Yogyakarta, tanganrakyat.id – Tujuh tahun setelah letusan dahsyat Gunung Merapi pada 26 Oktober 2010 yang menyelimuti Yogyakarta dalam debu, semangat sejumlah pahlawan kemanusiaan yang gugur tetap menyala. Salah satunya adalah almarhum Tutur Priyanto, relawan PMI Bantul yang kisahnya terus menjadi motivasi abadi bagi para pegiat kemanusiaan.
Dalam peringatan tujuh tahun erupsi, para relawan dari berbagai komunitas melakukan ziarah ke pusara Tutur, yang gugur bersama Juru Kunci Merapi, Mbah Marijan, dan redaktur Vivanews.com, Yuniawan Nugroho.
Ketua Umum KRI (Komunitas Relawan Independen), Mario, menceritakan sosok Tutur sebagai pemimpin dan relawan yang “menembus batas.”
”Almarhum ini menembus batas, sebelum ada instruksi sudah berangkat karena penanganan kebencanaan butuh respons cepat,” kata Mario, Senen, 27 Oktober 2025.
Lebih mengharukan, Tutur yang juga menjabat Komandan Banser Kecamatan Kasihan kala itu, tak segan mengeluarkan biaya pribadinya untuk menanggung operasionalnya dan beberapa relawan lain. Prinsip hidupnya yang religius dan selalu mendahulukan orang lain di atas kebutuhan diri sendiri membentuk sosok besar Tutur Priyanto.

Semangat kerelawanannya bukan barang baru. Jauh sebelum Merapi, Tutur merupakan Koordinator Klinik Rehabilitasi Medik Gempa Bantul tahun 2006. Di sana, kedekatan dan perhatian yang tulus ia berikan berhasil memperbaiki kondisi para korban gempa yang sempat putus asa akibat menderita cacat permanen.
Baca juga:
Program pemulihan tersebut sukses berkat totalitas Tutur. Bahkan hingga kini, mobil peninggalannya masih digunakan oleh rekan-rekan relawan sebagai armada tanggap bencana, melanjutkan semangat perjuangan almarhum di setiap lokasi musibah. Tutur Priyanto, yang lahir pada 22 Juni 1974, dikenang sebagai simbol pengorbanan tanpa pamrih yang menjadi cahaya penerang bagi setiap langkah perjuangan kemanusiaan.













Comment