Indramayu, tanganrakyat.id – Pelaksanaan proyek kedinasan yang didanai negara kembali menuai sorotan tajam karena dinilai dikerjakan secara serampangan. Kali ini, proyek milik Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang berlokasi di Jalan Ir. Haji Juanda, Desa Singajaya, Kecamatan Indramayu, tepatnya di depan Perumahan Griya Ayu, menuai protes keras dari masyarakat setempat. Proyek yang digarap oleh pihak rekanan, PT Japras Bekasi, tersebut dituding berjalan sangat amburadul dan mengabaikan standar keselamatan.
Baca juga:
Jakarta Gelap Gulita, Bos PLN Malah Asyik Gowes: Publik Tuntut Darmawan Prasodjo Dicopot!
Akar kemarahan warga memuncak lantaran buruknya manajemen proyek di lapangan telah mengancam keselamatan pengguna jalan. Berdasarkan laporan di lokasi kejadian, beberapa warga Perumahan Griya Ayu nyaris menjadi korban kecelakaan akibat kondisi area proyek yang semrawut dan tidak tertata. Alih-alih mengutamakan keamanan publik, area di sekitar galian justru dibiarkan begitu saja tanpa rambu pengaman yang memadai, hingga memicu reaksi keras dan aksi protes dari warga sekitar yang merasa hak keselamatannya dirampas.
Kondisi miris ini dibenarkan oleh salah satu tokoh masyarakat setempat, Tohari. Dengan nada geram, ia mengecam keras lemahnya pengawasan terhadap proyek ini, terutama terkait penerapan Standard Operating Procedure (SOP) yang dinilai fiktif. Menurut pengamatannya, para pekerja di lapangan dibiarkan bekerja tanpa dibekali Alat Pelindung Diri (APD) resmi. Alih-alih menggunakan sepatu keselamatan standar, para buruh justru terlihat santai hanya menggunakan sandal jepit dan kaos oblong saat melakukan pekerjaan berisiko tinggi.

”Miris saya lihatnya. Sekelas proyek negara tapi cuma terkesan buat mainan di lapangan. SOP-nya tidak ada, pengawasan nol besar. Ini terkesan seperti proyek negara yang dikerjakan asal jadi demi mengejar keuntungan semata tanpa memikirkan nyawa orang lain,” cetus Tohari dengan nada kecewa saat diwawancarai pada Minggu Wage (17/5/2026) siang.
Baca juga:
Ironisnya, indikasi kelalaian ini seolah tidak dibantah oleh pihak pelaksana lapangan. Saat dikonfirmasi mengenai amburadulnya pengerjaan dan absennya alat keselamatan kerja, Warto, yang bertindak sebagai Mandor dari PT JAPRAS, hanya memberikan jawaban normatif dan terkesan menggampangkan masalah. Ia berdalih bahwa pihaknya akan segera melakukan peneguran terhadap para pekerja di lapangan. “Ntar akan disemprot dan menanggulanginya,” ujar Warto singkat tanpa rincian solusi yang jelas.
Hingga berita ini diturunkan, masyarakat mendesak pihak manajemen PLN pusat maupun aparat penegak hukum untuk segera turun tangan mengevaluasi kinerja PT Japras Bekasi. Warga menuntut agar sanksi tegas diberikan kepada kontraktor nakal yang abai terhadap aturan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), demi mencegah timbulnya korban jiwa akibat proyek yang terkesan “dikebut tanpa otak” tersebut.













Comment