Indramayu, tanganrakyat.id – Kabupaten Indramayu tidak hanya termasyhur sebagai Kota Mangga, tetapi juga menyimpan pusaka sejarah religi yang mendalam. Salah satu sosok sentral dalam penyebaran Islam di wilayah ini adalah Kyai Syakir, seorang waliyullah abad ke-17 yang jejak dakwahnya masih berdiri kokoh hingga kini di kawasan Wotgalih, Desa Singajaya.
Kyai Syakir lahir pada tahun 1676 sebagai putra kedua dari ulama kharismatik asal Aceh, Kyai Sama’un, dan Nyai Nurilah, putri Ki Gede Dadap. Mewarisi garis keturunan pejuang, ayahnya dikenal lewat kisah legendaris mengarungi lautan menuju Pantai Dadap hanya dengan sebuah kotak kayu yang terapung.

Peran krusial Kyai Syakir dimulai saat ia melakukan aksi babad alas atau membuka lahan pemukiman di wilayah Wotgalih sekitar tahun 1760 Masehi. Di tanah inilah, ia membangun pondasi dakwah dengan mendirikan pondok pesantren sebagai pusat penyebaran agama Islam di masanya.
Baca juga:
Khaerul Anam Raih Kemenangan Telak! Kuwu Desa Singajaya Terpilih Periode 2026-2033
Dalam menyebarkan ajaran Islam, Kyai Syakir menggunakan strategi dakwah yang unik dan moderat. Beliau mengintegrasikan nilai-nilai agama dengan kearifan budaya lokal, sebuah pendekatan yang membuat Islam mudah diterima oleh masyarakat luas di Bumi Wiralodra tanpa menimbulkan gejolak sosial.
Keberhasilan dakwahnya terbukti dengan lahirnya tokoh-tokoh ulama besar dari garis keturunan maupun santrinya. Nama-nama besar seperti KH Siradj dari Pesantren Gedongan Cirebon hingga KH Makhrus Ali dari Lirboyo merupakan bagian dari pengaruh besar sanad keilmuan yang berpangkal pada didikan sang Kyai.

Sebagai warisan fisik yang masih lestari, Masjid Kyai Syakir di Jalan Plaju Raya Wotgali kini menjadi simbol cagar budaya spiritual. Masjid tertua di Desa Singajaya ini masih aktif digunakan, terutama setiap malam Jumat di mana jamaah berbondong-bondong datang untuk berzikir bersama.
Baca juga:
Semaan Al-Qur’an Tiap Jumat, Cara MTsN 2 Indramayu Sirami Rohani dan Pererat Silaturahmi
Menurut penuturan salah satu ahli warisnya, Ustadz Asnawi, M.Pd.I., pada Jumat Kliwon (8/5/2026) siang, meskipun Kyai Syakir tidak memiliki keturunan langsung, beliau mengasuh keponakannya dengan penuh kasih. Garis perjuangannya diteruskan oleh Mbah Kyai Sambas yang kemudian mewakafkan lahan untuk pendirian MTs Negeri 2 Indramayu pada tahun 1965.

Menjaga estafet nilai tersebut, Kepala MTsN 2 Indramayu, Muhammad Kholid, S.Pd.I., M.Pd.I., rutin mengajak seluruh stakeholder sekolah untuk berziarah ke makam Kyai Syakir. Lokasi makam ini cukup unik karena berada di dalam Komplek Perumahan Bumi Patra (Komperta) Balongan.
Kegiatan ziarah istiqomah ini bertujuan untuk mengedukasi generasi muda agar tidak melupakan jasa leluhur. Di tengah arus modernisasi kawasan industri Pertamina RU VI Balongan, keberadaan makam ini menjadi pengingat akan akar sejarah religi yang tetap lestari dan tak tergusur zaman.
Ziarah ini merupakan bentuk tasyakkur binni’mah atas jasa beliau dalam membuka wilayah Dusun Wotgalih dan Wotbogor sekitar 290 tahun silam. Perjuangan Kyai Syakir yang wafat di usia 99 tahun telah meletakkan pondasi peradaban pendidikan dan agama yang kini dinikmati oleh warga Indramayu.
Baca juga:
Kang Supardi, Wartawan Muda Penuh Berkah
Hingga saat ini, makam Kyai Syakir terus dipadati peziarah, terutama saat peringatan haul, juga tiap malam Jum’at. Nilai-nilai keteladanan dan kegigihan beliau dalam menyebarkan kedamaian diharapkan terus hidup dalam sanubari masyarakat, selaras dengan semangat perjuangan di tanah Jawa Barat.













Comment