melalui perjanjian Tordesillas 7 Juni 1494 dan Saragosa 22 April 1529.

Penjelajahan dan penguasaan belahan Barat dunia dikendalikan oleh Spanyol, di belahan Timur dikuasai Portugis. Karena perjanjian Tordesillas ini, pembelahan itu membuat mereka nyaris bertempur. Padahal tujuan mereka sama: Glory (mendominasi karena kejayaan), Gospel (penyebaran ajaran Katolik dan Kristen), dan Gold (mengeksplorasi dan menghimpun kekayaan melalui emas).
Konflik dua negara ini terselesaikan melalui perjanjian Saragosa. Spanyol pun meninggalkan Maluku dan menguasai perdagangan di Filipina. Intinya, selalu saja ada pihak-pihak yang ingin mendominasi wilayah dan pihak lain dengan kekuatan yang mereka miliki. Perdamaian, kesetaraan, keadilan, dan stabilitas adalah banyolan tuna rungu, hingga kini.
Portugis yang menguasai Maluku kembali menjelajah. Sebelumnya mereka tahu tentang pentingnya Selat Malaka yang merupakan jalur distribusi perdagangan dunia. Menguasai Selat Malaka sama dengan menguasai jejaring perdagangan dunia dari Timur ke Barat dan sebaliknya.
Tentu Portugis sangat berhasrat menguasainya. Perilaku serakah sebagai wujud nyata imperialisme memacu dan memicu Portugis mendatangi Aceh. Basa-basinya adalah perdagangan, niat aslinya menundukkan.

Saat yang sama, Aceh terdiri dari berbagai kesultanan. Menyatukan berbagai kesultanan Aceh merupakan perjuangan tersendiri. Hasil perjuangan inilah yang menjadi cikal bakal perlawanan terhadap upaya penundukkan oleh Portugis, Inggris, dan Belanda.

Imperialisme memang sexy, lebih sexy lagi hamparan nusantara. Jiwa dan semangat imperialisme selalu ingin menunjukkan kemampuannya menindas, membodohi, memiskinkan, mendzalimi, dan menghinakan.
Karena dunia selalu terjaga dengan hukum keseimbangan bejana berhubungan, bergerak dalam kesamaan tekanan atas-bawah, kiri-kanan, dan depan-belakang, juga dinamis dengan posisi tolak-menolak atau tarik menarik karena kesamaan atau perbedaan kutub sikap dan padangan hidup, maka imperialisme pasti menghadapi lawan, dan mempunyai kawan.

Laksamana Keumalahayati telah menjadi teladan. Imperialisme Eropa ke Aceh terganjal oleh perlawanan Kesultanan Aceh melalui dirinya sebagai panglima perang. Tragisnya, perlawanan imperialisme itu dipimpin oleh seorang perempuan bernama Keumalahayati yang lahir pada 1 Januari 1550. Hasilnya, menang.
Namun untuk mencapai kemenangan, buku “Inong Balee 1599: Laksamana Keumalahayati” menguras rasa, pemikiran dan daya pandang. Rasa terkuras, karena seorang perempuan yang didukung oleh para pejuang perempuan mampu menihilkan feminisme dan mengenyampingkan gender serta memenjarakan keangkuhan pria.

Keumalahayati tampil pada abad 16 sebagai perempuan yang perkasa, melampui kedigdayaan pria sebangsanya dan pria pejuang dari Belanda, Inggris dan Portugis.
Menyita pemikiran, karena Keumalahayati mampu membaca keadaan, memahami lima bahasa, sekaligus menjaga harga dirinya di saat dia harus membangun strategi bertahan dan melawan.

Tanpa harus hanyut dengan melankolis cintanya, daya pandangnya adalah tentang perjalanan waktu ke depan bagi anak cucu bangsa yang wajib memiliki harkat martabat manusia setinggi-tingginya. Maka, cerita kemenangan pertempurannya satu lawan satu melawan Cornelis de Houtman adalah guratan tinta platina yang mempermalukan watak imperialisme Barat. Kemenangannya melawan Alfonso dari Portugis adalah puncak kedigdayaannya. Itu tak membuat Keumalahayati mabuk sanjungan dan pujian.

Dia menolak menjadi pribadi yang hanya memikirkan dirinya. Dia menyingkirkan perilaku mengutamakan kelompoknya. Kedaulatan kesultanan adalah segalanya. Ini berarti, Keumalahayati tidak memberi ruang invasi, intervensi, infiltrasi, interferensi, dan intimidasi pihak asing terhadap bangsa dan negaranya.

Indoktrinasi pihak manapun yang menyesatkan dilawan dengan kesadaran tinggi bahwa masa depan anak bangsa yang cerah dan adil Makmur adalah segalanya. Jiwa dan harta disumbangkan demi masa depan itu. Pedang dan rencongnya menjadi saksi bahwa pemiliknya tak pernah sekalipun menjadi penghianat.

Sahabat-sahabatnya adalah saksi bagi kesetiaan dan kecintaannya pada bangsa dan negara. Kematiannya tetap menghamparkan ketangguhan, keteguhan dan keteduhannya dalam berjuang. Tinggal siapa yang hendak menapakinya.

Dari cinta dan ketulusan perempuan yang wafat pada 30 Juni 1615 itu, semangat dan daya juangnya mengalahkan kaum pria era kini. Eropa menolak mengakuinya sebagai perempuan dengan kedigdayaan super prima.

Baca juga :

Politik yang Menyatukan dan Pemilu yang Menggembirakan Oleh Imaam Yakhsyallah Mansur

 

Pada 2017 lalu Keumalahayati mendapat gelar pahlawan. Namanya disematkan sebagai pengganti nama jalan Inspeksi Kalimalang sebelah Utara, Jakarta Timur. Sayangnya, banyak perempuan Indonesia yang kurang mengetahui kepahlawanan yang disertai dengan ketulusannya.

Justru dengan ketulusan itu Keumalahayati samasekali tidak berburu tahta atau harta dan miskin menggelar auratnya. Hatinya menangis melihat rakyat yang miskin atau kehilangan kepala rumah tangga karena gugur dalam perjuangan melawan imperialisme.

Dengan ketulusan itu pula, melankolis cintanya sirna ditelan daya juang menegakkan keadilan melawan kedzaliman. Betapa Keumalahayati telah menjadi contoh bahwa harta dan jiwanya telah diinvestasikan untuk kebenaran dan kebaikan. Dia telah menjadi pembela bagi nilai-nilai kemanusiaan merujuk sikap pandangan hidup Islam. Bukan untuk kekayaan dan kekuasaan yang semu.

Tapak sejarah Keumalahayati menceritakan semua itu. Layak dibaca, sambil menangkap diksi dan narasi yang terungkap serta sikapnya yang konsisten. Semangat dan kejuangan Keumalahayati mampu menjadi cermin bagi siapa saja yang mewakafkan dirinya untuk kepentingan harkat dan martabat manusia.

Buku “Inong Balee 1599: Laksamana Keumalahayati” ini menjawab kekosongan kepahlawanan era kini dan “menampar” para pria yang berkuasa di era VUCA (volatile, uncertain, complex, ambigue).

Ichsanuddin Noorsy adalah Penasehat Forum Akademisi Indonesia (FAI)

Editor: Yuli
  • Bagikan

Comment